Tabooo.id: Global – Gencatan senjata? Tampaknya istilah itu tak berarti apa-apa di langit Gaza pekan ini. Saat dunia mengira warga Palestina bisa bernapas sejenak, rudal-rudal Israel justru kembali menghujani wilayah yang sudah porak-poranda.
Menurut laporan Al Jazeera, lebih dari 100 orang tewas hanya dalam 12 jam terakhir. Setengahnya adalah anak-anak. Ya, anak-anak yang bahkan belum sempat tahu apa arti “perdamaian.” Pemerintah lokal Gaza mencatat 109 korban jiwa, terdiri dari 52 anak, 23 perempuan, empat lansia, dan tujuh penyandang disabilitas.
Kantor Media Pemerintahan Gaza menuding Israel sengaja menyebarkan disinformasi untuk menutupi kejahatan perang. Mereka mengatakan, Israel merilis daftar korban palsu untuk memutarbalikkan fakta lapangan.
“Daftar itu berisi nama-nama fiktif, bahkan ada yang bukan nama Arab,” ujar perwakilan mereka.
Israel justru mengklaim serangan itu menargetkan “gudang senjata Hamas” di Beit Lahia, Gaza utara. Namun di lapangan, rudal mereka menghantam rumah, sekolah, dan tempat pengungsian. Militer Israel (IDF) menyebut operasi itu sebagai langkah menghadapi “ancaman langsung” setelah seorang tentaranya tewas di Rafah.
Serangan balasan tersebut merupakan bagian dari “perburuan” terhadap 30 milisi senior Hamas klaim yang sulit diverifikasi di tengah reruntuhan dan korban sipil yang terus bertambah.
Api di Tepi Barat
Serangan tak berhenti di Gaza. Pasukan Israel menggempur Tepi Barat dan menahan warga di beberapa kota seperti Qabatiya dan Anza. Mereka mengerahkan kendaraan militer, menembakkan bom suara, lalu menginterogasi penduduk setempat.
Di desa Qaryut, para pemukim Israel menebang ratusan pohon zaitun tua milik petani Palestina. Para petani terkejut melihat ladang mereka hancur setelah baru dua hari mendapatkan izin mengakses lahannya. Lahan itu berdampingan dengan permukiman ilegal Israel bernama Eli, yang terus meluas ke desa Qaryut, as-Sawiya, dan al-Lubban Asharqiya.
Dunia Berbicara, Tapi Siapa yang Mendengar?
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres kembali angkat suara. Lewat juru bicaranya, ia mengutuk keras pembunuhan warga sipil Gaza, terutama anak-anak.
Komisioner Tinggi HAM PBB Volker Türk menilai serangan itu sangat mengerikan. Ia mendesak Israel untuk mematuhi hukum humaniter internasional dan menghentikan pelanggaran terhadap warga sipil.
“Hukum perang jelas menekankan pentingnya melindungi warga sipil dan infrastruktur sipil,” tegasnya.
Namun, Amerika Serikat tetap terdengar datar. Wakil Presiden JD Vance berkata, “Pertempuran kecil seperti itu bisa terjadi, tapi gencatan senjata tetap berlaku.”
Pertempuran kecil padahal lebih dari seratus warga sipil tewas.
Siapa yang Diuntungkan, Siapa yang Dirugikan?
Israel terus mengusung narasi “keamanan nasional”. Tapi siapa yang aman ketika anak-anak Gaza tidur di bawah puing, bukan di bawah atap?
Sementara Hamas kembali disudutkan dan rakyat Palestina kembali menjadi tumbal dalam permainan politik global.
Negara-negara besar sibuk berdebat soal “keseimbangan narasi”.
Media arus utama masih bersembunyi di balik kalimat klasik: “Israel berhak membela diri.”
Akhirnya…
Gencatan senjata tanpa penghentian serangan hanyalah istirahat bagi senjata, bukan bagi manusia.
Selama dunia hanya berani mengutuk tanpa bertindak, Gaza akan tetap menjadi tempat di mana anak-anak belajar mengenali suara bom sebelum alfabet. @dimas




