Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

RUU Perampasan Aset: Senjata Baru atau Sekadar Wacana?

by dimas
Februari 13, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Edge – Coba pikirkan ini dompetmu jatuh di jalan. Isinya tabungan setahun, KTP, ATM, plus struk kopi yang belum sempat kamu klaim poinnya. Polisi menangkap pelakunya. Namun mereka berkata, “Pelakunya dapat. Uangnya? Sebagian besar sudah hilang.”

Kira-kira seperti itu rasa publik setiap mendengar kata “korupsi”. Nama pelaku muncul di headline. Akan tetapi, uangnya sering lenyap tanpa jejak yang jelas.

Di tengah situasi itu, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali mendorong pengesahan RUU Perampasan Aset. Melalui pernyataan di kanal YouTube resminya, ia menegaskan Indonesia membutuhkan sistem hukum yang mampu menarik kembali uang negara hasil kejahatan, bukan hanya memenjarakan pelaku tanpa memulihkan kerugian.

Menurutnya, negara harus memperkuat instrumen hukum agar bisa merampas aset, menimbulkan efek jera, dan melindungi masyarakat dari kerugian berulang. Dengan kata lain, hukum tidak boleh berhenti pada vonis badan hukum harus menyentuh rekening.

Ratusan Triliun Menguap

Data berbicara keras. Indonesia Corruption Watch mencatat potensi kerugian negara akibat korupsi sepanjang 2013-2022 mencapai Rp238 triliun. Sementara itu, pada 2024 saja, potensi kerugian dari perkara yang ditangani kejaksaan menyentuh Rp310 triliun.

Ini Belum Selesai

Api Dipadamkan, Masalahnya Jangan Ikut Dibiarkan

Survei SMRC: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Anjlok ke 44,5 Persen

Namun negara hanya berhasil menarik kembali sekitar Rp1,6 triliun ke kas negara.

Artinya, lebih dari 90 persen aset hasil korupsi tidak kembali. Uang itu menguap dari sistem, sementara publik hanya menyaksikan angka-angka besar lewat konferensi pers.

Gibran menyebut kondisi ini sebagai alarm serius. Ia menilai sistem yang ada belum cukup kuat menghadapi pola kejahatan yang semakin kompleks. Para pelaku tidak lagi bekerja sendiri. Mereka bergerak terorganisir, lintas batas negara, dan memanfaatkan teknologi untuk menyembunyikan aset.

Jika negara tidak mengejar aset secara agresif, maka korupsi hanya berubah bentuk pelaku dihukum, tetapi hasil kejahatan tetap dinikmati jaringan di sekitarnya. Dan publik pun bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang benar-benar rugi?

Dari Korupsi hingga Kejahatan Terorganisir

RUU Perampasan Aset tidak hanya menyasar korupsi. Regulasi ini juga membidik kejahatan lain seperti narkotika, pertambangan ilegal, penangkapan ikan ilegal, pembalakan liar, perjudian daring, hingga perdagangan orang.

RUU tersebut merujuk pada prinsip dalam United Nations Convention Against Corruption tahun 2003. Salah satu poin pentingnya memungkinkan negara merampas aset tanpa harus menunggu putusan pidana berkekuatan tetap, terutama ketika pelaku meninggal dunia atau melarikan diri ke luar negeri.

Dengan pendekatan itu, negara menggeser fokus. Negara tidak lagi semata-mata mengejar pelaku, tetapi langsung memburu hasil kejahatan. Sebab uang itulah yang dapat membiayai sekolah, membangun infrastruktur, serta menjaga stabilitas ekonomi.

Logikanya sederhana: jika korupsi merampas hak publik, maka negara harus merebut kembali hak tersebut.

Antara Ketegasan dan Kekhawatiran

Meski demikian, sebagian pihak menyuarakan kekhawatiran. Mereka mempertanyakan potensi benturan dengan prinsip praduga tak bersalah dan risiko penyalahgunaan kewenangan.

Gibran mengakui kekhawatiran tersebut. Karena itu, ia mendorong pembahasan RUU dilakukan secara serius, transparan, dan melibatkan berbagai kalangan, termasuk praktisi hukum dan profesional independen. Pemerintah, katanya, harus memastikan regulasi ini kuat sekaligus diawasi secara ketat.

Di titik ini, publik menghadapi dilema klasik. Masyarakat menginginkan negara tegas terhadap koruptor. Namun masyarakat juga menuntut jaminan bahwa kekuasaan tidak bertindak sewenang-wenang.

Keseimbangan itulah yang harus dijaga. Sebab dalam negara hukum, ketegasan tanpa kontrol bisa berbahaya. Namun kelemahan tanpa tindakan jauh lebih merugikan.

Mengembalikan Uang, Mengembalikan Kepercayaan

Pada akhirnya, pesan yang ingin ditegaskan Gibran cukup jelas: anggaran negara berasal dari pajak rakyat dan harus kembali untuk rakyat.

Korupsi tidak sekadar merusak angka dalam laporan audit. Korupsi menghambat pertumbuhan ekonomi, menciptakan ketidakpastian investasi, dan menurunkan kualitas layanan publik. Setiap rupiah yang hilang berarti satu ruang kelas yang tak jadi dibangun, satu fasilitas kesehatan yang tertunda, atau satu bantuan sosial yang berkurang.

Karena itu, pertanyaannya bukan lagi apakah RUU ini penting. Pertanyaannya apakah sistem hukum kita benar-benar siap mengejar uang haram sampai ke akar?

Jika negara mampu mengembalikan aset secara nyata, publik akan melihat hasilnya dalam bentuk pelayanan dan pembangunan. Namun jika uang rakyat terus hilang tanpa jejak yang jelas, maka kepercayaan publik pun ikut tergerus.

Dan dalam demokrasi, kehilangan kepercayaan sering kali jauh lebih mahal daripada kehilangan triliunan rupiah. @dimas

Tags: Anti KorupsiAsetBersihKerugianKorupsi di IndonesiaKriminal & HukumNasionalNegararakyatReformasiRUUtransparansiUang

Kamu Melewatkan Ini

Benarkah DPR Masukkan RUU Larangan Membeli Rokok di Indonesia?

Benarkah DPR Masukkan RUU Larangan Membeli Rokok di Indonesia?

by eko
September 7, 2026

Benarkah DPR buat RUU larangan membeli rokok? Cek fakta klaim viral dan aturan rokok yang sebenarnya berlaku di Indonesia. Tabooo.id...

Wiji Thukul: 28 Tahun Hilang, Api Perjuangan Tetap Menyala

Wiji Thukul: 28 Tahun Hilang, Api Perjuangan Tetap Menyala

by dimas
September 1, 2026

Wiji Thukul hilang selama 28 tahun. Jejak perjuangan, puisi, dan ingatannya tetap hidup di tengah pertanyaan tentang penghilangan paksa yang...

Kemenbud Rilis Lima Jilid Sejarah Indonesia, Siapa yang Menentukan Ingatan Bangsa?

Kemenbud Rilis Lima Jilid Sejarah Indonesia, Siapa yang Menentukan Ingatan Bangsa?

by Tabooo
September 1, 2026

Kementerian Kebudayaan merilis lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Lebih dari 5.000 halaman membawa pembaca dari...

Next Post
Ngurawan dan Mitos Pejabat yang Tak Bertahan Lama

Ngurawan dan Mitos Pejabat yang Tak Bertahan Lama

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id