Tabooo.id: Edge – Bayangkan ini: kamu lagi scroll TikTok, tiba-tiba muncul notifikasi “flashback 1998”. Kamu pikir cuma meme lama atau lagu lama. Ternyata, bukan cuma algoritma yang suka nostalgia Tim Mawar pun kembali.
Ya, dari markas Kopassus Cijantung, mereka naik level: dari operasi penculikan aktivis ke jabatan strategis negara. Kalau ini film, judulnya jelas: “From Red Beret to Executive Suite.”
Pada 1998, Tim Mawar adalah tim kecil dari Kopassus Grup IV. Tugas mereka? Membungkam aktivis pro-demokrasi. Total 14 orang ditangkap, sembilan pulang selamat, sisanya jadi “legend” (termasuk Wiji Thukul).
Mayor Bambang Kristiono, bos mereka kala itu, menugaskan Kapten Fauzani, Kapten Yulius, Kapten Djaka, dan beberapa lainnya untuk misi rahasia. Penangkapan pertama: Desmond J Mahesa di Salemba, siang bolong, tangan terikat, mata ditutup kain hitam. Selanjutnya? Seperti game stealth, tapi lebih menegangkan — sampai ke sel bawah tanah Kopassus.
Dua dekade kemudian, Tim Mawar muncul lagi. Tapi bukan sebagai headline gelap, melainkan pelantikan resmi.
- Djaka Budi Utama → Dirjen Bea Cukai
- Nugroho Sulistyo Budi → Kepala BSSN
- Chairawan Kadarsyah Kadirussalam Nusyirwan → Jenderal Kehormatan Bintang 3
- Untung Budiharto → Jenderal Kehormatan Bintang 3
Dan jangan lupa, era Jokowi juga ikut menempatkan beberapa eks Tim Mawar di Kemenhan. Prabowo? Versi “vulgar”: terang-terangan bagi-bagi jabatan. Prof. Muradi bilang, “Prabowo too much, terlalu jauh, vulgar.”
Kalau dulu operasi mereka sembunyi-sembunyi seperti stealth game, sekarang voting board dan sertifikat kepangkatan yang jadi “weapon of choice”.
Indonesia memang jago rebranding.
Dulu: Tim Mawar = dalang hilangnya aktivis.
Sekarang: Tim Mawar = pejabat publik, jenderal kehormatan, bos kementerian.
Hanya bedanya, dulu takut diciduk, sekarang takut disebut “too close” di media sosial.
Publik? Lihat, angkat bahu, scroll feed. Meme muncul: “OG Special Ops kini jadi Head of Strategy.” TikTok trend, caption: “Ghosting since 1998, now ghosting spreadsheets.”
Itu humor pahit. Karena kalau dulu aksi mereka bikin trauma, sekarang aksi mereka bikin: “Ya ampun, lagi-lagi sejarah itu main ladder.”
Eks Tim Mawar: berhasil move on, naik pangkat, jadi Dirjen dan Jenderal Kehormatan.
Rakyat? Masih scrolling, sambil sesekali teringat Wiji Thukul.
Sejarah? Kadang dihapus dengan press release, kadang tetap nongkrong di Wikipedia.
Moralnya: di Indonesia, masa lalu bisa dipulihkan dengan tanda kehormatan dan kursi strategis.
Absurditas ini lucu, tapi juga menyedihkan. Seperti stand-up: kamu ketawa, tapi sesekali menahan air mata.
Dan kalau kamu tanya “apa pelajaran hari ini?”
Jawabannya: Jangan heran kalau besok mantan preman atau penculik jadi pejabat kelas atas negara kita memang jago rebranding & power-up patch version. @sigit




