Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Upacara HUT RI di Lahan Karhutla: Merdeka Berarti Menjaga Alam

by dimas
Agustus 17, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter
Upacara HUT RI ke-81 di lahan bekas karhutla Kubu Raya menjadi pesan bahwa merdeka juga berarti menjaga alam dan mencegah bencana.

Tabooo.id – Senin pagi, 17 Agustus 2026, Merah Putih berkibar di atas lahan bekas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Limbong, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Sekitar 150 orang mengikuti upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Mereka berasal dari masyarakat, Karang Taruna, relawan pemadam kebakaran, BPBD, dan sejumlah unsur terkait.

Lokasi itu bukan halaman kantor. Bukan pula lapangan yang rapi dengan rumput hijau.

Upacara justru berlangsung di tanah yang menyimpan bekas luka kebakaran.

Pemandangan tersebut terasa kontras. Di satu sisi, Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan. Di sisi lain, para petugas masih menghadapi ancaman karhutla.

Ini Belum Selesai

Api Dipadamkan, Masalahnya Jangan Ikut Dibiarkan

Survei SMRC: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Anjlok ke 44,5 Persen

Karena itu, upacara di Desa Limbong membawa pesan yang lebih dalam.

Kemerdekaan tidak hanya berbicara tentang bendera, lagu kebangsaan, atau seremoni. Maknanya juga menyentuh tanah, udara, air, dan lingkungan tempat manusia hidup.

Ketua Karang Taruna Kabupaten Kubu Raya Juliansyah mengatakan pemilihan lokasi tersebut sengaja dilakukan.

Menurutnya, momentum kemerdekaan menjadi ruang untuk mengingatkan generasi muda agar peduli terhadap lingkungan.

“Tentunya ada pesan yang ingin kami sampaikan kepada generasi muda untuk bisa mempertahankan dan peduli terhadap lingkungan sekitar,” kata Juliansyah.

Ketika Kemerdekaan Bertemu Ancaman Api

Musim kemarau membuat lahan lebih mudah terbakar. Pada saat yang sama, petugas menghadapi kondisi lapangan yang semakin sulit.

Kepala BPBD Kabupaten Kubu Raya Harianto mengatakan lebih dari 80 titik panas terpantau pada Senin berdasarkan data BMKG.

Masalahnya tidak berhenti pada jumlah titik panas.

Debit air terus berkurang. Sejumlah lokasi juga sulit dijangkau kendaraan. Cuaca kering kemudian meningkatkan risiko penyebaran api.

Situasi tersebut membuat perjuangan melawan karhutla membutuhkan banyak pihak.

Relawan turun memadamkan api. Petugas BPBD bergerak ke lokasi. Masyarakat ikut menjaga wilayahnya.

Namun, pekerjaan itu tidak boleh berhenti ketika api padam.

Pencegahan tetap menjadi kunci. Kesadaran masyarakat juga menentukan apakah persoalan yang sama akan kembali terjadi.

Juliansyah ingin semangat perjuangan para pahlawan hadir dalam bentuk baru. Kali ini, perjuangannya berupa upaya menjaga alam.

“Bagaimana kita menghadirkan semangat kemerdekaan itu untuk generasi muda, para relawan pemadam kebakaran, BPBD, dan lainnya, untuk peduli terhadap lingkungan dan melestarikannya,” ujarnya.

Merah Putih di Atas Tanah yang Terluka

Ada ironi kuat di lokasi upacara tersebut.

Bendera Merah Putih berkibar sebagai simbol kemerdekaan. Namun, tanah di bawahnya memperlihatkan konsekuensi ketika lingkungan kehilangan perlindungan.

Lahan yang terbakar bukan sekadar hamparan tanah hitam.

Di baliknya ada ekosistem yang terganggu. Ada masyarakat yang menghadapi asap. Ada petugas yang harus kembali bekerja ketika api muncul.

Lokasi itu akhirnya berubah menjadi semacam cermin.

Indonesia telah merdeka selama 81 tahun. Namun, persoalan lingkungan masih terus menguji kemampuan kita menjaga negeri sendiri.

Dulu, para pejuang menghadapi penjajahan.

Kini, bentuk perjuangannya berubah.

Relawan menghadapi kobaran api. Petugas mencari sumber air. Masyarakat menjaga lingkungan sekitar. Semua bergerak ketika ancaman datang.

Harianto pun menegaskan bahwa perjuangan menghadapi karhutla belum selesai.

“Perjuangan kita ini belum usai. Terus kita lanjutkan untuk membantu masyarakat dan menyelamatkan alam dari bencana kebakaran hutan dan lahan,” katanya.

Pernyataan itu bukan sekadar slogan.

Kondisi lapangan masih menunjukkan tantangan nyata. Titik panas masih muncul. Persediaan air semakin terbatas. Akses menuju sejumlah wilayah juga tidak mudah.

Water Bombing Bukan Jawaban Tunggal

Untuk memperkuat penanganan, Satgas Udara BPBD Provinsi Kalimantan Barat menjalankan operasi water bombing di sejumlah wilayah Kubu Raya.

Selain itu, pemerintah juga menjalankan operasi modifikasi cuaca (OMC). Langkah tersebut bertujuan membantu mengatasi kondisi kekeringan dan kebakaran.

Teknologi memang membantu mempercepat respons.

Namun, pemadaman tetap bekerja di ujung persoalan.

Ketika pencegahan gagal, petugas harus menghadapi api. Saat sumber air menipis, proses pemadaman menjadi lebih berat. Jika cuaca terus mengering, risiko kebakaran pun meningkat.

Karena itu, persoalannya tidak cukup dijawab dengan pertanyaan tentang siapa yang memadamkan api.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: mengapa api terus muncul?

Di sinilah persoalan karhutla berubah dari urusan pemadaman menjadi persoalan lingkungan dan perilaku.

Nasionalisme Jangan Berhenti di Seremoni

Upacara kemerdekaan biasanya berlangsung di sekolah, kantor pemerintahan, lapangan, atau ruang publik.

Desa Limbong memilih tempat yang berbeda.

Lahan bekas karhutla menjadi panggung untuk mengingatkan bahwa kemerdekaan juga membawa tanggung jawab ekologis.

Selama ini, nasionalisme sering hadir melalui simbol. Bendera berkibar. Lagu kebangsaan terdengar. Upacara berlangsung khidmat.

Padahal, nasionalisme juga bisa muncul lewat tindakan sederhana.

Menjaga lingkungan adalah salah satunya. Mencegah kebakaran merupakan bentuk kepedulian terhadap masa depan. Membantu petugas ketika bencana datang juga menunjukkan solidaritas.

Ini bukan sekadar upacara. Ini pengingat bahwa kemerdekaan tanpa lingkungan yang aman hanya akan berhenti sebagai seremoni.

Dampaknya pun dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Udara tercemar dapat mengganggu aktivitas. Kebakaran mengancam permukiman. Kekeringan memperbesar risiko bencana. Generasi berikutnya juga harus menghadapi konsekuensi dari keputusan kita hari ini.

Karena itu, pertanyaan tentang kemerdekaan tidak cukup berhenti pada sejarah.

Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, kita perlu bertanya lebih jauh.

Apakah kita sudah cukup merdeka untuk menjaga tanah tempat kita hidup?

Sebab, perjuangan mempertahankan Indonesia tidak selalu membutuhkan senjata.

Kadang, perjuangan itu hadir melalui selang pemadam, sumber air, hutan yang dijaga, dan keberanian untuk mencegah api sebelum kembali membesar. @dimas

Tags: HUT RI 81Kalimantan BaratKarhutlaKemerdekaan IndonesiaKubu Raya

Kamu Melewatkan Ini

Langit Oranye, Napas Terancam: Kabut Asap Uji Tanggung Jawab Negara

Langit Oranye, Napas Terancam: Kabut Asap Uji Tanggung Jawab Negara

by dimas
Oktober 18, 2026

Kabut asap akibat karhutla mengancam kesehatan dan penghidupan warga. Simak pentingnya tanggung jawab negara dalam mencegah kebakaran dan melindungi masyarakat....

Karhutla Padam, Sawit Tumbuh di Kawasan Hutan Dharmasraya

Karhutla Padam, Sawit Tumbuh di Kawasan Hutan Dharmasraya

by dimas
Oktober 18, 2026

Karhutla di Dharmasraya padam, tetapi tanaman sawit tumbuh di kawasan hutan seluas 5,9 hektare. Polisi menelusuri dugaan pelanggaran dan pihak...

Dana Karhutla Ikut Dikorupsi, KPK Telusuri Pengadaan HT BNPB

Dana Karhutla Ikut Dikorupsi, KPK Telusuri Pengadaan HT BNPB

by dimas
Oktober 16, 2026

Dana karhutla diduga ikut dikorupsi dalam perkara Dana Siap Pakai BNPB. KPK menelusuri pengadaan alat komunikasi HT untuk penanganan kebakaran...

Next Post
Upacara Kemerdekaan di Gerbang Sritex: Saat Buruh Masih Menunggu Haknya

Upacara HUT RI di Gerbang Sritex: Saat Buruh Masih Menunggu Haknya

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id