Tabooo.id: Edge – Bayangkan ini kamu sedang nongkrong di kafe hits, nge-vape sambil scroll TikTok, lalu tiba-tiba sadar rokok elektrikmu bisa lebih berbahaya daripada mantan toxic yang nggak move on. Memang terdengar absurd, tapi Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Pol Suyudi Ario, menegaskan bahwa vape tidak akan membantu seseorang berhenti dari rokok. Bahkan, menurutnya, gadget yang sering disebut “stylish” itu justru membuka pintu bagi ketergantungan zat adiktif lain yang lebih berbahaya.
Menurut Suyudi, “Narasi vape sebagai alat bantu berhenti merokok hanyalah ilusi yang belum terbukti secara ilmiah.” Dengan kata lain, alih-alih menolong, vape justru menjerumuskan penggunanya ke narkotika kimiawi. Selain itu, zat ini terbukti lebih berbahaya dibanding rokok konvensional.
Vape Sebagai Media Narkoba
Selain itu, masalahnya tidak berhenti di sana. Komjen Suyudi menyoroti tren baru sebagian orang menggunakan vape sebagai media untuk mengonsumsi narkoba cair. Dia menyebutnya extraordinary crime atau kejahatan luar biasa.
“Dengan demikian, kesannya orang hanya lagi nge-vape, lagi ngerokok elektrik. Namun nyatanya, isinya sabu cair, Etomidate, atau jenis kimia narkotika lain,” jelasnya.
Lebih jauh lagi, data resmi dari Kementerian Kesehatan dan WHO menunjukkan lonjakan pengguna rokok elektrik di Indonesia hingga sepuluh kali lipat dari 0,3 persen pada 2011 menjadi 3 persen pada 2021. Selain itu, survei komprehensif BNN, BRIN, dan BPS mencatat bahwa penyalahguna narkotika pada 2025 mencapai 2,11% dari total penduduk, atau sekitar 4,11 juta orang. Artinya, fenomena ini bukan sekadar rumor.
Vape Bisa Menjadi Jebakan Kimia
Tidak hanya itu, BNN pernah menguji 341 sampel cairan vape. Hasilnya cukup mengejutkan 11 sampel mengandung sintetik kanabinoid, satu sampel metamfetamin, dan 23 sampel Etomidate narkotika golongan II menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2025. Dengan demikian, vape yang awalnya dianggap “keren dan aman” bisa berubah menjadi jebakan kimiawi.
Main Game Cheat Mode: Stylish Tapi Berbahaya
Ironisnya, di tengah euforia global soal rokok elektrik dan “gaya hidup urban kekinian”, masyarakat justru terseret ke zona abu-abu narkotika kimiawi. Seolah-olah sedang main game cheat mode tampak stylish dan santai, tetapi nyawa dan kesehatan bisa tercecer di leaderboard.
Oleh karena itu, jika kamu berpikir sekadar vape itu aman, ingat satu hal ilusi selalu lebih manis daripada kenyataan. Di dunia nyata, manisnya itu bisa datang dengan dosis Etomidate. Dengan kata lain, saat melihat seseorang vape di kafe, jangan cuma bilang “wow, aesthetic banget.” Mungkin dia baru saja naik level ke narkotika. @dimas




