“From the Desk of the CEO – J.E.”
Tabooo.id: Talk – Selama 14 hari saya berada di Kota Madiun, saya tidak sedang menghitung angka pertumbuhan ekonomi. Saya sedang menghitung jarak antara yang terlihat sejahtera dan yang berjuang dalam diam.
Ketimpangan sosial di kota ini bukan sekadar statistik BPS. Ia hadir dalam bentuk rumah yang nyaris roboh di gang sempit, anak-anak yang belajar dengan fasilitas terbatas, dan orang tua yang harus memilih antara membeli beras atau obat.
Sebagai CEO Tabooo Network Indonesia, saya datang bukan untuk menghakimi. Saya datang untuk mendengar.
Dan yang saya dengar adalah suara yang selama ini terlalu pelan untuk masuk headline.
Ketika Media Memilih Berpihak
Tabooo.id adalah salah satu divisi dari PT Tabooo Network Indonesia, dibangun dengan satu keyakinan: Media harus punya sikap. Dalam berita kami berjudul “Lebih dari Media: Tabooo Network Indonesia Memihak yang Rentan”, kami menegaskan bahwa keberanian bukan hanya soal mengkritik kekuasaan, tetapi juga soal berdiri di sisi yang sering diabaikan.
Empat belas hari di Madiun menguji komitmen itu.
Saya menyaksikan langsung bagaimana ketimpangan bekerja secara sistemik: Akses pekerjaan yang terbatas, perlindungan sosial yang belum merata, dan minimnya ruang aspirasi bagi warga kelas bawah. Ini bukan soal malas atau tidak mau berusaha. Ini soal struktur yang belum sepenuhnya adil.
Ketika seseorang lahir tanpa akses yang sama, kompetisi menjadi ilusi.
Apresiasi untuk Respon Cepat Kelurahan Winongo
Di tengah berbagai catatan kritis, ada hal yang patut diapresiasi.
Pihak Kelurahan Winongo, Kota Madiun, menunjukkan respon cepat terhadap laporan kondisi warga yang membutuhkan perhatian. Aparatur turun langsung, melakukan verifikasi, dan mengupayakan solusi administratif serta koordinasi bantuan.
Langkah ini mungkin terlihat prosedural. Tapi bagi warga yang merasa tak terdengar, kehadiran aparat yang tanggap adalah bentuk pengakuan atas martabat mereka.
Kita sering terlalu mudah menyalahkan birokrasi. Tapi ketika ada perangkat pemerintahan yang bekerja dengan empati dan kecepatan, kita juga wajib mengakui.
Tabooo percaya kritik harus berimbang. Jika kita berani menyorot kelalaian, kita juga harus berani memberi apresiasi atas respons yang nyata.
Ketimpangan Itu Soal Akses
Ketimpangan sosial bukan sekadar perbedaan pendapatan. Ia adalah perbedaan akses:
- Akses pendidikan yang layak.
- Akses kesehatan yang manusiawi.
- Akses informasi dan kesempatan kerja.
Di sinilah peran media menjadi penting. Media bukan hanya melaporkan peristiwa, tapi membangun kesadaran kolektif. Jika ketimpangan terus dianggap “biasa”, maka ia akan diwariskan sebagai normalitas.
Dan normalitas yang tidak adil adalah bentuk kekerasan yang paling halus.
Refleksi untuk Kita Semua
Empat belas hari di Kota Madiun tidak membuat saya pesimis. Justru sebaliknya, saya melihat kepedulian warga, saya melihat aparatur yang bekerja, dan saya melihat ruang kolaborasi yang mungkin tumbuh. Tapi saya juga melihat betapa mudahnya kita menutup mata jika tidak mau turun langsung.
Tabooo Network Indonesia lahir dengan visi memberdayakan suara yang berani dan mengubah budaya melalui keberanian, kreativitas, dan integritas. Keberanian itu dimulai dari hal sederhana: tidak berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Ketimpangan sosial bukan isu musiman. Ia adalah cermin.
Dan pertanyaannya sederhana, apakah kita cukup berani untuk melihat wajah kita sendiri di dalamnya?
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
@tabooo




