Tabooo.id: Talk – Kita mulai dari pertanyaan simpel: kenapa setiap ada kata pajak, jantung kita otomatis deg-degan?
Begitu dengar istilah baru seperti Coretax atau M-Pajak, sebagian dari kita langsung panik. Notifikasi masuk? Klik. Ada email mengatasnamakan pajak? Buka. Ada telepon bilang data kita bermasalah? Dengar setengah gemetar. Padahal, justru di momen panik itulah penipu masuk dengan santai, duduk di meja kita, dan bilang, Tenang, saya bantu.
Serius, kapan terakhir kali kamu cek dulu sebelum percaya?
Belakangan ini, nama sistem seperti Coretax dan aplikasi perpajakan resmi sering dipakai sebagai kedok. Penipu menyamar seolah-olah bagian dari sistem digitalisasi pajak. Mereka kirim tautan palsu, file APK mencurigakan, bahkan mengaku dari instansi resmi seperti Direktorat Jenderal Pajak. Format pesannya rapi. Bahasanya formal. Kadang bahkan ada logo yang terlihat meyakinkan.
Dan kita? Karena takut denda, takut salah lapor, atau sekadar tidak mau ribet, langsung klik.
Masalahnya bukan cuma soal literasi digital. Ini soal psikologi.
Modus Lama, Bungkus Baru
Penipuan model begini sebenarnya bukan barang baru. Dulu mungkin berkedok undian berhadiah. Lalu bergeser ke pinjaman online. Sekarang? Pajak dan sistem digital.
Kenapa pajak? Karena hampir semua orang merasa “punya urusan” dengan pajak. Ada NPWP, ada laporan, ada kewajiban. Penipu bermain di dua hal: rasa takut dan rasa tidak ingin repot.
Mereka tahu banyak orang belum sepenuhnya memahami sistem seperti Coretax atau aplikasi resmi pajak. Mereka tahu sebagian dari kita malas membaca detail. Dan mereka tahu kita sering merasa, “Ah, ini pasti penting. Daripada salah, mending ikuti saja.”
Padahal, justru itu jebakannya.
Bayangkan skenario ini. Kamu lagi kerja, tiba-tiba ada pesan WhatsApp:
“Data pajak Anda belum sinkron di sistem Coretax. Segera klik link berikut untuk menghindari pemblokiran NPWP.”
Bahasanya resmi. Ada ancaman halus. Deadline sempit. Kamu lagi capek. Tanpa pikir panjang, klik.
Selesai.
Data bocor. Akun terkuras. Baru sadar setelah notifikasi bank berbunyi.
Ironisnya, banyak korban bukan orang yang gaptek. Ada karyawan, pengusaha, bahkan yang sehari-hari akrab dengan teknologi. Artinya, ini bukan soal pintar atau tidak pintar. Ini soal momen lengah.
“Salah Sendiri” atau Sistem yang Kurang Siap?
Sekarang mari kita lihat dari sisi lain.
Ada yang bilang ya salah sendiri. Harusnya lebih hati-hati.” Secara logika, ada benarnya. Informasi soal penipuan sudah sering disosialisasikan. Instansi resmi berkali-kali menegaskan mereka tidak pernah meminta data pribadi lewat chat personal.
Tapi mari jujur: transformasi digital kita sedang ngebut. Istilah baru bermunculan. Sistem berubah. Tidak semua orang punya waktu mengikuti setiap detailnya.
Sementara itu, penipu justru sangat adaptif. Mereka cepat membaca situasi. Begitu ada kebijakan atau sistem baru, mereka langsung bikin versi palsunya. Mereka bergerak lebih cepat dari edukasi publik.
Jadi, apakah sepenuhnya adil menyalahkan korban?
Tabooo melihat ini sebagai problem bersama. Di satu sisi, masyarakat perlu lebih kritis. Di sisi lain, edukasi dan perlindungan harus lebih agresif, lebih masif, dan lebih mudah dipahami. Jangan sampai rakyat diminta melek digital, tapi dibiarkan sendirian menghadapi serangan yang makin canggih.
Jangan Biarkan Panik Mengalahkan Logika
Sekarang kita praktis saja. Ada beberapa prinsip sederhana yang bisa jadi tameng
Pertama, instansi resmi tidak pernah meminta password, OTP, atau data sensitif lewat chat pribadi. Titik.
Kedua, jangan instal aplikasi dari luar toko resmi hanya karena ada yang bilang “ini versi terbaru sistem pajak”.
Ketiga, jangan percaya ancaman dengan tenggat super singkat. Urusan resmi jarang diselesaikan dalam hitungan menit.
Kalau ragu? Buka situs resmi. Cek kanal informasi resmi. Hubungi call center yang tertera di laman resmi—bukan nomor yang dikirim si pengirim pesan. Jangan tanya ke maling apakah dia maling.
Kita hidup di era di mana tampilan bisa dipalsukan, suara bisa ditiru, bahkan identitas bisa disalin. Yang tidak bisa dipalsukan cuma satu: kebiasaan kita untuk berhenti sejenak dan berpikir.
Dan mungkin ini yang paling penting: jangan biarkan rasa takut mengalahkan logika.
Karena pola penipuan ini selalu sama. Mereka ingin kita panik. Mereka ingin kita merasa bersalah, merasa terancam, merasa harus segera bertindak. Padahal, keputusan yang diambil saat panik hampir selalu berujung penyesalan.
Digitalisasi pajak itu penting. Modernisasi sistem itu perlu. Tapi kewaspadaan jauh lebih penting.
Jadi sebelum kamu klik link berikutnya yang mengatasnamakan Coretax atau M-Pajak, tarik napas dulu. Tanyakan: ini resmi atau cuma modus? Ini informasi valid atau jebakan emosional?
Di dunia digital, satu klik bisa jadi mahal. Lalu, kamu di kubu mana? Tim tenang dan cek dulu atau tim panik dan klik dulu? @eko





