• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Sabtu, Maret 28, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Entertainment

Ghost in the Cell: Ketika Horor Jadi Kritik Sosial Paling Tajam

Februari 25, 2026
in Entertainment, Film
A A
Ghost in the Cell: Ketika Horor Jadi Kritik Sosial Paling Tajam

Teaser poster film terbaru Joko Anwar yang berjudul Ghost in the Cell. (Foto: Istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Film – Pernah nggak sih merasa hidup di negeri ini sepert penjara? Bukan karena jeruji besi semata, melainkan karena aturan yang menyesakkan, konflik yang tak kunjung reda, serta drama sosial yang terus tayang tanpa jeda.

Kali ini, Joko Anwar tidak sekadar menawarkan horor. Sebaliknya, ia mengajak kita bercermin. Lewat Ghost in the Cell, yang akan tayang 16 April 2026, Joko meramu komedi dan teror dalam satu ruang terbatas: penjara.

Ia menulis naskahnya sejak 2018. Namun kini, ketika dinamika pemerintah dan rakyat makin kompleks, gagasan itu terasa semakin tajam. Menurutnya, penjara adalah miniatur masyarakat. Di sana, struktur kuasa berdiri jelas: petugas lapas memegang kendali, napi menjalani peran sebagai “rakyat”, aparat menjaga stabilitas, sementara geng membentuk hierarki tersendiri. Dengan demikian, konflik tak pernah benar-benar tidur.

RelatedPosts

PS5 Makin Mahal: Hiburan Rakyat Berubah Jadi Mainan Sultan

AI Kuasai Musik, Cuan Lari ke Mana?

Teror di Labuan Angsana

Film ini membawa kita ke Penjara Labuan Angsana lapas keras yang penuh rivalitas. Awalnya, para geng sibuk berebut pengaruh, sedangkan sipir bermain di wilayah abu-abu. Akan tetapi, situasi berubah drastis ketika satu sel angker memunculkan kekuatan gaib misterius.

Makhluk itu membunuh para tahanan satu per satu. Ketakutan pun menyebar cepat. Akibatnya, para napi dan sipir korup yang sebelumnya saling menjatuhkan mulai menyusun strategi bersama. Mereka sadar, tanpa kerja sama, tak ada yang selamat.

Di titik inilah ironi bekerja. Musuh bersama memaksa solidaritas. Teror justru melahirkan persatuan.

Deretan pemain seperti Abimana Aryasatya, Aming, Endy Arfian, Lukman Sardi, Mike Lucock, dan Tora Sudiro menghadirkan dinamika yang kontras—serius sekaligus absurd. Karena itu, atmosfer film terasa tegang namun tetap menyelipkan humor getir.

Horor yang Menggoda Nurani

Film ini tidak berhenti pada jump scare. Sebaliknya, Joko mendorong penonton untuk berpikir. Ia menggunakan penjara sebagai metafora yang lugas sekaligus menusuk.

Jeruji membatasi gerak. Struktur kuasa menentukan nasib. Ketimpangan memupuk dendam. Sementara itu, ketidakadilan sering tumbuh diam-diam tanpa banyak yang menggugat.

Kita kerap menunjuk “penghuni sel sebelah” sebagai biang masalah. Padahal, persoalan mungkin berakar pada sistem yang kita biarkan berjalan tanpa koreksi. Oleh karena itu, film ini seperti berbisik: jangan hanya takut pada hantunya, tetapi pahami mengapa ia muncul.

Tertawa, Lalu Tersentil

Horor-komedi memberi ruang bagi kritik sosial tanpa kesan menggurui. Saat penonton tertawa, pesan menyelinap halus. Setelah tawa mereda, pertanyaan mulai menggema.

Mengapa para tokoh baru bersatu ketika ancaman datang? Mengapa solidaritas lahir dari ketakutan, bukan dari kesadaran? Pertanyaan-pertanyaan itu terasa relevan, terutama jika kita menengok realitas sehari-hari.

Sering kali, masyarakat baru bergerak ketika krisis sudah di depan mata. Sebelum itu, perdebatan berlangsung tanpa ujung. Sesudahnya, barulah muncul desakan untuk bersatu.

Kita di Luar atau di Dalam?

Pada akhirnya, “Ghost in the Cell” tidak sekadar menghadirkan hantu di lorong penjara. Film ini menyorot relasi kuasa, memperlihatkan kompromi, dan mengungkap ketakutan kolektif yang kita pelihara sendiri.

Jika sistem terus retak, konsekuensi pasti mengikuti. Entah dalam bentuk konflik terbuka, krisis berkepanjangan, atau “hantu” lain yang tak kasatmata.

Jadi, pertanyaannya kini sederhana namun mengganggu:
Apakah kita benar-benar berdiri di luar jeruji, atau justru sudah menjadi bagian dari sel itu sendiri?

Barangkali, rasa tidak nyaman setelah menonton film ini justru menjadi tanda bahwa kritiknya bekerja. @eko

Tags: Film Barufilm horrorGhost in the CellIndonesiaJoko Anwar
Next Post
Tumbangnya Raja Narkoba dan Ancaman Perang Suksesi di Meksiko

Tumbangnya Raja Narkoba dan Ancaman Perang Suksesi di Meksiko

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Prabowo Suruh Bahlil Berburu Minyak, Ada Apa Sebenarnya?

    Prabowo Suruh Bahlil Berburu Minyak, Ada Apa Sebenarnya?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AI Kuasai Musik, Cuan Lari ke Mana?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Internet Bisa Mati Gara-Gara Iran? Cek Faktanya!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Timnas Indonesia Terlalu kuat atau Saint kitts yang lemah?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cantik Itu Luka: Ketika Kecantikan Jadi Kutukan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.