Tabooo.id: Global – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai terasa hingga ke jalur ibadah umrah. Eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran memicu kekhawatiran terhadap mobilitas warga negara asing di kawasan tersebut, termasuk ribuan jemaah umrah asal Indonesia.
Di tengah situasi itu, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) bersama Tim Fungsi Konsuler KJRI Jeddah memperketat pemantauan terhadap proses kepulangan jemaah umrah Indonesia melalui Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, Arab Saudi.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan perjalanan pulang jemaah tetap aman di tengah ketidakpastian situasi kawasan.
Pemerintah Intensif Dampingi Kepulangan Jemaah Umrah
Petugas haji Indonesia kini meningkatkan kehadiran di bandara untuk memantau langsung proses keberangkatan jemaah menuju Tanah Air. Tim dari Kantor Urusan Haji (KUH) Jeddah bersama KJRI terus berada di lapangan guna memastikan seluruh prosedur berjalan lancar.
Staf Teknis Haji pada Kantor Urusan Haji Jeddah, M. Ilham Effendy, menjelaskan bahwa petugas memantau pergerakan jemaah sejak proses check-in hingga keberangkatan pesawat.
“Petugas terus berada di lapangan untuk memantau langsung proses keberangkatan jemaah umrah Indonesia di Bandara Internasional King Abdulaziz,” ujar Ilham dalam keterangannya, Sabtu (7/3/2026).
Kehadiran petugas ini menjadi penting karena situasi geopolitik yang memanas bisa memengaruhi jadwal penerbangan internasional.
Ribuan Jemaah Umrah Sudah Kembali ke Tanah Air
Data KJRI Jeddah menunjukkan bahwa ribuan jemaah Indonesia tetap bisa kembali ke Tanah Air meski situasi regional sedang tidak stabil.
Pada 5 Maret 2026, sebanyak 2.735 jemaah umrah berhasil pulang melalui beberapa maskapai penerbangan yang beroperasi di Bandara King Abdulaziz.
Ilham menjelaskan bahwa seluruh penerbangan yang dipantau pada hari tersebut berjalan sesuai jadwal tanpa gangguan berarti.
“Seluruh penerbangan yang dipantau pada hari itu dilaporkan berjalan sesuai jadwal keberangkatan,” jelasnya.
Jika dihitung sejak 28 Februari hingga 5 Maret 2026, jumlah jemaah umrah Indonesia yang telah kembali ke Tanah Air mencapai 14.796 orang.
Angka ini menunjukkan bahwa arus kepulangan masih berlangsung normal meskipun ketegangan geopolitik meningkat.
Sebagian Jemaah Masih Tertahan
Namun situasi tidak sepenuhnya mulus. Dalam proses pemantauan, petugas juga menemukan sejumlah jemaah yang mengalami penundaan penerbangan.
Data terbaru mencatat 158 jemaah umrah masih tertahan karena berbagai kendala perjalanan.
Beberapa maskapai menunda penerbangan akibat penyesuaian jadwal operasional, sementara sebagian jemaah menghadapi proses administrasi tambahan.
Menghadapi situasi ini, pemerintah langsung berkoordinasi dengan maskapai dan penyelenggara perjalanan umrah.
“Kami terus berkoordinasi dengan maskapai dan penyelenggara perjalanan. Kami memastikan seluruh jemaah tetap mendapatkan pendampingan hingga mereka bisa kembali ke Tanah Air,” kata Ilham.
Satgas Bandara Perkuat Koordinasi
Selain tim konsuler, pemerintah juga mengerahkan Satgas Bandara untuk membantu proses pengawasan di lapangan. Petugas satgas mendampingi jemaah yang mengalami penundaan penerbangan serta memberikan informasi terbaru terkait jadwal keberangkatan.
Tim ini juga berkomunikasi intensif dengan maskapai dan penyelenggara perjalanan umrah agar penanganan jemaah berjalan lebih cepat.
Pendampingan ini sangat penting, terutama bagi jemaah lanjut usia yang sering mengalami kesulitan saat menghadapi perubahan jadwal penerbangan.
Bagi banyak jemaah, perjalanan umrah bukan sekadar perjalanan wisata. Mereka menabung bertahun-tahun untuk bisa menunaikan ibadah ini.
Karena itu, ketidakpastian perjalanan bisa memicu kecemasan yang cukup besar.
Ketegangan Timur Tengah dan Dampaknya bagi Jemaah
Konflik geopolitik di Timur Tengah memang sering membawa dampak langsung pada mobilitas internasional. Ketika ketegangan meningkat, maskapai biasanya melakukan penyesuaian rute dan jadwal penerbangan demi alasan keamanan.
Bagi negara dengan jumlah jemaah umrah besar seperti Indonesia, situasi ini bisa berdampak pada ribuan orang sekaligus.
Di sisi lain, pemerintah harus memastikan bahwa para jemaah tidak menghadapi masalah sendirian di luar negeri.
Petugas diplomatik dan tim haji kini bekerja ekstra untuk memastikan setiap jemaah mendapat informasi yang jelas serta bantuan yang diperlukan.
Pada akhirnya, konflik geopolitik mungkin terjadi ribuan kilometer dari rumah para jemaah. Namun dampaknya bisa langsung terasa di ruang tunggu bandara tempat orang-orang hanya ingin satu hal sederhana: pulang dengan selamat. @dimas




