Selasa, April 7, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Tabooo Today
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Life

Alumnus LPDP Pulang: Rambu Asana, Mimpi yang Tidak Dijual ke Luar Negeri

April 6, 2026
in Life
A A
Pulang untuk Mengubah Nasib: Rambu dan Mimpi yang Tidak Dijual ke Luar Negeri

Rambu Asana (tengah berbaju hitam) bersama para anak-anak panti asuhan tempatnya mengabdi bersama ibunya Yang juga seorang Guru PNS. (Foto: Istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Life – Pagi di Sumba tidak selalu terasa hangat. Sering kali, matahari datang bersama kenyataan pahit anak-anak berangkat sekolah tanpa kepastian, sementara mimpi mereka pelan-pelan kehilangan arah.

Namun, di tengah lanskap itu, satu cerita menolak untuk tenggelam. Namanya Rambu Asana. Ia tidak sekadar pulang ia datang membawa alasan.

Ketika Banyak Orang Pergi, Ia Justru Kembali

Banyak orang mengejar masa depan dengan meninggalkan kampung halaman. Namun, Rambu justru mengambil jalan sebaliknya.

RelatedPosts

Yang Kita Hafal Pancasila, Tapi Lupa Intinya: Gotong Royong

AI Menyerang Programmer, Guru Justru Bertahan Dan Tak Tergantikan

Setelah menyelesaikan studi Magister Social Policy di Australia lewat beasiswa LPDP, ia langsung menentukan pilihan. Ia pulang ke Sumba.

Bukan karena tidak punya peluang di luar negeri. Justru karena ia tahu, kampung halamannya lebih membutuhkan.

“Kalau saya balik ke daerah saya, saya hidup dan besar di daerah saya, saya ngerti apa yang terjadi. Ilmu saya bukan cuma jadi uang, tapi juga jadi makna buat orang lain,” ungkap Rambu mengutip laman LPDP, Senin (06/04/2026).

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, maknanya dalam. Di saat banyak orang mengukur sukses dari jarak yang ditempuh, Rambu mengukurnya dari dampak yang ditinggalkan.

Dari Kehilangan, Lahir Ketangguhan

Sejak kecil, hidup tidak memberi Rambu kemudahan. Ia kehilangan ayah saat usianya belum genap dua tahun.

Sejak itu, ibunya mengambil dua peran sekaligus guru dan tulang punggung keluarga. Selain itu, sang ibu juga aktif sebagai relawan di panti asuhan.

“Bapak saya sudah meninggal dari berusia satu tahun sembilan bulan. Ibu saya bekerja sebagai guru sekaligus relawan di sebuah panti asuhan,” kenangnya.

Karena itu, Rambu tumbuh di lingkungan yang penuh keterbatasan. Ia melihat langsung bagaimana anak-anak hidup tanpa kepastian. Ia juga menyaksikan banyak keluarga berjuang dalam diam.

Dari situ, empatinya tidak muncul tiba-tiba. Empati itu terbentuk, hari demi hari.

Pendidikan: Antara Harapan dan Beban

Di Sumba, sekolah bukan sekadar rutinitas. Sebaliknya, pendidikan sering berubah menjadi beban ekonomi.

Banyak orangtua terpaksa meminjam uang, bahkan menggadaikan SK pekerjaan, demi biaya sekolah anak.

“Di sini itu rahasia umum bahwa orang-orang mampu menyekolahkan anaknya dengan meminjam dana, jadi menggadaikan SK kemudian meminjam dana pendidikan,” jelas Rambu.

Namun, Rambu menempuh jalan berbeda. Sejak SD hingga SMA, ia terus mengandalkan beasiswa. Ia aktif mengikuti lomba, lalu mengubah hadiah menjadi biaya pendidikan.

Sementara itu, ibunya selalu mengambil keputusan yang sama mendahulukan sekolah daripada kebutuhan lain.

Karena itu, pendidikan bagi Rambu bukan sekadar kesempatan. Pendidikan adalah hasil dari perjuangan panjang.

Dari Kelas Kecil, Lahir Gerakan Besar

Ketika pandemi datang, masalah pendidikan di Sumba semakin terlihat jelas. Banyak anak tidak bisa belajar. Bukan karena tidak mau, tetapi karena tidak punya akses.

Melihat kondisi itu, Rambu tidak menunggu bantuan datang. Sebaliknya, ia mulai bergerak.

Ia membuka kelas kecil. Ia mengajar langsung. Ia mengumpulkan anak-anak yang kesulitan belajar.

“Saya bikin empat sesi kelas. Dalam ruangan besar itu saya mengajar kurang dari 10 anak. Saya mengajarkan bahasa Inggris, IPA, dan Matematika,” ceritanya.

Awalnya sederhana. Namun, langkah itu terus berkembang. Kemudian, lahirlah Naka Education. Sekarang, komunitas itu sudah menjangkau ratusan siswa.

Timnya juga bertambah. Programnya pun meluas mulai dari bimbingan belajar hingga pelatihan digital.

Bahkan, mereka sudah bekerja sama dengan lembaga internasional. Dengan kata lain, Rambu tidak hanya mengajar. Ia membangun ekosistem harapan.

Melawan Realitas yang Dianggap Takdir

Data menunjukkan bahwa kemiskinan di Sumba Tengah masih tinggi. Namun, Rambu tidak melihat angka sebagai akhir cerita.

Sebaliknya, ia melihat peluang untuk memutus siklus.

Ia percaya pendidikan bisa membuka jalan. Memang, pendidikan tidak langsung mengubah segalanya. Namun, pendidikan memberi pilihan.

Dan pilihan, bagi banyak orang di sana, adalah kemewahan.

Tentang Arti Dikenal

Pada akhirnya, Rambu tidak mengejar kekayaan. Ia juga tidak memburu jabatan. Sebaliknya, ia memilih sesuatu yang lebih sunyi, tapi lebih bermakna.

“Saya ingin mati dikenal, bukan dikenal karena banyak uang, tapi karena pernah ada dalam perjalanan hidupnya mereka,” ujarnya.

Kalimat itu terasa sederhana. Namun, dampaknya panjang.

Penutup: Pilihan yang Tidak Mudah, Tapi Nyata

Hari ini, banyak orang bermimpi pergi sejauh mungkin. Namun, Rambu memilih kembali sedekat mungkin.

Ia tidak menunggu perubahan besar. Sebaliknya, ia memulai dari hal kecil. Ia mengajar. Ia mendengar. Ia bertahan. Dan dari sana, perubahan mulai bergerak.

Sekarang, pertanyaannya bukan lagi tentang Rambu. Tapi tentang kita. Kalau kamu punya kesempatan yang sama kamu akan pergi atau berani pulang?. @teguh

Tags: AlumnusAustraliaDigitalEmpatiguruInggrisIPALPDPMagister Social PolicyMatematikaNaka EducationPandemiPelatihanRelawanRutinitasSiklusSumba Tengah

Recommended

Becak Tua di Madiun: Bertahan atau Sekadar Menunggu Waktu?

Becak Tua di Madiun: Bertahan atau Sekadar Menunggu Waktu?

April 2, 2026
El Nino Datang Lagi: Petani Terancam Gagal Panen?

El Nino Datang Lagi: Petani Terancam Gagal Panen?

April 6, 2026

Popular News

  • Tan Malaka Tidak Kehilangan Cinta, Dia Kalah oleh Sistem

    Tan Malaka Tidak Kehilangan Cinta, Dia Kalah oleh Sistem

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kalau Syarifah Menikahi Tan Malaka, Apakah Indonesia Akan Tetap Sama?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Yang Kita Hafal Pancasila, Tapi Lupa Intinya: Gotong Royong

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kerajaan Kehilangan Tanah atau Negara “Sengaja” Mengubah Statusnya?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Yang Menarik Menang Duluan, Sisanya Harus Berjuang Lebih Keras

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.