Tabooo.id: Entertainment – “Aku harus tahu apa yang terjadi pada ayahku.”
Kalimat itu mengalir seperti doa yang dilempar ke laut. Dari sana, Christopher Nolan sejak awal menempatkan The Odyssey bukan sekadar kisah pulang. Ia menyusunnya sebagai pergulatan sunyi tentang rindu yang lama dipendam. Maka, rumah tidak hadir sebagai tujuan diam. Rumah justru menjauh ketika manusia terus bergerak tanpa jeda.
1. Sinopsis Singkat (tanpa spoiler berlebihan)
Dari kegelisahan itu, cerita pun bergerak mengikuti Odysseus (Matt Damon), raja Ithaca yang terombang-ambing selama sepuluh tahun usai Perang Troya. Dalam perjalanan tersebut, ia menghadapi raksasa, penyihir, dan godaan mitologis. Semua itu menguji akal dan kesetiaannya.
Pada saat yang sama, Penelope (Anne Hathaway) bertahan di Ithaca. Kesetiaannya terus digerus waktu. Sementara itu, Telemachus (Tom Holland) tumbuh tanpa sosok ayah. Ia mencari jawaban, bukan sekadar kabar.

Jimmy Gonzales sebagai Cepheus (kiri), Matt Damon (tengah) sebagai Odysseus, dan Himesh Patel (kanan) sebagai Eurylochus dalam ‘The Odyssey’.()
2. Analisis: Tema, Pesan Sosial, Relevansi Anak Muda
Seperti karya-karya Nolan sebelumnya, waktu kembali menjadi pusat cerita. Namun kali ini, waktu tidak hanya berjalan ia melukai. The Odyssey membaca ulang mitologi sebagai kisah kesehatan mental. Trauma perang, tuntutan maskulinitas, dan beban emosional keluarga hadir tanpa hiasan heroik.
Di titik inilah, Odysseus terasa dekat dengan anak muda hari ini. Banyak yang merasa “pergi” tanpa benar-benar tahu arah. Ambisi dan pelarian kerap menjauhkan kita dari relasi paling dasar. Karena itu, Telemachus mewakili generasi yang tumbuh dalam absensi. Ia merakit identitas dari cerita yang tak pernah utuh.
Secara bersamaan, Nolan juga memodernkan epos ini dengan hati-hati. Ia tidak merusak sakralitasnya. Skala IMAX pun tidak berhenti sebagai pamer teknologi. Sebaliknya, ia menjadi metafora tentang kecilnya manusia di hadapan pilihannya sendiri.
3. Kesimpulan Reflektif
Pada akhirnya, film ini tidak mengandalkan monster untuk menakuti. Ia justru mengguncang lewat kenyataan sederhana: pulang sering menjadi keputusan tersulit. Di era hustle dan migrasi mimpi, The Odyssey terasa relevan. Sejauh apa pun manusia melangkah, emosi yang tertinggal akan tetap menagih. Lewat perjalanan ini, Nolan mengajukan satu pertanyaan: apa arti kemenangan jika rumah tak lagi mengenali kita?
4. Penilaian Akhir
Tabooo banget.
Ambisius, reflektif, dan penting dibicarakan sekarang bahkan sebelum perjalanannya benar-benar tiba di layar. (red)




