Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kitab Omong Kosong: Ketika Rama Tak Lagi Pahlawan

by Tabooo
Mei 12, 2026
in Culture, Tabooo Book Club
A A
Home Culture
Share on Facebook
Share on Twitter
Kitab Omong Kosong karya Seno Gumira Ajidarma membuka Ramayana dari sisi yang lebih gelap, lebih getir, dan jauh dari dongeng pahlawan. Namun Rama tak lagi tampil sebagai sosok suci yang bebas dari salah. Sementara itu, Sinta harus menanggung prasangka atas tubuh dan kehormatannya sendiri. Di balik kisah cinta, perang, dan harga diri, buku ini pelan-pelan bertanya: berapa banyak kekuasaan pernah menyamar sebagai kebenaran?

Tabooo.id – Ada buku yang mengganggu posisi dudukmu. Kitab Omong Kosong karya Seno Gumira Ajidarma masuk ke jenis itu, karena ia tidak memperlakukan kisah Rama, Sinta, Rahwana, Hanuman, Lawa, dan Kusa sebagai dongeng yang sudah selesai.

Buku ini mengambil dunia Ramayana, lalu membalik lampunya. Tokoh yang biasa tampak suci mulai kehilangan tempat amannya. Cinta yang sering orang puja berubah menjadi medan luka. Kekuasaan yang membawa nama perdamaian justru memperlihatkan wajah paling dinginnya.

Dan di situlah masalahnya mulai terasa dekat.

Ramayana yang Tidak Mau Jadi Dongeng Tidur

Pada permukaan, Kitab Omong Kosong memakai bahan yang akrab: Ayodya, Sinta, Rama, Rahwana, Hanuman, Walmiki, Lawa, dan Kusa.

Tapi Seno tidak menulis ulang Ramayana untuk membuat pembaca merasa hangat. Ia justru membuka bagian yang biasanya sembunyi di balik kata “epik”.

Ini Belum Selesai

Nginang di Sekaten: Saat Sirih Menjaga Jejak Tradisi

Ritek Surakarta Kenalkan Jaranan Sentherewe di Pakuwon Mall Solo

Di awal buku, kuda putih berlari melintasi padang. Anak-anak melihatnya seperti cahaya. Namun keindahan itu cepat berubah menjadi ancaman. Di belakang kuda, datang pasukan Ayodya. Desa bisa rata. Tubuh bisa hilang. Nama Rama yang semula harum berubah menjadi sesuatu yang menakutkan.

Aneh? Ya.

Kadang simbol paling indah justru menjadi pembuka kehancuran.

Perdamaian yang Datang Bersama Pasukan

Bagian paling tajam dari buku ini muncul lewat Persembahan Kuda.

Dalam cerita, kuda putih melintasi kerajaan-kerajaan, dan Ayodya menuntut semuanya tunduk. Jika menolak, pasukan akan menghancurkannya.

Rama bahkan mengirim pesan bahwa ia membawa perdamaian sekaligus peperangan, lalu meminta raja lain memilih salah satunya.

Di titik ini, buku tersebut terasa tidak sedang bicara masa lampau. Ia bicara tentang bahasa kekuasaan.

Bahasa yang terdengar manis di depan umum, tapi membawa ancaman di belakangnya. Bahasa yang memakai kata “persatuan”, “ketertiban”, atau “perdamaian”, sambil menyiapkan hukuman bagi siapa pun yang tidak patuh.

Masalahnya, kekuasaan sering tidak datang dengan wajah jahat. Ia datang dengan kalimat rapi. Lalu orang diminta percaya.

Sinta Tidak Butuh Istana untuk Tetap Utuh

Sinta dalam buku ini bukan sekadar perempuan yang menuntut pembelaan. Ia menjadi pusat luka, sekaligus pusat pembongkaran.

Empat belas tahun sebelum Rama menyebarkan bencana ke anak benua, Sinta berjalan tersaruk-saruk di rimba Dandaka dalam keadaan mengandung. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya tetap melawan. Ia menggugat cinta, kesucian, dan kehormatan yang selama ini orang lain pakai untuk menghakimi perempuan.

Sinta mempertanyakan Rama.

Bukan dengan teriakan murahan. Bukan pula dengan dendam sederhana.

Ia mempertanyakan kenapa cinta seorang raja masih membutuhkan pembuktian tubuh perempuan. Kenapa orang terus menguji kesucian perempuan. Kenapa lelaki sering membayar kehormatannya dengan penderitaan perempuan.

Di sini, Kitab Omong Kosong terasa sangat modern.

Karena sampai hari ini, orang masih menjadikan tubuh sebagai ruang sidang. Banyak perempuan masih harus membuktikan diri kepada standar yang tidak pernah mereka sepakati.

Gelembung Rahwana dan Kejahatan yang Tidak Selalu Bertanduk

Rahwana tidak benar-benar selesai. Dalam buku ini, ia menyebarkan Gelembung Rahwana, semacam pengaruh jahat yang membuat manusia menipu, memfitnah, mengadu domba, mencuri, merampok, bahkan membunuh.

Bagian ini menarik karena kejahatan tidak digambarkan sebagai monster yang selalu mudah dikenali.

Ia bisa masuk lewat prasangka. Kadang bentuknya gosip kecil yang orang ulang sambil tertawa. Di lain waktu, ia muncul sebagai keramaian yang mendadak merasa paling benar.

Di Ayodya, orang-orang mulai meragukan Sinta. Mereka tidak butuh bukti kuat. Mereka hanya butuh kecurigaan yang terus dibakar. Setelah itu, opini berubah menjadi hukuman sosial.

Kamu mungkin pernah melihat versi modernnya.

Kamu bisa melihatnya di kolom komentar, grup WhatsApp, ruang kerja, bahkan meja makan keluarga.

Seseorang cukup dituduh. Lalu massa merasa sudah menjadi hakim.

Walmiki, Penulis yang Mengganggu Jalan Cerita

Walmiki dalam buku ini bukan hanya empu yang mencatat. Ia seperti pengingat bahwa cerita tidak pernah netral.

Siapa yang menulis, dia ikut menentukan dunia.

Dalam salah satu bagian, Walmiki menulis kisah Sinta, Lawa, dan Kusa. Anak-anak itu tumbuh jauh dari istana, belajar berenang, berburu, bertani, membaca, menari, menyanyi, berpikir, berhitung, dan bertanya. Mereka terus mempertanyakan siapa ayah mereka.

Pertanyaan itu sederhana.

Tapi justru dari pertanyaan sederhana, bangunan besar mulai retak.

“Siapa ayah kami?”

Di baliknya ada pertanyaan lain, siapa yang berhak menentukan asal-usul kita? Siapa yang mengatur versi resmi hidup kita? Siapa yang diuntungkan ketika cerita dibuat hanya dari sudut pandang pemenang?

Buku Ini Tidak Membenci Pahlawan

Kitab Omong Kosong tidak terasa seperti serangan kosong terhadap Rama. Buku ini lebih licik dari itu.

Ia tidak sekadar berkata, “Rama jahat.”

Buku ini menunjukkan bagaimana pahlawan bisa keliru. Orang baik bisa berubah menjadi alat kekuasaan. Cinta pelan-pelan menjelma kontrol. Sementara itu, perdamaian sering datang sebagai alasan paling rapi untuk menaklukkan orang lain.

Itu yang membuat buku ini tidak nyaman.

Karena pembaca tidak bisa lagi bersembunyi di balik kategori mudah, baik dan jahat, suci dan kotor, pahlawan dan musuh.

Seno membuat semuanya lebih licin, manusiawi, dan berbahaya.

Informasi Buku

Kitab Omong Kosong: Ketika Rama Tak Lagi Pahlawan

Judul: Kitab Omong Kosong

Penulis: Seno Gumira Ajidarma

Penerbit: Bentang Pustaka

Edisi: Edisi III, cetakan pertama, Mei 2013

Tebal: x + 446 halaman

ISBN: 978-602-7888-33-3

Catatan penerbitan:

Buku ini pernah dimuat sebagai cerita bersambung di Koran Tempo pada 2 April 2001 sampai 10 Oktober 2001 dengan judul Rama-Sinta.

Jika Pahlawan Masih Terlalu Mudah Dipercaya

Buku ini masih terasa relevan hingga saat ini, karena kita masih hidup dalam dunia yang suka menyederhanakan tokoh.

Publik memuja seseorang, lalu menghapus semua kesalahannya. Mereka membenci orang lain, lalu membuang semua ucapannya seperti sampah. Dan sebagian orang sering lebih suka memilih kubu daripada membaca kerumitan.

Padahal hidup tidak sesopan poster kampanye.

Kitab Omong Kosong mengajak pembaca curiga pada cerita yang terlalu rapi. Terutama cerita yang meminta kita percaya tanpa bertanya.

Dan mungkin itu alasan buku ini tetap penting.

Ia membuat kita sadar bahwa legenda pun bisa menjadi propaganda jika dibaca tanpa jarak.

Buku Bisa Selesai, Tapi Bagaimana dengan Ceritanya?

Setelah membaca buku ini, pertanyaan yang tertinggal bukan hanya tentang Rama dan Sinta.

Pertanyaannya pindah ke kita.

Mungkin “Persembahan Kuda” masih berjalan hari ini, hanya dengan nama yang lebih halus. Banyak kekuasaan datang membawa kata damai, lalu diam-diam meminta semua orang tunduk. Di sisi lain, Sinta modern masih harus membuktikan diri di hadapan prasangka publik yang tidak pernah benar-benar pensiun.

Di titik itu, buku ini berhenti. Selesai. Ia menjadi cermin.

Dan cermin yang baik memang jarang membuat orang nyaman.

Kadang masalah terbesar bukan Rahwana yang jahat, tapi Rama yang terlalu lama dipercaya tanpa pernah ditanya, apakah ia baik? @tabooo

Tags: Kitab Omong KosongReview BukuSastra IndonesiaSeno Gumira AjidarmaTabooo Book Club

Kamu Melewatkan Ini

Kaum Tani Mengganyang Setan-Setan Desa: D.N. Aidit Membongkar Kekuasaan di Balik Kemiskinan

Kaum Tani Mengganyang Setan-Setan Desa: D.N. Aidit Membongkar Kekuasaan di Balik Kemiskinan

by Tabooo
Juli 17, 2026

D.N. Aidit tidak melihat kemiskinan petani sebagai nasib. Melalui riset di Jawa Barat, ia membongkar hubungan tanah, utang, pasar, dan...

Aksi Massa: Saat Tan Malaka Membongkar Cara Perubahan Dibangun

Aksi Massa: Saat Tan Malaka Membongkar Cara Perubahan Dibangun

by Tabooo
Juli 13, 2026

Tan Malaka menolak perubahan yang bergantung pada keberanian segelintir orang. Melalui Aksi Massa, ia menunjukkan bahwa kekuatan rakyat membutuhkan kesadaran,...

TABOOO Book Club: Dari Bedah Buku Menuju Ruang Dialog

TABOOO Book Club: Dari Bedah Buku Menuju Ruang Dialog

by dimas
Juli 10, 2026

TABOOO Book Club menghadirkan bedah buku Banteng Terakhir Kasultanan Yogyakarta, menghubungkan literasi, sejarah, dan dialog budaya di Madiun. Tabooo.id -...

Next Post
Salridan-gil: Budaya Uji Nyali Baru di Korea

Salridan-gil: Budaya Uji Nyali Baru di Korea

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id