Minggu, Juni 21, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Lebaran Beda Hari, Antara Ilmu, Ego, dan Toleransi

by dimas
Maret 20, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Talk – Setiap tahun, pertanyaan ini muncul lagi seperti lagu lama yang tak pernah benar-benar berhenti diputar Lebaran bareng atau beda? Dan tahun ini, jawabannya kembali mengarah ke kemungkinan yang sama berbeda.

Di satu sisi, Kementerian Agama bersama Nahdlatul Ulama tetap menggunakan kombinasi hisab dan rukyat dengan kriteria imkanur rukyah. Di sisi lain, Muhammadiyah konsisten memakai hisab hakiki wujudul hilal global. Perbedaan ini bukan hal baru. Namun, respons publik sering kali terasa seperti kejutan tahunan.

Lalu, yang sebenarnya kita perdebatkan itu apa metodenya, atau ekspektasi bahwa semuanya harus sama?

Kita Sering Salah Fokus

Kalau dilihat lebih jernih, persoalan ini sebenarnya cukup sederhana. Perbedaan muncul karena pendekatan yang berbeda sejak awal. Pemerintah dan NU menekankan kemungkinan visibilitas hilal secara faktual. Sementara itu, Muhammadiyah mengedepankan konsistensi perhitungan astronomi global.

Artinya, keduanya berdiri di atas dasar ilmiah yang sama-sama kuat. Namun demikian, publik sering kali tidak membahas substansi tersebut. Sebaliknya, banyak yang lebih fokus pada hasil akhirnya “Kenapa tidak bisa sama?”

Ini Belum Selesai

Bersih Desa: Sekadar Simbol atau Masih Punya Fungsi Sosial?

DPR dan Pemerintah Terlalu Dekat? Mahasiswa Soroti Fungsi Pengawasan yang Hilang

Padahal, dalam kehidupan sehari-hari, kita terbiasa menghadapi perbedaan. Kita berbeda pilihan politik, selera, bahkan cara pandang. Anehnya, ketika perbedaan itu hanya soal satu hari, reaksinya justru jauh lebih emosional.

Realitas Sosial yang Tak Bisa Diabaikan

Di lapangan, perbedaan ini terasa nyata. Misalnya, satu masjid sudah mengumandangkan takbir, sementara masjid lain masih melaksanakan tarawih. Di satu rumah, keluarga sudah menyiapkan hidangan Lebaran. Sementara itu, tetangga di sebelah masih menjalani puasa terakhir.

Situasi ini tentu menimbulkan dinamika sosial. Sebagian orang harus menyesuaikan jadwal mudik. Pedagang mengatur ulang stok barang. Bahkan, ada pekerja yang perlu mengambil cuti di waktu berbeda.

Dengan kata lain, dampaknya tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga praktis. Masyarakat umum yang tidak terlalu memikirkan metode hisab atau rukyat justru menjadi pihak yang paling merasakan konsekuensinya.

Perspektif Lain: Ini Bukan Masalah, Tapi Kenyataan

Namun demikian, ada cara lain untuk melihat situasi ini. Alih-alih menganggapnya sebagai masalah, kita bisa memahaminya sebagai konsekuensi dari keberagaman pendekatan.

Dalam ilmu pengetahuan, perbedaan metode bukan hal yang aneh. Justru, perbedaan itu membuka ruang diskusi dan memperkaya pemahaman. Muhammadiyah memilih konsistensi global. Sementara itu, pemerintah dan NU menekankan verifikasi lokal. Dua pendekatan ini berjalan berdampingan dengan tujuan yang sama: memastikan ibadah dilaksanakan secara benar.

Dengan demikian, perbedaan bukanlah kegagalan. Sebaliknya, ia menjadi bagian dari dinamika yang wajar dalam masyarakat yang majemuk.

Tabooo: Seragam Itu Nyaman, Tapi Dewasa Itu Penting

Masalah sebenarnya bukan pada perbedaan tanggal. Tantangan utamanya justru terletak pada cara kita merespons perbedaan tersebut.

Memang, keseragaman terasa lebih nyaman. Semua orang merayakan di hari yang sama, suasana terasa lebih kompak. Namun, kedewasaan sosial justru diuji ketika keseragaman itu tidak terjadi.

Ironisnya, kita bisa hidup berdampingan dengan perbedaan besar agama, budaya, bahkan bahasa. Akan tetapi, perbedaan satu hari dalam Lebaran sering kali memicu perdebatan yang tidak perlu.

Barangkali karena Lebaran bukan sekadar momen religius. Ia juga simbol kebersamaan. Ketika simbol itu berbeda, sebagian orang merasa ada yang hilang. Padahal, esensi kebersamaan tidak bergantung pada tanggal, melainkan pada sikap saling menghormati.

Jadi, Harus Sama atau Tidak?

Pertanyaan ini akan selalu muncul. Haruskah Lebaran disatukan? Atau biarkan perbedaan tetap ada?

Jawabannya tidak sesederhana hitam dan putih. Jika bisa sama, tentu lebih praktis. Namun, ketika tidak sama, itu bukan berarti ada yang salah.

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita menyikapi perbedaan tersebut. Apakah kita memilih memperdebatkannya tanpa henti, atau justru menjadikannya ruang untuk belajar toleransi?

Pada akhirnya, Lebaran bukan tentang siapa yang lebih dulu atau lebih akhir. Lebaran adalah tentang kembali ke fitrah termasuk dalam cara kita memahami dan menghargai orang lain.

Jadi, sekarang bukan lagi soal tanggal.

Lalu, kamu di kubu mana yang sibuk memperdebatkan perbedaan, atau yang memilih merawat kebersamaan di tengah perbedaan? @dimas

Tags: 2026HisabIdul FitriKementerian AgamalebaranMuhammadiyahNahdlatul UlamaNasionalOpiniPerbedaanRukyatSosial & Publik

Kamu Melewatkan Ini

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

by teguh
Juni 9, 2026

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian membuka kembali perdebatan lama tentang hubungan politik dan birokrasi daerah. Dalam rapat bersama Komisi II...

Buku yang Menulis Indonesia Sebelum Indonesia Lahir

Buku yang Menulis Indonesia Sebelum Indonesia Lahir

by jeje
Juni 2, 2026

Bagaimana mungkin seseorang menulis tentang Indonesia sebelum Indonesia benar-benar ada? Pertanyaan itu muncul ketika membaca Naar de Republiek Indonesia, karya Tan...

BPIP Undang Semua Mantan Presiden ke Hari Lahir Pancasila, Siapa yang Datang?

BPIP Undang Semua Mantan Presiden ke Hari Lahir Pancasila, Siapa yang Datang?

by teguh
Mei 29, 2026

Hari Lahir Pancasila tahun ini terasa lebih dari sekadar seremoni negara. Di tengah dinamika politik nasional, publik mulai bertanya: siapa...

Next Post
Kuta Saat Senja: Ketika Malam Mulai Dibuka untuk Dunia

Kuta Saat Senja: Ketika Malam Mulai Dibuka untuk Dunia

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id