Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Satu Penolakan, Satu Kematian: Jejak TNI dalam Skema Gelap Bankir

by dimas
April 7, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Di lahan kosong belakang lapangan golf Kemayoran, sebuah teriakan memecah sunyi.
“Penculik!”

Saat itu, Muhammad Ilham Pradipta tidak tinggal diam. Ia melawan, lalu berteriak, dan mencoba menarik perhatian siapa pun di sekitar lokasi.

Namun, harapan itu cepat runtuh. Tidak ada bantuan datang. Sebaliknya, para pelaku langsung membungkamnya dengan kekerasan brutal.

Ketika Uang Mengalahkan Integritas

Kasus ini tidak berdiri sendiri. Di baliknya, ada skema uang miliaran rupiah yang memicu semuanya.

Oditur Militer Kolonel CHK Andri Wijaya menegaskan bahwa Ilham menolak terlibat dalam pencairan dana ilegal dari rekening dormant. Karena itu, para pelaku menganggapnya sebagai hambatan.

Ini Belum Selesai

Canting Kuning: Ketika Batik Tulis Berjuang Melawan Zaman

Supersemar: Ketika Selembar Surat Mengubah Arah Republik

“Korban tidak kooperatif dalam skema pemindahan uang hasil kejahatan,” ujar Andri.

Awalnya, pelaku mencari pimpinan cabang lain yang bisa diajak bekerja sama. Namun, upaya itu gagal. Ilham tetap menolak. Akibatnya, mereka mengubah pendekatan.

Dari negosiasi beralih ke tekanan. Lalu, tekanan berubah menjadi kekerasan.

Rencana yang Disusun Diam-Diam

Sejak Juni 2025, para pelaku mulai merancang aksi. Mereka bertemu di sejumlah kafe mewah di Jakarta. Dalam pertemuan itu, mereka menyusun strategi secara bertahap.

Mereka mengidentifikasi target, lalu menilai potensi kerja sama, kemudian menentukan langkah lanjutan. Tetapi ketika Ilham tidak bisa dikendalikan, mereka memilih jalan ekstrem.

“Membawa pimpinan cabang secara paksa, lalu membunuh untuk menghilangkan jejak,” tambahnya.

Dengan demikian, rencana itu jelas tidak spontan. Mereka menyusunnya secara sadar dan sistematis.

Penculikan di Tengah Hujan

Pada 20 Agustus 2025, hujan deras mengguyur parkiran Lotte Mart Pasar Rebo. Di tengah kondisi itu, para pelaku bergerak cepat dan terorganisir.

Mereka menculik Ilham, memaksanya masuk ke mobil, lalu langsung membawa korban pergi. Sepanjang perjalanan, kekerasan terus terjadi.

Di dalam mobil, pelaku tidak hanya mengancam, tetapi juga memukul dan menginjak korban. Tekanan fisik dan psikologis berjalan bersamaan.

“Saksi menginjak paha dan dada korban, sementara terdakwa juga melakukan hal yang sama,” jelas Oditur.

Akibatnya, kondisi Ilham terus melemah. Meski demikian, para pelaku tidak menghentikan aksinya.

Detik-detik Terakhir Perlawanan

Sesampainya di lokasi sepi, Ilham kembali mencoba melawan. Ia berteriak keras untuk terakhir kalinya.

Sayangnya, situasi tidak berpihak padanya. Alih-alih mendapat pertolongan, para pelaku justru meningkatkan intensitas kekerasan.

Mereka memukul, lalu menendang, hingga akhirnya menjatuhkan korban dalam kondisi tak berdaya. Pada titik itu, tubuh Ilham tidak lagi mampu bertahan.

Jasad dan Jejak Kekerasan

Keesokan harinya, warga menemukan jasad Ilham di Desa Nagasari, Bekasi.

Kondisinya menunjukkan kekerasan berat. Tangan korban terikat, matanya dilakban, dan tulang iganya patah.

Fakta tersebut memperlihatkan bahwa pelaku tidak hanya ingin membungkam korban, tetapi juga berupaya menghilangkan jejak.

Saat ini, Oditur Militer menjerat para terdakwa dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana.

“Kami tidak akan merekayasa atau menutupi kasus ini,” tegas Andri.

Siapa yang Diuntungkan?

Kasus ini memunculkan pertanyaan besar. Siapa yang sebenarnya diuntungkan?

Di satu sisi, ada aparat. Di sisi lain, ada jaringan sipil. Sementara itu, uang dalam jumlah besar menjadi pusat kepentingan.

Ketika semua kepentingan bertemu, integritas sering kali tersingkir. Ilham memilih bertahan pada prinsipnya. Namun, pilihan itu justru membawanya pada risiko fatal.

Ironisnya, orang yang menjaga aturan justru menjadi korban.

Ketika Kejujuran Jadi Risiko

Peristiwa ini tidak hanya berbicara tentang satu korban. Lebih dari itu, kasus ini menunjukkan celah dalam sistem perlindungan.

Memang, proses hukum berjalan. Pelaku telah ditangkap dan kini menghadapi persidangan. Namun, pertanyaan mendasar tetap muncul.

Apakah kejujuran masih memiliki tempat aman?

Penutup: Suara yang Tidak Boleh Hilang

Teriakan “penculik” itu mungkin telah hilang. Namun, maknanya tidak boleh ikut lenyap.

Kasus ini mengingatkan bahwa keberanian sering membawa konsekuensi besar. Ilham memilih tetap jujur dan menolak kompromi.

Kini, publik dihadapkan pada satu pertanyaan penting, jika berada di posisi yang sama, apakah kita berani melakukan hal serupa? @dimas

Tags: GelapInvestigasiKeadilanKorupsi di IndonesiaKriminal & HukumNasionalPembunuhanTNI

Kamu Melewatkan Ini

Hari Keadilan Internasional: Payung Hitam Menagih Janji Negara

Hari Keadilan Internasional: Payung Hitam Menagih Janji Negara

by dimas
Juli 17, 2026

Aksi Kamisan memanfaatkan Hari Keadilan Internasional untuk kembali menagih janji negara dalam menyelesaikan pelanggaran HAM berat dan mengakhiri impunitas di...

Republik di Persimpangan Hukum dan Kekuasaan

Republik di Persimpangan Hukum dan Kekuasaan

by dimas
Juli 12, 2026

Republik diuji ketika hukum bertemu kekuasaan. Mengapa integritas penegak hukum menentukan masa depan negara hukum Indonesia? Tabooo.id - Negara hukum...

Istana Tenang, Publik Menuntut Kejelasan: Penggeledahan, TNI dan Ujian Kepercayaan

Istana Tenang, Publik Menuntut Kejelasan: Penggeledahan, TNI dan Ujian Kepercayaan

by dimas
Juli 11, 2026

Istana menyerukan penghormatan terhadap proses hukum di tengah penggeledahan 12 lokasi dan pengamanan rumah Jampidsus oleh TNI yang memicu sorotan...

Next Post
RUU Penyadapan Disorot: Lindungi Hukum atau Intip Privasi?

RUU Penyadapan Disorot: Lindungi Hukum atau Intip Privasi?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id