Tabooo.id: Life – Pagi di Sumba tidak selalu terasa hangat. Sering kali, matahari datang bersama kenyataan pahit anak-anak berangkat sekolah tanpa kepastian, sementara mimpi mereka pelan-pelan kehilangan arah.
Namun, di tengah lanskap itu, satu cerita menolak untuk tenggelam. Namanya Rambu Asana. Ia tidak sekadar pulang ia datang membawa alasan.
Ketika Banyak Orang Pergi, Ia Justru Kembali
Banyak orang mengejar masa depan dengan meninggalkan kampung halaman. Namun, Rambu justru mengambil jalan sebaliknya.
Setelah menyelesaikan studi Magister Social Policy di Australia lewat beasiswa LPDP, ia langsung menentukan pilihan. Ia pulang ke Sumba.
Bukan karena tidak punya peluang di luar negeri. Justru karena ia tahu, kampung halamannya lebih membutuhkan.
“Kalau saya balik ke daerah saya, saya hidup dan besar di daerah saya, saya ngerti apa yang terjadi. Ilmu saya bukan cuma jadi uang, tapi juga jadi makna buat orang lain,” ungkap Rambu mengutip laman LPDP, Senin (06/04/2026).
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, maknanya dalam. Di saat banyak orang mengukur sukses dari jarak yang ditempuh, Rambu mengukurnya dari dampak yang ditinggalkan.
Dari Kehilangan, Lahir Ketangguhan
Sejak kecil, hidup tidak memberi Rambu kemudahan. Ia kehilangan ayah saat usianya belum genap dua tahun.
Sejak itu, ibunya mengambil dua peran sekaligus guru dan tulang punggung keluarga. Selain itu, sang ibu juga aktif sebagai relawan di panti asuhan.
“Bapak saya sudah meninggal dari berusia satu tahun sembilan bulan. Ibu saya bekerja sebagai guru sekaligus relawan di sebuah panti asuhan,” kenangnya.
Karena itu, Rambu tumbuh di lingkungan yang penuh keterbatasan. Ia melihat langsung bagaimana anak-anak hidup tanpa kepastian. Ia juga menyaksikan banyak keluarga berjuang dalam diam.
Dari situ, empatinya tidak muncul tiba-tiba. Empati itu terbentuk, hari demi hari.
Pendidikan: Antara Harapan dan Beban
Di Sumba, sekolah bukan sekadar rutinitas. Sebaliknya, pendidikan sering berubah menjadi beban ekonomi.
Banyak orangtua terpaksa meminjam uang, bahkan menggadaikan SK pekerjaan, demi biaya sekolah anak.
“Di sini itu rahasia umum bahwa orang-orang mampu menyekolahkan anaknya dengan meminjam dana, jadi menggadaikan SK kemudian meminjam dana pendidikan,” jelas Rambu.
Namun, Rambu menempuh jalan berbeda. Sejak SD hingga SMA, ia terus mengandalkan beasiswa. Ia aktif mengikuti lomba, lalu mengubah hadiah menjadi biaya pendidikan.
Sementara itu, ibunya selalu mengambil keputusan yang sama mendahulukan sekolah daripada kebutuhan lain.
Karena itu, pendidikan bagi Rambu bukan sekadar kesempatan. Pendidikan adalah hasil dari perjuangan panjang.
Dari Kelas Kecil, Lahir Gerakan Besar
Ketika pandemi datang, masalah pendidikan di Sumba semakin terlihat jelas. Banyak anak tidak bisa belajar. Bukan karena tidak mau, tetapi karena tidak punya akses.
Melihat kondisi itu, Rambu tidak menunggu bantuan datang. Sebaliknya, ia mulai bergerak.
Ia membuka kelas kecil. Ia mengajar langsung. Ia mengumpulkan anak-anak yang kesulitan belajar.
“Saya bikin empat sesi kelas. Dalam ruangan besar itu saya mengajar kurang dari 10 anak. Saya mengajarkan bahasa Inggris, IPA, dan Matematika,” ceritanya.
Awalnya sederhana. Namun, langkah itu terus berkembang. Kemudian, lahirlah Naka Education. Sekarang, komunitas itu sudah menjangkau ratusan siswa.
Timnya juga bertambah. Programnya pun meluas mulai dari bimbingan belajar hingga pelatihan digital.
Bahkan, mereka sudah bekerja sama dengan lembaga internasional. Dengan kata lain, Rambu tidak hanya mengajar. Ia membangun ekosistem harapan.
Melawan Realitas yang Dianggap Takdir
Data menunjukkan bahwa kemiskinan di Sumba Tengah masih tinggi. Namun, Rambu tidak melihat angka sebagai akhir cerita.
Sebaliknya, ia melihat peluang untuk memutus siklus.
Ia percaya pendidikan bisa membuka jalan. Memang, pendidikan tidak langsung mengubah segalanya. Namun, pendidikan memberi pilihan.
Dan pilihan, bagi banyak orang di sana, adalah kemewahan.
Tentang Arti Dikenal
Pada akhirnya, Rambu tidak mengejar kekayaan. Ia juga tidak memburu jabatan. Sebaliknya, ia memilih sesuatu yang lebih sunyi, tapi lebih bermakna.
“Saya ingin mati dikenal, bukan dikenal karena banyak uang, tapi karena pernah ada dalam perjalanan hidupnya mereka,” ujarnya.
Kalimat itu terasa sederhana. Namun, dampaknya panjang.
Penutup: Pilihan yang Tidak Mudah, Tapi Nyata
Hari ini, banyak orang bermimpi pergi sejauh mungkin. Namun, Rambu memilih kembali sedekat mungkin.
Ia tidak menunggu perubahan besar. Sebaliknya, ia memulai dari hal kecil. Ia mengajar. Ia mendengar. Ia bertahan. Dan dari sana, perubahan mulai bergerak.
Sekarang, pertanyaannya bukan lagi tentang Rambu. Tapi tentang kita. Kalau kamu punya kesempatan yang sama kamu akan pergi atau berani pulang?. @teguh



