Rabu, Mei 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Indonesia Menggugat: Ketika Ruang Sidang Jadi Panggung Revolusi

by Tabooo
Februari 25, 2026
in Tabooo Book Club
A A
Home Culture Tabooo Book Club
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Tabooo Book Club – Indonesia Menggugat: Ketika Ruang Sidang Jadi Panggung Revolusi bukan sekadar pledoi hukum. Ia adalah ledakan kesadaran. Sebuah momen ketika seorang terdakwa berdiri di hadapan kolonialisme, bukan untuk memohon ampun, tapi untuk menggugat balik sebuah sistem yang selama ratusan tahun menindas bangsanya.

Buku ini merekam pidato pembelaan Soekarno di pengadilan kolonial Bandung tahun 1930, setelah ia ditangkap karena aktivitas politiknya melalui PNI. Alih-alih membela diri secara teknis, Soekarno menjadikan ruang sidang sebagai mimbar politik. Ia mengubah status “terdakwa” menjadi “penggugat sejarah.”

Di tangan Soekarno, hukum kolonial bukan lagi panggung formalitas, melainkan teater ideologi. Dan Indonesia yang saat itu belum merdeka diperkenalkan sebagai entitas sadar yang sedang bangkit.

Dari Dakwaan ke Dakwah Kebangsaan

Soekarno tidak membantah bahwa ia melawan pemerintah kolonial. Ia justru menegaskan bahwa ia melawan, karena sistem itulah yang salah. Dalam teksnya, ia membedah imperialisme bukan sebagai “kebetulan sejarah”, tetapi sebagai hasil dari sistem kapitalisme global yang rakus dan eksploitatif.

Ia mengutip teori-teori Barat, dari Marxisme hingga nasionalisme Eropa, lalu menyusunnya menjadi argumen bahwa penjajahan bukan sekadar dominasi politik, melainkan struktur ekonomi yang memiskinkan dan merendahkan manusia.

Ini Belum Selesai

Kitab Omong Kosong: Ketika Rama Tak Lagi Pahlawan

Tabula Rasa: Cinta, Identitas, dan Dunia Modern

Pertanyaannya sederhana tapi tajam, bagaimana mungkin bangsa yang ditindas dianggap bersalah karena ingin merdeka?

Bagi Soekarno, kolonialisme adalah penyakit sistemik. Dan perlawanan adalah gejala sehat dari bangsa yang ingin hidup.

Indonesia Menggugat: Ketika Ruang Sidang Jadi Panggung Revolusi
Indonesia Menggugat

Nasionalisme sebagai Kesadaran, Bukan Emosi

Dalam Indonesia Menggugat, nasionalisme tidak dipresentasikan sebagai amarah buta. Ia dijelaskan sebagai kesadaran kolektif. Soekarno menolak nasionalisme sempit yang membenci ras lain. Ia menawarkan nasionalisme sebagai alat pembebasan, yang bertumpu pada persatuan rakyat, bukan kebencian.

Ia berbicara tentang penderitaan petani, buruh, dan rakyat kecil yang diperas sistem tanam paksa dan ekonomi kolonial. Di sinilah buku ini menjadi lebih dari dokumen politik; ia menjadi narasi kemanusiaan.

Nasionalisme, bagi Soekarno, lahir bukan dari kebencian terhadap Belanda sebagai bangsa, tetapi dari penolakan terhadap sistem penindasan.

Dan di situlah letak keberanian intelektualnya.

Ruang Sidang sebagai Simbol Perlawanan

Bayangkan situasinya, seorang pemuda berusia 29 tahun, berdiri di hadapan hakim kolonial, berbicara dengan bahasa yang sistematis, penuh referensi, dan tanpa gentar.

Ia tahu kemungkinan besar ia akan dipenjara. Tapi ia juga tahu bahwa sejarah sedang mendengarkan.

Indonesia Menggugat menunjukkan bagaimana kata-kata bisa menjadi senjata. Tanpa senapan, tanpa pasukan, Soekarno mengguncang legitimasi moral kolonialisme lewat argumen dan retorika.

Ia tidak hanya membela dirinya. Ia membela martabat bangsa.

Mengapa Buku Ini Masih Relevan?

Kita hidup di era yang berbeda. Tidak ada lagi penjajahan fisik. Tapi pertanyaannya, apakah struktur ketidakadilan benar-benar hilang?

Buku ini mengingatkan bahwa sistem yang menindas sering kali dibungkus legalitas. Bahwa hukum bisa menjadi alat kekuasaan atau alat pembebasan, tergantung siapa yang berani bersuara.

Bagi pembaca muda hari ini, Indonesia Menggugat adalah pelajaran tentang keberanian berpikir. Tentang bagaimana kritik terhadap sistem tidak selalu lahir dari kebencian, tetapi dari cinta terhadap keadilan.

Ia juga menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukan hadiah. Ia hasil dari kesadaran, argumentasi, dan keberanian moral.

Lebih dari Pledoi, Ini Manifesto

Pada akhirnya, buku ini bukan sekadar transkrip sidang. Ia adalah manifesto kebangsaan. Dokumen yang menunjukkan bahwa revolusi bisa dimulai dari ruang yang paling tidak terduga, sebuah ruang sidang.

Soekarno mengubah statusnya dari terdakwa menjadi simbol perlawanan. Dari individu menjadi representasi bangsa.

Dan kita, yang membacanya hari ini, dihadapkan pada pertanyaan yang sama seperti hampir seabad lalu, “jika ketidakadilan berdiri di depan mata, apakah kita akan diam atau berani menggugat?” @tabooo

Tags: Politik IndonesiaResensi BukuSoekarnoTabooo Book Club

Kamu Melewatkan Ini

Amir Syarifuddin: Tokoh yang Terlalu Rumit untuk Sejarah Indonesia?

Amir Syarifuddin: Tokoh yang Terlalu Rumit untuk Sejarah Indonesia?

by jeje
Mei 13, 2026

Amir Syarifuddin bukan tokoh yang mudah dijelaskan dalam satu kalimat. Ia pernah menjadi Perdana Menteri kedua Republik Indonesia, memimpin perlawanan...

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

by jeje
Mei 12, 2026

Dandhy Laksono kembali jadi sorotan. Bukan karena kontroversi biasa, tetapi karena film dokumenternya, Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, memicu rasa...

Amir Syarifuddin: Tokoh Komunis yang Membawa Injil saat Eksekusi

Amir Syarifuddin: Tokoh Komunis yang Membawa Injil saat Eksekusi

by Tabooo
Mei 12, 2026

Amir Syarifuddin pernah menjadi Perdana Menteri Republik Indonesia, tetapi namanya lebih sering muncul dalam bayang-bayang PKI dan Peristiwa Madiun 1948....

Next Post
Ditekan Sejak Awal, Garuda Pertiwi Tumbang 0-3 dari Thailand

Ditekan Sejak Awal, Garuda Pertiwi Tumbang 0-3 dari Thailand

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

Rupiah Anjlok ke Rp 17.500 per Dolar AS, Investor Mulai Kehilangan Kepercayaan

Mei 12, 2026

Kuota Tanpa Batas? Nyaman Buat Kamu, Tapi Jaringan Bisa Kewalahan

Mei 8, 2026

Sekolah Rakyat di Kupang: Jalan Baru Anak Miskin Keluar dari Batas Pendidikan?

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id