Tragedi datang lebih dulu, baru solusi menyusul. Tabrakan maut di Bekasi Timur yang menewaskan 14 orang akhirnya mendorong keputusan besar: Presiden Prabowo Subianto menyetujui pembangunan flyover sesuatu yang sebenarnya sudah lama diajukan.
Tabooo.id: Nasional – Setelah tabrakan maut antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line yang menewaskan 14 orang, Presiden Prabowo Subianto akhirnya menyetujui pembangunan flyover di wilayah tersebut.
Keputusan itu datang cepat. Tapi tragedinya datang lebih dulu.
Insiden pada Senin (27/4) malam langsung mengubah wajah transportasi yang sebelumnya terasa “biasa” menjadi ruang penuh risiko. Dalam hitungan detik, perjalanan rutin berubah jadi kabar duka.
Prabowo menyebut, Pemerintah Daerah Bekasi sebenarnya sudah lebih dulu mengajukan pembangunan flyover. Alasannya sederhana, tapi krusial: wilayah padat, mobilitas tinggi, dan jalur kereta yang menjadi nadi pergerakan warga.
“Pemerintah Daerah Bekasi telah mengajukan dibuat flyover, karena Bekasi ini padat dan kebutuhan kereta api sangat penting,” kata Prabowo saat menjenguk korban di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid, Selasa.
Ia memastikan proyek tersebut tidak akan berlama-lama di atas kertas.
“Sudah saya setujui. Segera dibangun flyover dengan bantuan Presiden,” ujarnya.
Bekasi: Padat, Cepat, Tapi Rentan
Bekasi bukan sekadar kota penyangga. Ia adalah simpul mobilitas jutaan orang setiap hari.
Ribuan pekerja keluar-masuk kota ini lewat jalur rel. KRL dan kereta jarak jauh melintas tanpa henti. Tapi di balik itu, masih ada perlintasan sebidang yang mempertemukan rel dan jalan tanpa pengamanan maksimal.
Di titik-titik seperti inilah risiko selalu mengintai.
Selama ini, warga terbiasa menunggu kereta lewat. Terbiasa menebak waktu. Terbiasa mengambil risiko kecil yang ternyata bisa berujung besar.
Dan tragedi kemarin jadi pengingat paling keras.
Banyak Titik, Masalah Lama
Masalah ini ternyata jauh lebih luas.
Prabowo mengungkap, ada sekitar 1.800 titik perlintasan kereta di Pulau Jawa yang menghadapi risiko serupa. Banyak di antaranya belum memiliki penjagaan memadai.
Artinya, Bekasi bukan kasus tunggal. Ia hanya satu dari banyak titik rawan yang selama ini berjalan di antara normal dan bahaya.
Prabowo bahkan menyebut akar masalah ini sudah sangat lama.
“Ini dari zaman Belanda. Sudah puluhan tahun. Sekarang kita harus selesaikan,” tegasnya.
Pernyataan itu membuka realita lain: kita sebenarnya sudah lama tahu masalahnya tapi belum cukup cepat menyelesaikannya.
Rp4 Triliun untuk Keselamatan
Untuk menutup celah risiko itu, pemerintah menyiapkan anggaran hampir Rp4 triliun.
Dana tersebut akan digunakan untuk membangun flyover, underpass, serta menambah pos jaga di titik-titik rawan.
Tujuannya jelas: mengurangi potensi kecelakaan dan memastikan transportasi publik berjalan lebih aman.
Namun, di tengah angka besar itu, muncul pertanyaan yang tidak kalah besar.
Kenapa langkah ini baru terasa mendesak setelah tragedi?
Waktu yang Selalu Datang Terlambat
Selama ini, usulan sudah ada. Risiko juga sudah terlihat. Data bahkan sudah tersedia.
Tapi keputusan sering datang belakangan.
Publik kini tidak hanya melihat rencana pembangunan. Mereka mulai melihat pola yang berulang: masalah dibiarkan, tragedi terjadi, lalu solusi dipercepat.@eko





