Tabooo.id: Entertainment – Pernah merasa kalah saing sama gadget? Kalau iya, santai dulu. Nyatanya, kamu nggak sendirian. Perasaan serupa juga Woody dan Buzz Lightyear alami. Bedanya, mereka kalah saing bukan dengan manusia, melainkan dengan tablet berbentuk katak. Dari sinilah Toy Story 5 terasa relevan dengan keresahan 2026: mainan klasik harus beradu eksistensi dengan teknologi.
Di kehidupan sekarang, bunyi notifikasi sering menarik perhatian lebih kuat daripada suara imajinasi. Dampaknya pun jelas, fokus anak-anak gampang terpecah. Melihat situasi itu, Pixar merespons dengan jeli dan membungkusnya lewat humor ringan agar tetap mengalir.
Toy Story 5 Kembali Setelah Tujuh Tahun
Setelah penantian panjang, Pixar Animation Studios dan Walt Disney Pictures mengumumkan Toy Story 5 akan tayang pada 19 Juni 2026. Kabar ini sekaligus menutup jeda tujuh tahun sejak Toy Story 4 hadir pada 2019.
Dalam rentang waktu tersebut, dunia bergerak cepat. Bersamaan dengan itu, tren mainan ikut bergeser. Bahkan, cara anak-anak bermain juga berubah drastis. Kini, layar lebih sering menemani mereka daripada lantai kamar.
Untuk urusan pengisi suara, Pixar kembali mempercayakan Woody dan Buzz kepada Tom Hanks dan Tim Allen. Dengan begitu, dua karakter legendaris ini siap menghadapi tantangan baru tantangan yang tidak bisa mereka atasi dengan laso atau tombol laser.
Bonnie, Usia 8 Tahun, dan Godaan Layar
Kisah Toy Story 5 mengikuti Bonnie yang kini berusia 8 tahun. Pada fase ini, rasa ingin tahu anak biasanya sedang tinggi. Namun di saat bersamaan, layar menawarkan daya tarik yang sulit ditolak.
Lilypad kemudian muncul sebagai tablet canggih berbentuk katak dengan fitur super interaktif. Sejak Lilypad masuk ke kamar Bonnie, perhatian sang pemilik lebih sering tertuju pada layar. Akibatnya, sesi bermain bersama Woody dan kawan-kawan mulai jarang terjadi. Perlahan, kamar terasa sunyi dan imajinasi ikut memudar.
Ketika Mainan Tak Lagi Dipilih
Di bagian ini, konflik utama mulai mengeras. Woody dan Buzz menghadapi situasi paling rumit sepanjang hidup mereka. Bukan lagi takut dibuang, melainkan takut terlupakan.
Kesadaran pahit pun muncul di antara para mainan klasik. Mereka masih ada, tetapi Bonnie tidak lagi memilih mereka. Dari titik itu, petualangan baru dimulai. Tujuannya bukan sekadar kembali dimainkan, melainkan kembali berarti.
Seiring cerita berjalan, Toy Story 5 membawa konflik ke arah yang lebih dewasa. Nuansanya pun terasa lebih sunyi, lebih reflektif, dan semakin dekat dengan pengalaman banyak orang.
Kritik Lembut untuk Dunia yang Terlalu Sibuk
Di balik animasi cerah dan humor khas Pixar, Toy Story 5 menyampaikan kritik sosial dengan cara halus. Pada satu sisi, Woody dan Buzz mewakili dunia analog: sentuhan, kehadiran, dan imajinasi. Sementara di sisi lain, Lilypad mencerminkan dunia digital yang cepat, canggih, dan serba instan.
Alih-alih menyerang teknologi secara membabi buta, film ini justru mengajak penonton berhenti sejenak dan berpikir. Pertanyaannya sederhana: seberapa besar perhatian yang kita berikan pada layar?
Lewat pendekatan tersebut, Toy Story 5 berfungsi seperti cermin sosial. Film ini tidak berteriak, tetapi pelan-pelan menyentil kesadaran.
Bertahan atau Berubah, Itu Pilihannya
Sejak awal, Toy Story bukan sekadar film anak-anak. Ceritanya tumbuh bersama penontonnya. Dari bocah yang gemar main boneka, lalu remaja galau, hingga dewasa yang mudah terseret nostalgia.
Di ujung cerita, Toy Story 5 mengingatkan kita bahwa perubahan pasti datang. Namun di tengah arus itu, persahabatan dan kepedulian tetap bisa hidup jika kita mau menjaganya.
Ketika film ini tayang nanti, kita mungkin tertawa melihat Woody kikuk menghadapi tablet. Pada saat yang sama, kita juga sedang bercermin.
Jadi, di era serba digital ini, kita mau jadi siapa?
Mainan yang terus mencari makna, atau layar yang selalu menyala tapi kosong rasa?
Atau mungkin, sekaranglah waktunya menurunkan layar sejenak dan mulai bermain lagi.@eko





