Minggu, Agustus 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

The Odyssey: Ketika Mitos Yunani Bicara tentang Trauma dan Absensi Ayah

by Anisa
Mei 8, 2026
in Culture, Film
A A
Home Culture
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Entertainment – “Aku harus tahu apa yang terjadi pada ayahku.”
Kalimat itu mengalir seperti doa yang dilempar ke laut. Dari sana, Christopher Nolan sejak awal menempatkan The Odyssey bukan sekadar kisah pulang. Ia menyusunnya sebagai pergulatan sunyi tentang rindu yang lama dipendam. Maka, rumah tidak hadir sebagai tujuan diam. Rumah justru menjauh ketika manusia terus bergerak tanpa jeda.

1. Sinopsis Singkat (tanpa spoiler berlebihan)

Dari kegelisahan itu, cerita pun bergerak mengikuti Odysseus (Matt Damon), raja Ithaca yang terombang-ambing selama sepuluh tahun usai Perang Troya. Dalam perjalanan tersebut, ia menghadapi raksasa, penyihir, dan godaan mitologis. Semua itu menguji akal dan kesetiaannya.
Pada saat yang sama, Penelope (Anne Hathaway) bertahan di Ithaca. Kesetiaannya terus digerus waktu. Sementara itu, Telemachus (Tom Holland) tumbuh tanpa sosok ayah. Ia mencari jawaban, bukan sekadar kabar.

The Odyssey: Ketika Mitos Yunani Bicara tentang Trauma dan Absensi Ayah

Jimmy Gonzales sebagai Cepheus (kiri), Matt Damon (tengah) sebagai Odysseus, dan Himesh Patel (kanan) sebagai Eurylochus dalam ‘The Odyssey’.()


2. Analisis: Tema, Pesan Sosial, Relevansi Anak Muda

Seperti karya-karya Nolan sebelumnya, waktu kembali menjadi pusat cerita. Namun kali ini, waktu tidak hanya berjalan ia melukai. The Odyssey membaca ulang mitologi sebagai kisah kesehatan mental. Trauma perang, tuntutan maskulinitas, dan beban emosional keluarga hadir tanpa hiasan heroik.

Di titik inilah, Odysseus terasa dekat dengan anak muda hari ini. Banyak yang merasa “pergi” tanpa benar-benar tahu arah. Ambisi dan pelarian kerap menjauhkan kita dari relasi paling dasar. Karena itu, Telemachus mewakili generasi yang tumbuh dalam absensi. Ia merakit identitas dari cerita yang tak pernah utuh.

Ini Belum Selesai

Nginang di Sekaten: Saat Sirih Menjaga Jejak Tradisi

Ritek Surakarta Kenalkan Jaranan Sentherewe di Pakuwon Mall Solo

Secara bersamaan, Nolan juga memodernkan epos ini dengan hati-hati. Ia tidak merusak sakralitasnya. Skala IMAX pun tidak berhenti sebagai pamer teknologi. Sebaliknya, ia menjadi metafora tentang kecilnya manusia di hadapan pilihannya sendiri.

3. Kesimpulan Reflektif

Pada akhirnya, film ini tidak mengandalkan monster untuk menakuti. Ia justru mengguncang lewat kenyataan sederhana: pulang sering menjadi keputusan tersulit. Di era hustle dan migrasi mimpi, The Odyssey terasa relevan. Sejauh apa pun manusia melangkah, emosi yang tertinggal akan tetap menagih. Lewat perjalanan ini, Nolan mengajukan satu pertanyaan: apa arti kemenangan jika rumah tak lagi mengenali kita?

4. Penilaian Akhir

Tabooo banget.
Ambisius, reflektif, dan penting dibicarakan sekarang bahkan sebelum perjalanannya benar-benar tiba di layar. (red)

Tags: Filmmitosperang

Kamu Melewatkan Ini

Bahasa Daerah, Senjata Baru Film Indonesia?

Bahasa Daerah, Senjata Baru Film Indonesia?

by eko
Juli 13, 2026

Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Di layar lebar, bahasa membentuk identitas, emosi, sekaligus cara penonton mengenal sebuah budaya. Kehadiran FOUFO...

402 Rumah Sakit Angker Korea, Adaptasi yang Tak Sekadar Remake

402 Rumah Sakit Angker Korea, Adaptasi yang Tak Sekadar Remake

by eko
Juli 11, 2026

402 Rumah Sakit Angker Korea mengadaptasi Gonjiam: Haunted Asylum dengan cerita baru, misteri ruang 402, dan sentuhan horor Korea yang...

Film Pendek Bukan Soal Gaya, Tapi Cara Membaca Realitas

Film Pendek Bukan Soal Gaya, Tapi Cara Membaca Realitas

by Tabooo
Juni 25, 2026

Film pendek sering disalahpahami sebagai karya kecil yang cukup hanya menang di visual. Padahal, yang membuat film pendek kuat bukan...

Next Post
Zach Yadegari: Dari Coding Usia 7 ke CEO Startup Rp 23 M

Zach Yadegari: Dari Coding Usia 7 ke CEO Startup Rp 23 M

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id