Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Alumnus LPDP Pulang: Rambu Asana, Mimpi yang Tidak Dijual ke Luar Negeri

by teguh
April 6, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Life – Pagi di Sumba tidak selalu terasa hangat. Sering kali, matahari datang bersama kenyataan pahit anak-anak berangkat sekolah tanpa kepastian, sementara mimpi mereka pelan-pelan kehilangan arah.

Namun, di tengah lanskap itu, satu cerita menolak untuk tenggelam. Namanya Rambu Asana. Ia tidak sekadar pulang ia datang membawa alasan.

Ketika Banyak Orang Pergi, Ia Justru Kembali

Banyak orang mengejar masa depan dengan meninggalkan kampung halaman. Namun, Rambu justru mengambil jalan sebaliknya.

Setelah menyelesaikan studi Magister Social Policy di Australia lewat beasiswa LPDP, ia langsung menentukan pilihan. Ia pulang ke Sumba.

Bukan karena tidak punya peluang di luar negeri. Justru karena ia tahu, kampung halamannya lebih membutuhkan.

Ini Belum Selesai

Ketika Negara Tak Lagi Menjadi Rumah

Bakteri di Mulutmu Tidak Selalu Jahat, Justru Sebagian Menjagamu

“Kalau saya balik ke daerah saya, saya hidup dan besar di daerah saya, saya ngerti apa yang terjadi. Ilmu saya bukan cuma jadi uang, tapi juga jadi makna buat orang lain,” ungkap Rambu mengutip laman LPDP, Senin (06/04/2026).

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, maknanya dalam. Di saat banyak orang mengukur sukses dari jarak yang ditempuh, Rambu mengukurnya dari dampak yang ditinggalkan.

Dari Kehilangan, Lahir Ketangguhan

Sejak kecil, hidup tidak memberi Rambu kemudahan. Ia kehilangan ayah saat usianya belum genap dua tahun.

Sejak itu, ibunya mengambil dua peran sekaligus guru dan tulang punggung keluarga. Selain itu, sang ibu juga aktif sebagai relawan di panti asuhan.

“Bapak saya sudah meninggal dari berusia satu tahun sembilan bulan. Ibu saya bekerja sebagai guru sekaligus relawan di sebuah panti asuhan,” kenangnya.

Karena itu, Rambu tumbuh di lingkungan yang penuh keterbatasan. Ia melihat langsung bagaimana anak-anak hidup tanpa kepastian. Ia juga menyaksikan banyak keluarga berjuang dalam diam.

Dari situ, empatinya tidak muncul tiba-tiba. Empati itu terbentuk, hari demi hari.

Pendidikan: Antara Harapan dan Beban

Di Sumba, sekolah bukan sekadar rutinitas. Sebaliknya, pendidikan sering berubah menjadi beban ekonomi.

Banyak orangtua terpaksa meminjam uang, bahkan menggadaikan SK pekerjaan, demi biaya sekolah anak.

“Di sini itu rahasia umum bahwa orang-orang mampu menyekolahkan anaknya dengan meminjam dana, jadi menggadaikan SK kemudian meminjam dana pendidikan,” jelas Rambu.

Namun, Rambu menempuh jalan berbeda. Sejak SD hingga SMA, ia terus mengandalkan beasiswa. Ia aktif mengikuti lomba, lalu mengubah hadiah menjadi biaya pendidikan.

Sementara itu, ibunya selalu mengambil keputusan yang sama mendahulukan sekolah daripada kebutuhan lain.

Karena itu, pendidikan bagi Rambu bukan sekadar kesempatan. Pendidikan adalah hasil dari perjuangan panjang.

Dari Kelas Kecil, Lahir Gerakan Besar

Ketika pandemi datang, masalah pendidikan di Sumba semakin terlihat jelas. Banyak anak tidak bisa belajar. Bukan karena tidak mau, tetapi karena tidak punya akses.

Melihat kondisi itu, Rambu tidak menunggu bantuan datang. Sebaliknya, ia mulai bergerak.

Ia membuka kelas kecil. Ia mengajar langsung. Ia mengumpulkan anak-anak yang kesulitan belajar.

“Saya bikin empat sesi kelas. Dalam ruangan besar itu saya mengajar kurang dari 10 anak. Saya mengajarkan bahasa Inggris, IPA, dan Matematika,” ceritanya.

Awalnya sederhana. Namun, langkah itu terus berkembang. Kemudian, lahirlah Naka Education. Sekarang, komunitas itu sudah menjangkau ratusan siswa.

Timnya juga bertambah. Programnya pun meluas mulai dari bimbingan belajar hingga pelatihan digital.

Bahkan, mereka sudah bekerja sama dengan lembaga internasional. Dengan kata lain, Rambu tidak hanya mengajar. Ia membangun ekosistem harapan.

Melawan Realitas yang Dianggap Takdir

Data menunjukkan bahwa kemiskinan di Sumba Tengah masih tinggi. Namun, Rambu tidak melihat angka sebagai akhir cerita.

Sebaliknya, ia melihat peluang untuk memutus siklus.

Ia percaya pendidikan bisa membuka jalan. Memang, pendidikan tidak langsung mengubah segalanya. Namun, pendidikan memberi pilihan.

Dan pilihan, bagi banyak orang di sana, adalah kemewahan.

Tentang Arti Dikenal

Pada akhirnya, Rambu tidak mengejar kekayaan. Ia juga tidak memburu jabatan. Sebaliknya, ia memilih sesuatu yang lebih sunyi, tapi lebih bermakna.

“Saya ingin mati dikenal, bukan dikenal karena banyak uang, tapi karena pernah ada dalam perjalanan hidupnya mereka,” ujarnya.

Kalimat itu terasa sederhana. Namun, dampaknya panjang.

Penutup: Pilihan yang Tidak Mudah, Tapi Nyata

Hari ini, banyak orang bermimpi pergi sejauh mungkin. Namun, Rambu memilih kembali sedekat mungkin.

Ia tidak menunggu perubahan besar. Sebaliknya, ia memulai dari hal kecil. Ia mengajar. Ia mendengar. Ia bertahan. Dan dari sana, perubahan mulai bergerak.

Sekarang, pertanyaannya bukan lagi tentang Rambu. Tapi tentang kita. Kalau kamu punya kesempatan yang sama kamu akan pergi atau berani pulang?. @teguh

Tags: AustraliaDigitalEmpatiguruInggrisLPDPPelatihanRelawanSiklus

Kamu Melewatkan Ini

Saat Kedai Jadi Perpustakaan: Budaya Membaca Sedang Mencari Rumah Baru

Saat Kedai Jadi Perpustakaan: Budaya Membaca Sedang Mencari Rumah Baru

by teguh
Juli 13, 2026

Di sudut sebuah kedai ramen di Kota Mojokerto, aroma kuah hangat bercampur dengan wangi kertas buku yang mulai menguning. Seorang...

Komunitas Membagikan Buku Gratis: Kenapa Akses Literasi Masih Bergantung pada Relawan?

Komunitas Membagikan Buku Gratis: Kenapa Akses Literasi Masih Bergantung pada Relawan?

by teguh
Juli 11, 2026

Membeli secangkir kopi hari ini jauh lebih mudah daripada menemukan perpustakaan yang hidup. Kedai-kedai baru bermunculan di hampir setiap sudut...

Di Tengah Budaya Hujatan, Seorang Ayah Masih Menulis “Pangapunten”

Di Tengah Budaya Hujatan, Seorang Ayah Masih Menulis “Pangapunten”

by teguh
Juni 18, 2026

Media sosial sering mengabadikan kesalahan lebih lama daripada kebaikan. Satu unggahan bisa berubah menjadi ruang sidang publik dalam hitungan menit....

Next Post
Tiket Pesawat Naik, PPN Ditanggung Negara: Solusi atau Tambal Sulam?

Tiket Pesawat Naik, PPN Ditanggung Negara: Solusi atau Tambal Sulam?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id