Tabooo.id: Regional – Golek Garwo sesi ketiga langsung mencuri perhatian publik. Bukan hanya karena ratusan peserta datang mencari jodoh, tetapi karena dua pasangan langsung mengucap janji suci di hari pertama acara.
Panitia menggelar akad nikah itu pada Sabtu, 28 Februari 2026, di Masjid Raya Sheikh Zayed Solo, Surakarta. Sebanyak 650 peserta mengikuti kegiatan di hari pembuka. Selama dua hari, 28 Februari–1 Maret 2026, sekitar seribuan peserta dari berbagai daerah di Pulau Jawa hingga luar Jawa meramaikan agenda ini.
Di tengah ratusan peserta yang masih menjalani proses perkenalan, dua pasangan tersebut memilih melangkah pasti. Mereka duduk di hadapan penghulu, menjabat tangan wali, lalu mengucapkan ijab kabul dengan lantang.
Ribuan Jemaah Saksikan Langsung
Ribuan jemaah memenuhi area masjid dan menyaksikan prosesi akad secara langsung. Suasana berubah khidmat ketika kedua mempelai menyatakan sah sebagai suami istri. Tepuk tangan dan doa mengiringi momen tersebut.
Direktur Masjid Raya Sheikh Zayed Solo, Munajat, menegaskan panitia tidak memungut biaya apa pun dari peserta.
“Pada pelaksanaan ini tidak ada biaya sama sekali, semua dibantu relawan,” ujarnya.
Panitia bersama relawan menyiapkan seluruh kebutuhan akad, mulai dari administrasi hingga teknis pelaksanaan. Sponsor turut membantu pembiayaan sehingga pasangan bisa fokus pada prosesi sakralnya.
Munajat juga memaparkan capaian program sebelumnya. Golek Garwo sesi pertama dan kedua berhasil mempertemukan puluhan pasangan hingga menikah. Pada 2 Desember 2025, melalui program “Zayed Mantu”, pengelola masjid memfasilitasi enam pasangan menikah di lokasi yang sama, lengkap dengan tasyakuran dan bulan madu di hotel berbintang.
“Pada hari Sabtu, 28 Februari 2026, ada dua pasangan lagi yang mengucapkan janji suci. Kami memfasilitasi mereka dengan konsep yang sama dan ribuan orang menyaksikan langsung,” jelasnya.
Akad tersebut membuktikan bahwa program ini tidak berhenti di tahap perkenalan. Panitia benar-benar mengantar peserta hingga ke pelaminan.
Dampak Nyata bagi Lajang Usia Produktif
Program ini menyasar lajang usia produktif yang ingin menikah tetapi terkendala biaya dan jaringan sosial. Banyak peserta datang dengan niat serius membangun rumah tangga, bukan sekadar mencoba peruntungan.
Kenaikan biaya resepsi sering membuat pasangan menunda rencana pernikahan. Melalui skema fasilitasi penuh, panitia meringankan beban finansial yang kerap menjadi hambatan utama. Perantau dan pekerja muda yang minim jaringan keluarga juga mendapat ruang bertemu calon pasangan dalam forum terarah.
Kolaborasi antara pengelola masjid, Kemenag Kota Surakarta, dan FORTAIS Indonesia Yogyakarta menunjukkan bahwa lembaga keagamaan bisa bergerak aktif menjawab persoalan sosial. Mereka tidak hanya membuka ruang ibadah, tetapi juga membuka jalan menuju pernikahan.
Lebih dari Seremoni
Dua pasangan yang menikah kemarin memberi pesan kuat kepada ratusan peserta lain. Komitmen tidak perlu menunggu pesta besar atau tabungan ratusan juta. Mereka memilih melangkah ketika kesiapan sudah ada.
Tentu, akad bukan akhir perjalanan. Setelah ijab kabul terucap, pasangan tetap harus membangun rumah tangga dengan kerja keras dan tanggung jawab bersama.
Namun pada 28 Februari 2026, dua orang membuktikan bahwa niat yang jelas dan dukungan komunitas bisa mempercepat langkah menuju halal.
Di tengah era aplikasi kencan dan hubungan serba instan, mereka memilih jalan berbeda: datang, bertemu, lalu mengikat janji di hadapan ribuan saksi. Kadang, yang dibutuhkan bukan algoritma melainkan keberanian untuk berkata sah. @eko





