Tabooo.id Sports – Roma tidak benar-benar sunyi ia justru dipenuhi rasa malu yang sulit disembunyikan. Timnas Italia kembali gagal melangkah ke Piala Dunia 2026. Kali ini, kegagalan itu langsung mengguncang kursi tertinggi federasi.
Gabriele Gravina memilih mundur dari jabatannya sebagai Presiden FIGC. Ia menyampaikan keputusan itu langsung di markas federasi, di hadapan para petinggi sepak bola Italia mulai dari Serie A hingga liga amatir. Tanpa drama panjang, tanpa pembelaan berlapis. Selesai.
Kekalahan yang Menusuk Lebih Dalam dari Skor
Italia tersingkir di final playoff setelahkalah dari Bosnia and Herzegovina langsung angkat suara dan menyebut situasi ini tidak bisa diterima menang lewat adu penalti. Kedua tim bermain imbang 1-1 di waktu normal. Namun, luka yang muncul jelas lebih besar dari sekadar angka.
Ini bukan kejadian baru. Italia gagal untuk ketiga kalinya secara beruntun.
Di negara dengan sejarah empat gelar juara dunia, kegagalan ini terasa seperti tamparan keras, bukan sekadar hasil buruk.

Tekanan Politik: Sepak Bola Naik ke Meja Kekuasaan
Kegagalan ini cepat merambat ke ranah politik. Perdana Menteri Giorgia Meloni langsung angkat suara dan menyebut situasi ini tidak bisa diterima. Menteri Olahraga Andrea Abodi ikut menekan dengan nada yang lebih tajam.
Mereka tidak ingin alasan. Mereka menuntut perubahan. Gravina membaca tekanan itu. Ia tidak menunggu desakan berubah menjadi pemaksaan. Ia memilih mundur lebih dulu.
FIGC di Persimpangan: Berbenah atau Sekadar Ganti Nama?
Gravina juga mendorong FIGC menggelar Kongres Luar Biasa pada 22 Juni di Roma untuk memilih presiden baru. Namun, pergantian kursi belum tentu menyelesaikan masalah.
Sepak bola Italia menghadapi persoalan yang lebih dalam. Regenerasi pemain tidak berjalan mulus. Liga domestik kehilangan daya saing. Federasi tampak lambat merespons perubahan.
Mengganti pemimpin tanpa memperbaiki sistem hanya akan mengulang cerita lama dengan wajah baru.
Harga Diri yang Dipertaruhkan
Tiga kali gagal lolos ke Piala Dunia menunjukkan pola yang jelas. Dan setiap pola menuntut tanggung jawab.
Gravina sudah mengambil keputusan. Sekarang, giliran FIGC menentukan arah.
Karena pada akhirnya, sepak bola Italia tidak hanya berbicara soal trofi. Ia membawa identitas, sejarah, dan kebanggaan.
Pertanyaannya sekarang Italia masih raksasa yang tertidur, atau sudah berubah jadi legenda yang hidup dari masa lalu?. @teguh



