Tabooo.id: Game – Pernah merasa hidup makin mahal, tapi tetap saja kita rela bayar hampir sejuta rupiah demi dikejar zombie? Itulah yang terjadi ketika Resident Evil Requiem resmi meluncur global pada 27 Februari 2026. Seri kesembilan dari waralaba survival horror legendaris ini menjadi sekuel langsung dari Resident Evil Village. Seperti biasa, hype menyebar lebih cepat daripada virus T.
Di Indonesia, game ini hadir di PC (Steam), PS5, Xbox Series X/S, hingga Nintendo Switch 2. Soal harga, Capcom tidak main-main. Standard Edition dibanderol Rp 910 ribu, sedangkan Deluxe Edition menyentuh Rp 1.039.000. Sementara itu, untuk Xbox dan Switch 2, harga globalnya berada di kisaran 70–80 dolar AS. Artinya, dompet pun ikut merasakan atmosfer survival horror.
Memang, edisi Deluxe menawarkan kostum tambahan, senjata ekstra, dan item eksklusif. Namun demikian, muncul pertanyaan klasik: membeli karena kebutuhan pengalaman bermain, atau sekadar takut tertinggal tren?
Dua Perspektif, Dua Intensitas
Terlepas dari harga, daya tarik utama game ini justru terletak pada pendekatan naratifnya. Capcom menghadirkan dua karakter dengan gaya bermain kontras.
Pertama, ada Grace Ashcroft, analis intelijen FBI yang menyelidiki kematian misterius di Wrenwood Hotel lokasi yang berkaitan dengan masa lalu ibunya. Dalam alur ini, pemain merasakan survival horror murni melalui sudut pandang orang pertama. Sumber daya terbatas, ancaman terus mengintai, dan setiap langkah menuntut perhitungan matang.
Sebaliknya, Leon S. Kennedy tampil lebih agresif. Karakter yang telah dikenal sejak Resident Evil 2 ini membawa pendekatan third-person yang sarat aksi. Selain itu, pemain dapat mengganti perspektif kapan saja, sehingga pengalaman bermain terasa fleksibel dan dinamis. Dengan kata lain, Capcom memberi kebebasan untuk memilih jenis ketegangan yang diinginkan.
Bayang-Bayang Lama yang Tak Pernah Pergi
Seiring cerita berkembang, jalur investigasi Grace dan Leon perlahan bertemu. Semua mengarah pada organisasi medis misterius yang sudah lama menghantui semesta ini: Umbrella Corporation.
Leon menyelidiki kematian para penyintas Raccoon City. Pada saat yang sama, Grace mengungkap rahasia fasilitas medis yang serupa. Akhirnya, dua penyelidikan itu menyatu dalam satu simpul misteri yang lebih besar.
Horor yang Selalu Relevan
Menariknya, Resident Evil tidak pernah sekadar menjual monster. Franchise ini menjual rasa tidak aman. Dulu, pemain takut kehabisan peluru. Kini, banyak orang justru lebih cemas kehabisan saldo.
Di satu sisi, kehidupan nyata menuntut stabilitas. Akan tetapi, dalam dunia game, kita justru mencari kekacauan yang terkontrol. Ketegangan virtual terasa aman karena selalu ada tombol pause dan retry. Oleh sebab itu, horor menjadi bentuk pelarian yang anehnya menenangkan.
Grace, dengan sumber daya terbatasnya, mencerminkan generasi yang harus cermat bertahan. Sementara itu, Leon menggambarkan keberanian menghadapi ancaman secara langsung. Keduanya menjadi simbol dua respons berbeda terhadap krisis.
Pada akhirnya, mungkin itulah alasan kita tetap membeli, tetap bermain, dan tetap kembali ke dunia penuh teror ini. Setidaknya di sana, kita memiliki kendali.
Lalu, apakah Resident Evil 9 layak ditebus dengan harga nyaris sejuta rupiah? Atau justru sensasi paling menegangkan terjadi sebelum menekan tombol checkout?
Horor tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya berubah bentuk kadang menjadi zombie, kadang menjelma inflasi.
Sekarang pertanyaannya sederhana: kamu tim Grace yang hemat peluru, atau tim Leon yang tembak dulu dan pikir belakangan.@eko




