Sabtu, Mei 16, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Bersua Sang Raja: No Jeans, No Kaos

by Tabooo
Maret 26, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality Regional
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Regional – Kraton Surakarta Hadiningrat menggelar acara silaturahmi Idulfitri bertajuk Bersua Sang Raja bersama SISKS Pakoe Boewono XIV, yang akan berlangsung pada Kamis (26/3/2026) pukul 10.00 WIB.

Acara ini digelar di Palereman Dalem Sasana Narendra dan dinyatakan terbuka untuk umum. Momentum ini menjadi ruang langka bagi masyarakat untuk berinteraksi langsung dengan simbol budaya Jawa yang selama ini identik dengan jarak dan tata krama tinggi.

Namun, “terbuka” di sini tetap memiliki batas. Dikutip dari akun Instagram @kraton_solo, berikut sejumlah ketentuan berpakaian, yakni wajib berpakaian rapi dan sopan, dilarang memakai batik motif parang/lereng, dilarang menggunakan bahan beludru, tidak diperbolehkan mengenakan jeans dan kaos, perempuan wajib memakai kain atau rok panjang. Aturan ini bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari sistem nilai yang dijaga secara turun-temurun di lingkungan keraton.

View this post on Instagram

A post shared by KARATON SURAKARTA HADININGRAT (@kraton_solo)

Menurut KPA. Hari Andri Winarso Wartonagoro, salah seorang Sentono Dalem Kraton Surakarta, aturan tersebut justru menjadi bagian penting dari pengalaman budaya itu sendiri.

“Kraton memang membuka ruang silaturahmi untuk masyarakat, tapi nilai dan tata krama tetap harus dijaga. Ini bukan pembatasan, melainkan bentuk penghormatan terhadap warisan budaya yang sudah ada sejak lama,” ujar Komisaris PT Tabooo Network Indonesia tersebut.

Ini Belum Selesai

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Disekap dan Diperkosa: Ironi Mahasiswi Makassar Saat Mencari Pekerjaan

Ia menegaskan bahwa acara ini bukan sekadar seremoni, melainkan momentum untuk mempertemukan masyarakat dengan nilai-nilai keraton secara langsung.

“Bersua dengan Raja itu bukan hanya hadir secara fisik, tapi juga memahami etika, simbol, dan makna di baliknya,” tambahnya.

Tradisi yang Tidak Sepenuhnya Cair

Di era ketika semua terasa makin bebas, Kraton Surakarta justru menunjukkan hal berbeda bahwa tidak semua ruang berarti tanpa aturan.

Motif parang, misalnya, secara historis merupakan simbol kekuasaan yang tidak bisa digunakan sembarangan. Begitu juga dengan aturan busana lainnya, semuanya merefleksikan struktur sosial dan filosofi yang masih dijaga. Di sinilah letak tarik-menariknya, publik diundang masuk, tapi tetap harus mengikuti ritme tradisi.

Buat generasi sekarang, ini bukan cuma soal datang ke acara budaya. Melainkan lebih tentang bagaimana kita memahami batas antara akses dan penghormatan, bagaimana budaya lama bernegosiasi dengan cara hidup modern, dan apakah “terbuka untuk umum” benar-benar berarti bebas sepenuhnya Karena pada akhirnya, setiap ruang punya aturan, bahkan termasuk ruang yang disebut publik.


“Bersua Sang Raja” adalah undangan. Tapi juga pengingat: tidak semua undangan berarti tanpa syarat. Lalu, kalau kamu datang, kamu datang sebagai diri sendiri… atau sebagai bagian dari tradisi yang semestinya kamu hormati? @tabooo

Tags: Jawa TengahKraton SurakartaLebaran 2026NasionalNewsPB XIVRegionalSolo

Kamu Melewatkan Ini

Kenapa Kota Kita Makin Penuh Coffee Shop Tapi Miskin Ruang Dialog?

Kenapa Kota Kita Makin Penuh Coffee Shop Tapi Miskin Ruang Dialog?

by jeje
Mei 13, 2026

Di banyak kota, aroma kopi kini terasa lebih mudah ditemukan di coffee Shop daripada ruang bicara yang jujur. Sudut jalan...

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

by jeje
Mei 12, 2026

Dandhy Laksono kembali jadi sorotan. Bukan karena kontroversi biasa, tetapi karena film dokumenternya, Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, memicu rasa...

Film Pesta Babi Kembali Dibubarkan, Kini Terjadi di Ternate

Film Pesta Babi Kembali Dibubarkan, Kini Terjadi di Ternate

by Tabooo
Mei 15, 2026

Film Pesta Babi kembali dibubarkan. Kali ini terjadi di Ternate, Maluku Utara. Aparat TNI menghentikan kegiatan nonton bareng dan diskusi...

Next Post
Satu iPhone, Satu Bisnis: Apple Siap Ubah Cara Orang Indonesia Cari Uang

Satu iPhone, Satu Bisnis: Apple Siap Ubah Cara Orang Indonesia Cari Uang

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Mei 15, 2026

Disekap dan Diperkosa: Ironi Mahasiswi Makassar Saat Mencari Pekerjaan

Mei 15, 2026

“Sepatu Kekecilan” dan Tragedi Siswa SMK Samarinda yang Mengguncang Publik

Mei 15, 2026

300 Rumah Terendam Saat Warga Tidur: Banjir Lumajang Datang dari Hulu

Mei 15, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id