Selasa, Mei 5, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Klenik, Kebodohan, dan Keberanian Berpikir

by Tabooo
Maret 2, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter
Penulis: KPA Hari Andri Winarso Wartonagoro (Komisaris PT Tabooo Network Indonesia, Founder Indonesian Center for Esoterics and Metaphysical Studies)

Tabooo.id: Talk – Indonesia adalah tanah simbol, mitos, dan warisan spiritual yang panjang. Kita lahir dari budaya yang kaya akan makna tak kasat mata. Namun di antara spiritualitas dan kebijaksanaan leluhur, ada satu wilayah gelap yang sering tak dibedakan, klenik.

Klenik bukan spiritualitas. Klenik adalah kepercayaan yang dibungkus misteri, tapi kosong dari kesadaran kritis.

Klenik hidup dari rasa takut. Ia tumbuh dari ketidaktahuan. Lebih parah lagi, klenik sering dipelihara oleh mereka yang diuntungkan dari kebodohan orang lain.

Di sinilah masalahnya: ketika mistis tidak lagi menjadi jalan pencerahan, tapi menjadi alat manipulasi.

Spiritualitas Mencerahkan, Klenik Menumpulkan

Sebagai seseorang yang lama berkecimpung dalam dunia metafisika, saya ingin menegaskan sesuatu yang mungkin terdengar kontroversial, “Metafisika adalah ilmu kesadaran. Klenik adalah bisnis ketakutan.”

Ini Belum Selesai

Fleksibilitas atau Eksploitasi Baru: Benarkah Pekerja Digital Sudah Merdeka?

Dokter Semakin Banyak, Tapi Mengapa Kesejahteraan Semakin Tipis?

Spiritualitas sejati mengajarkan tanggung jawab pribadi, kesadaran batin, dan penguatan karakter. Klenik justru mengajarkan ketergantungan: pada jimat, pada ritual instan, pada “orang pintar” yang katanya tahu segalanya.

Spiritualitas bertanya, “Apa yang bisa saya perbaiki dari diri saya?”

Klenik bertanya, “Siapa yang bisa saya salahkan atas nasib saya?”

Perbedaannya sederhana, tapi dampaknya besar.

Industri Ketakutan yang Tak Pernah Sepi

Mari kita jujur. Sudah berapa banyak orang yang:

  • Menghabiskan uang jutaan rupiah untuk “pagar gaib”?
  • Takut membuka usaha karena “weton tidak cocok”?
  • Membatalkan pernikahan karena ramalan?
  • Menganggap sakit sebagai “kiriman santet”?

Di titik ini, klenik bukan lagi sekadar budaya. Ia berubah menjadi industri. Dan industri ini hidup dari dua hal, yaitu ketidaktahuan dan ketakutan.

    Lebih ironis lagi, dalam beberapa kasus, praktik seperti ini dimanfaatkan untuk kepentingan politik, bisnis, bahkan kekuasaan. Ketika masyarakat lebih percaya bisikan gaib daripada data dan logika, demokrasi pun bisa tersandera oleh sugesti.

    Budaya atau Pembodohan?

    Sebagian orang akan berkata, “Ini warisan budaya, jangan dilawan.”

    Saya sepakat budaya harus dihormati. Tapi budaya yang sehat adalah budaya yang berevolusi. Tradisi leluhur kita sarat simbol dan filosofi. Masalahnya, banyak yang mengambil kulitnya, membuang maknanya.

    Simbol tanpa pemahaman berubah menjadi takhayul. Takhayul tanpa nalar berubah menjadi kebodohan massal. Kebodohan yang dibiarkan akan menjadi alat pembodohan.

    Kritis Bukan Berarti Anti-Spiritual

    Saya tidak sedang mengajak masyarakat menjadi materialis dingin. Saya justru mengajak kita menjadi spiritual yang cerdas. Percaya pada energi? Silakan. Meyakini dimensi batin? Itu hak setiap insan. Tapi jangan pernah berhenti berpikir.

    Metafisika yang matang selalu berjalan berdampingan dengan logika, etika, dan tanggung jawab. Jika sebuah praktik membuat Anda:

    • Takut terus-menerus,
    • Bergantung pada satu figur,
    • Kehilangan akal sehat,
    • Atau dieksploitasi secara finansial,

    Maka itu bukan pencerahan. Itu jebakan.

    Generasi Muda: Putus Rantai Ketakutan

    Generasi muda Indonesia hari ini punya akses informasi yang jauh lebih luas. Internet membuka pintu pengetahuan yang dulu tertutup.

    Pertanyaannya, apakah kita masih mau dikendalikan oleh narasi mistik yang tak pernah diuji? Atau kita memilih menjadi generasi yang menghormati tradisi, memahami simbol, tapi tetap berpikir kritis?

    Keberanian terbesar bukan melawan makhluk gaib. Keberanian terbesar adalah melawan ketidaktahuan dalam diri sendiri.

    Tabu untuk Dibongkar

    Mengkritik praktik perklenikan sering dianggap tabu. Seolah-olah mempertanyakannya berarti menghina budaya. Padahal justru sebaliknya. Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang berani menguji keyakinannya, karena keyakinan yang benar tidak pernah takut diuji.

    Kita boleh berspiritual. Kita boleh percaya pada hal yang tak terlihat. Namun jangan pernah menyerahkan akal sehat kepada siapa pun, karena ketika pikiran kita dijajah oleh ketakutan, di situlah kebodohan menemukan rumahnya. Sedangkan di negeri yang ingin maju, kebodohan bukan warisan yang pantas dipelihara. @tabooo

    Tags: mitosOpiniTalk

    Kamu Melewatkan Ini

    Unseen, Unannounced: Kita Tahu, Tapi Kita Abaikan

    Unseen, Unannounced: Kita Tahu, Tapi Kita Abaikan

    by Tabooo
    April 23, 2026

    Oleh: J.E., CEO of Tabooo Network Indonesia Tabooo.id: From the Desk of the CEO – Unseen, Unannounced. Bukan karena tidak ada yang melihat, tapi...

    Kalau Kartini Bicara Emansipasi, Kenapa Hidup Perempuan Masih Diringkas Jadi 3M?

    Kalau Kartini Bicara Emansipasi, Kenapa Hidup Perempuan Masih Diringkas Jadi 3M?

    by eko
    April 20, 2026

    Di banyak rumah, orang dulu menilai perempuan lewat tiga kata: masak, manak, macak. Sekilas terdengar sederhana, namun tiga kata itu...

    Urutan Lahir Bukan Takdir, Tapi Kenapa Kita Terus Percaya?

    Urutan Lahir Bukan Takdir, Tapi Kenapa Kita Terus Percaya?

    by dimas
    April 19, 2026

    Kepribadian manusia sering terasa mudah ditebak. Anak sulung dianggap paling bertanggung jawab, anak tengah terlihat mandiri, dan si bungsu sering...

    Next Post
    12 Tahun Prambanan Jazz: MLTR dan NIKI Satukan Tiga Generasi di Panggung

    12 Tahun Prambanan Jazz: MLTR dan NIKI Satukan Tiga Generasi di Panggung

    Pilihan Tabooo

    Buku, Diskusi, dan Anak Muda: Cara Komunitas Madiun Book Party Menghidupkan Literasi Kota

    Buku, Diskusi, dan Anak Muda: Cara Komunitas Madiun Book Party Menghidupkan Literasi Kota

    Mei 3, 2026

    Realita Hari Ini

    Jual Beli Titik Dapur MBG Mengemuka, Siapa Bermain di Program Makan Gratis?

    Jual Beli Titik Dapur MBG Mengemuka, Siapa Bermain di Program Makan Gratis?

    Mei 5, 2026

    Jurnalis di Papua Terus Diteror, Kebebasan Pers Masih Sekadar Janji?

    Mei 5, 2026

    Virus Langka Pecah di Laut: 3 Tewas, Dunia Mulai Khawatir

    Mei 5, 2026

    Saat Dunia Guncang, Barito Pacific Justru Tancap Gas 200% Lebih

    Mei 5, 2026
    tabooo.id

    © 2026 Tabooo.id

    Explore Tabooo

    • Tentang Kami
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Privacy Policy
    • Sitemap

    Stay in the Loop

    • Tabooo.id
      • Deep
      • Edge
      • Vibes
      • Talk
      • Check
      • Life
      • Figures
    • Tabooo Today
      • News
        • Global
        • Nasional
        • Regional
        • Bisnis
        • Kriminal
      • Entertainment
        • Film
        • Musik
        • Tabooo Book Club
        • Game
      • Lifestyle
        • Sports
        • Teknologi
        • Otomotif
        • Food
        • Health
        • Travel

    © 2026 Tabooo.id