Senin, Agustus 24, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

UAE Soroti Keputusan Indonesia Tolak Bantuan Bencana Sumatra

by dimas
Desember 20, 2025
in Global, Reality
A A
Home Reality Global
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Global – Banjir besar di Aceh dan Sumatra Barat menimpa warga miskin, petani kecil, buruh harian, dan masyarakat di kawasan hulu paling parah. Rumah mereka hancur, jalan terputus, listrik padam, dan komunikasi lumpuh. Beberapa desa terisolasi selama berhari-hari tanpa pasokan pangan yang memadai.

Pemerintah memperkirakan kerugian ekonomi akibat bencana mencapai 3,1 miliar dolar AS atau sekitar Rp 51 triliun. Jalan nasional, jembatan, sekolah, rumah ibadah, dan jaringan listrik mengalami kerusakan parah. Aktivitas ekonomi lokal berhenti total, sementara pemerintah daerah yang memiliki kapasitas fiskal terbatas menanggung beban pemulihan.

Pemkot Medan Kembalikan Bantuan 30 Ton Beras

Di tengah krisis, Pemerintah Kota Medan mengembalikan bantuan 30 ton beras dari Uni Emirat Arab (UEA). Wali Kota Medan, Rico Waas, menjelaskan keputusan itu mengikuti arahan pemerintah pusat dan Gubernur Sumatra Utara.

“Kami kembalikan bantuan ini kepada Uni Emirat Arab. Pemerintah pusat belum memutuskan untuk menerima bantuan asing,” ujar Rico, Kamis (18/12/2025).

Rico menegaskan, pemerintah kota tidak bisa menerima bantuan internasional tanpa persetujuan pusat. Setelah koordinasi dengan BNPB, Kementerian Pertahanan, dan kementerian terkait, pemerintah memutuskan untuk menolak bantuan tersebut.

Ini Belum Selesai

Bukan Cuma Soal Motor, Ketika Komunitas Jadi Tempat Mencari Arah

Desa Adat Sade Terbakar, Ratusan Rumah Sasak Ludes dalam Semalam

Indonesia Klaim Mampu Tangani Krisis Sendiri

Keputusan itu sejalan dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto. Dalam sidang kabinet paripurna pada 15 Desember 2025, Prabowo menyebut banyak pemimpin dunia menawarkan bantuan, tetapi Indonesia memilih menanganinya sendiri.

“Saya ditelepon banyak kepala negara yang ingin mengirim bantuan. Saya bilang terima kasih, kami mampu. Indonesia mampu mengatasi ini,” ujar Prabowo.

Pernyataan itu menegaskan kemandirian Indonesia. Pemerintah menilai kapasitas nasional logistik, anggaran, dan sumber daya manusia cukup untuk menangani krisis tanpa bantuan asing.

Respons Cepat Timur Tengah, Jakarta Pilih Hati-hati

Negara-negara Timur Tengah merespons dengan cepat. Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, mengirim telegram belasungkawa, diikuti Raja Salman. Emir Qatar, Sultan Oman, dan Presiden Iran menyampaikan simpati serta menawarkan bantuan, termasuk tim darurat.

Uni Emirat Arab menyatakan kesiapan mengirim logistik dan tenaga kemanusiaan. Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) juga menyerukan bantuan cepat. Solidaritas itu muncul dari kedekatan agama, hubungan migrasi tenaga kerja, serta kemitraan ekonomi yang telah lama terjalin dengan Indonesia.

Meski demikian, Jakarta memilih jalur berbeda.

Politik dan Sensitivitas Lingkungan di Balik Keputusan

Keputusan menolak bantuan asing dipengaruhi faktor politik dan isu lingkungan. Beberapa organisasi masyarakat sipil, seperti Walhi dan JATAM, menyoroti tumpang tindih wilayah bencana dengan konsesi tambang, perkebunan, dan kehutanan industri.

Mereka menilai deforestasi, degradasi daerah aliran sungai, dan eksploitasi lahan memperparah dampak banjir dan longsor. Kehadiran tim internasional ahli hidrologi dan insinyur berpotensi membuka sorotan global terhadap pengelolaan lingkungan Indonesia. Pemerintah baru menilai pengawasan semacam itu bisa menjadi beban politik.

Direktur Desk Indonesia-MENA CELIOS, Muhammad Zulfikar Rakhmat, menilai negara-negara Timur Tengah bergerak karena solidaritas tulus. Namun, Jakarta merespons dengan pertimbangan politik domestik.

“Keengganan pemerintah menciptakan jarak antara niat baik kawasan MENA dan perhitungan politik Jakarta yang berorientasi ke dalam negeri,” tulis Zulfikar di Middle East Monitor.

Refleksi: Kedaulatan atau Gengsi?

Secara resmi, pemerintah ingin menampilkan kedaulatan dan kemampuan berdiri sendiri. Namun, ratusan ribu warga masih tinggal di pengungsian, menunggu rumah dibangun kembali dan ekonomi pulih.

Pertanyaannya sederhana tapi tajam ketika bantuan datang tanpa syarat, apakah menolaknya benar-benar soal kedaulatan, atau soal gengsi? Bagi korban di tenda darurat, yang paling penting adalah seberapa cepat negara benar-benar hadir untuk mereka. @dimas

Tags: Banjir SumatraBencana AlamDiplomasi IndonesiaKrisis Kemanusiaan

Kamu Melewatkan Ini

HUT RI Digelar di Manggarai, Tapi Kecamatan Fokus Tangani Gempa

HUT RI Digelar di Manggarai, Tapi Kecamatan Fokus Tangani Gempa

by teguh
Agustus 17, 2026

HUT RI digelar di Manggarai, Merah Putih tetap berkibar di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Senin, 17/08/2026. Pemkab Manggarai menggelar...

Gempa Susulan Meneror Flores: 54 Guncangan, 5 Orang Meninggal

Gempa Susulan Meneror Flores: 54 Guncangan, 5 Orang Meninggal

by dimas
Agustus 15, 2026

54 gempa susulan mengguncang Flores setelah gempa M7,7. Lima orang meninggal, sementara pendataan korban dan kerusakan masih berlangsung. Tabooo.id -...

Papua Terus Berdarah: Saat Senjata Mengalahkan Perdamaian

Papua Terus Berdarah: Saat Senjata Mengalahkan Perdamaian

by dimas
Agustus 3, 2026

Konflik Papua terus memakan korban. Pendekatan militer dinilai memperpanjang kekerasan, sementara jalan damai kian menjauh. Tabooo.id - Malam kembali turun...

Next Post
SEA Games: Garuda Mengamuk di Nonthaburi

Timnas Futsal Indonesia Gilas Thailand dan Kunci Emas SEA Games

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id