Kitab Omong Kosong karya Seno Gumira Ajidarma membuka Ramayana dari sisi yang lebih gelap, lebih getir, dan jauh dari dongeng pahlawan. Namun Rama tak lagi tampil sebagai sosok suci yang bebas dari salah. Sementara itu, Sinta harus menanggung prasangka atas tubuh dan kehormatannya sendiri. Di balik kisah cinta, perang, dan harga diri, buku ini pelan-pelan bertanya: berapa banyak kekuasaan pernah menyamar sebagai kebenaran?
Tabooo.id – Ada buku yang mengganggu posisi dudukmu. Kitab Omong Kosong karya Seno Gumira Ajidarma masuk ke jenis itu, karena ia tidak memperlakukan kisah Rama, Sinta, Rahwana, Hanuman, Lawa, dan Kusa sebagai dongeng yang sudah selesai.
Buku ini mengambil dunia Ramayana, lalu membalik lampunya. Tokoh yang biasa tampak suci mulai kehilangan tempat amannya. Cinta yang sering orang puja berubah menjadi medan luka. Kekuasaan yang membawa nama perdamaian justru memperlihatkan wajah paling dinginnya.
Dan di situlah masalahnya mulai terasa dekat.
Ramayana yang Tidak Mau Jadi Dongeng Tidur
Pada permukaan, Kitab Omong Kosong memakai bahan yang akrab: Ayodya, Sinta, Rama, Rahwana, Hanuman, Walmiki, Lawa, dan Kusa.
Tapi Seno tidak menulis ulang Ramayana untuk membuat pembaca merasa hangat. Ia justru membuka bagian yang biasanya sembunyi di balik kata “epik”.
Di awal buku, kuda putih berlari melintasi padang. Anak-anak melihatnya seperti cahaya. Namun keindahan itu cepat berubah menjadi ancaman. Di belakang kuda, datang pasukan Ayodya. Desa bisa rata. Tubuh bisa hilang. Nama Rama yang semula harum berubah menjadi sesuatu yang menakutkan.
Aneh? Ya.
Kadang simbol paling indah justru menjadi pembuka kehancuran.
Perdamaian yang Datang Bersama Pasukan
Bagian paling tajam dari buku ini muncul lewat Persembahan Kuda.
Dalam cerita, kuda putih melintasi kerajaan-kerajaan, dan Ayodya menuntut semuanya tunduk. Jika menolak, pasukan akan menghancurkannya.
Rama bahkan mengirim pesan bahwa ia membawa perdamaian sekaligus peperangan, lalu meminta raja lain memilih salah satunya.
Di titik ini, buku tersebut terasa tidak sedang bicara masa lampau. Ia bicara tentang bahasa kekuasaan.
Bahasa yang terdengar manis di depan umum, tapi membawa ancaman di belakangnya. Bahasa yang memakai kata “persatuan”, “ketertiban”, atau “perdamaian”, sambil menyiapkan hukuman bagi siapa pun yang tidak patuh.
Masalahnya, kekuasaan sering tidak datang dengan wajah jahat. Ia datang dengan kalimat rapi. Lalu orang diminta percaya.
Sinta Tidak Butuh Istana untuk Tetap Utuh
Sinta dalam buku ini bukan sekadar perempuan yang menuntut pembelaan. Ia menjadi pusat luka, sekaligus pusat pembongkaran.
Empat belas tahun sebelum Rama menyebarkan bencana ke anak benua, Sinta berjalan tersaruk-saruk di rimba Dandaka dalam keadaan mengandung. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya tetap melawan. Ia menggugat cinta, kesucian, dan kehormatan yang selama ini orang lain pakai untuk menghakimi perempuan.
Sinta mempertanyakan Rama.
Bukan dengan teriakan murahan. Bukan pula dengan dendam sederhana.
Ia mempertanyakan kenapa cinta seorang raja masih membutuhkan pembuktian tubuh perempuan. Kenapa orang terus menguji kesucian perempuan. Kenapa lelaki sering membayar kehormatannya dengan penderitaan perempuan.
Di sini, Kitab Omong Kosong terasa sangat modern.
Karena sampai hari ini, orang masih menjadikan tubuh sebagai ruang sidang. Banyak perempuan masih harus membuktikan diri kepada standar yang tidak pernah mereka sepakati.
Gelembung Rahwana dan Kejahatan yang Tidak Selalu Bertanduk
Rahwana tidak benar-benar selesai. Dalam buku ini, ia menyebarkan Gelembung Rahwana, semacam pengaruh jahat yang membuat manusia menipu, memfitnah, mengadu domba, mencuri, merampok, bahkan membunuh.
Bagian ini menarik karena kejahatan tidak digambarkan sebagai monster yang selalu mudah dikenali.
Ia bisa masuk lewat prasangka. Kadang bentuknya gosip kecil yang orang ulang sambil tertawa. Di lain waktu, ia muncul sebagai keramaian yang mendadak merasa paling benar.
Di Ayodya, orang-orang mulai meragukan Sinta. Mereka tidak butuh bukti kuat. Mereka hanya butuh kecurigaan yang terus dibakar. Setelah itu, opini berubah menjadi hukuman sosial.
Kamu mungkin pernah melihat versi modernnya.
Kamu bisa melihatnya di kolom komentar, grup WhatsApp, ruang kerja, bahkan meja makan keluarga.
Seseorang cukup dituduh. Lalu massa merasa sudah menjadi hakim.
Walmiki, Penulis yang Mengganggu Jalan Cerita
Walmiki dalam buku ini bukan hanya empu yang mencatat. Ia seperti pengingat bahwa cerita tidak pernah netral.
Siapa yang menulis, dia ikut menentukan dunia.
Dalam salah satu bagian, Walmiki menulis kisah Sinta, Lawa, dan Kusa. Anak-anak itu tumbuh jauh dari istana, belajar berenang, berburu, bertani, membaca, menari, menyanyi, berpikir, berhitung, dan bertanya. Mereka terus mempertanyakan siapa ayah mereka.
Pertanyaan itu sederhana.
Tapi justru dari pertanyaan sederhana, bangunan besar mulai retak.
“Siapa ayah kami?”
Di baliknya ada pertanyaan lain, siapa yang berhak menentukan asal-usul kita? Siapa yang mengatur versi resmi hidup kita? Siapa yang diuntungkan ketika cerita dibuat hanya dari sudut pandang pemenang?
Buku Ini Tidak Membenci Pahlawan
Kitab Omong Kosong tidak terasa seperti serangan kosong terhadap Rama. Buku ini lebih licik dari itu.
Ia tidak sekadar berkata, “Rama jahat.”
Buku ini menunjukkan bagaimana pahlawan bisa keliru. Orang baik bisa berubah menjadi alat kekuasaan. Cinta pelan-pelan menjelma kontrol. Sementara itu, perdamaian sering datang sebagai alasan paling rapi untuk menaklukkan orang lain.
Itu yang membuat buku ini tidak nyaman.
Karena pembaca tidak bisa lagi bersembunyi di balik kategori mudah, baik dan jahat, suci dan kotor, pahlawan dan musuh.
Seno membuat semuanya lebih licin, manusiawi, dan berbahaya.
Informasi Buku

Judul: Kitab Omong Kosong
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: Bentang Pustaka
Edisi: Edisi III, cetakan pertama, Mei 2013
Tebal: x + 446 halaman
ISBN: 978-602-7888-33-3
Catatan penerbitan:
Buku ini pernah dimuat sebagai cerita bersambung di Koran Tempo pada 2 April 2001 sampai 10 Oktober 2001 dengan judul Rama-Sinta.
Jika Pahlawan Masih Terlalu Mudah Dipercaya
Buku ini masih terasa relevan hingga saat ini, karena kita masih hidup dalam dunia yang suka menyederhanakan tokoh.
Publik memuja seseorang, lalu menghapus semua kesalahannya. Mereka membenci orang lain, lalu membuang semua ucapannya seperti sampah. Dan sebagian orang sering lebih suka memilih kubu daripada membaca kerumitan.
Padahal hidup tidak sesopan poster kampanye.
Kitab Omong Kosong mengajak pembaca curiga pada cerita yang terlalu rapi. Terutama cerita yang meminta kita percaya tanpa bertanya.
Dan mungkin itu alasan buku ini tetap penting.
Ia membuat kita sadar bahwa legenda pun bisa menjadi propaganda jika dibaca tanpa jarak.
Buku Bisa Selesai, Tapi Bagaimana dengan Ceritanya?
Setelah membaca buku ini, pertanyaan yang tertinggal bukan hanya tentang Rama dan Sinta.
Pertanyaannya pindah ke kita.
Mungkin “Persembahan Kuda” masih berjalan hari ini, hanya dengan nama yang lebih halus. Banyak kekuasaan datang membawa kata damai, lalu diam-diam meminta semua orang tunduk. Di sisi lain, Sinta modern masih harus membuktikan diri di hadapan prasangka publik yang tidak pernah benar-benar pensiun.
Di titik itu, buku ini berhenti. Selesai. Ia menjadi cermin.
Dan cermin yang baik memang jarang membuat orang nyaman.
Kadang masalah terbesar bukan Rahwana yang jahat, tapi Rama yang terlalu lama dipercaya tanpa pernah ditanya, apakah ia baik? @tabooo





