Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

The Odyssey: Ketika Mitos Yunani Bicara tentang Trauma dan Absensi Ayah

by sigit
Mei 8, 2026
in Culture, Film
A A
Home Culture
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Entertainment – “Aku harus tahu apa yang terjadi pada ayahku.”
Kalimat itu mengalir seperti doa yang dilempar ke laut. Dari sana, Christopher Nolan sejak awal menempatkan The Odyssey bukan sekadar kisah pulang. Ia menyusunnya sebagai pergulatan sunyi tentang rindu yang lama dipendam. Maka, rumah tidak hadir sebagai tujuan diam. Rumah justru menjauh ketika manusia terus bergerak tanpa jeda.

1. Sinopsis Singkat (tanpa spoiler berlebihan)

Dari kegelisahan itu, cerita pun bergerak mengikuti Odysseus (Matt Damon), raja Ithaca yang terombang-ambing selama sepuluh tahun usai Perang Troya. Dalam perjalanan tersebut, ia menghadapi raksasa, penyihir, dan godaan mitologis. Semua itu menguji akal dan kesetiaannya.
Pada saat yang sama, Penelope (Anne Hathaway) bertahan di Ithaca. Kesetiaannya terus digerus waktu. Sementara itu, Telemachus (Tom Holland) tumbuh tanpa sosok ayah. Ia mencari jawaban, bukan sekadar kabar.

The Odyssey: Ketika Mitos Yunani Bicara tentang Trauma dan Absensi Ayah

Jimmy Gonzales sebagai Cepheus (kiri), Matt Damon (tengah) sebagai Odysseus, dan Himesh Patel (kanan) sebagai Eurylochus dalam ‘The Odyssey’.()


2. Analisis: Tema, Pesan Sosial, Relevansi Anak Muda

Seperti karya-karya Nolan sebelumnya, waktu kembali menjadi pusat cerita. Namun kali ini, waktu tidak hanya berjalan ia melukai. The Odyssey membaca ulang mitologi sebagai kisah kesehatan mental. Trauma perang, tuntutan maskulinitas, dan beban emosional keluarga hadir tanpa hiasan heroik.

Di titik inilah, Odysseus terasa dekat dengan anak muda hari ini. Banyak yang merasa “pergi” tanpa benar-benar tahu arah. Ambisi dan pelarian kerap menjauhkan kita dari relasi paling dasar. Karena itu, Telemachus mewakili generasi yang tumbuh dalam absensi. Ia merakit identitas dari cerita yang tak pernah utuh.

Ini Belum Selesai

Kenapa Kucumbu Tubuh Indahku Membuat Banyak Orang Tidak Nyaman?

Amir Syarifuddin: Tokoh Komunis yang Membawa Injil saat Eksekusi

Secara bersamaan, Nolan juga memodernkan epos ini dengan hati-hati. Ia tidak merusak sakralitasnya. Skala IMAX pun tidak berhenti sebagai pamer teknologi. Sebaliknya, ia menjadi metafora tentang kecilnya manusia di hadapan pilihannya sendiri.

3. Kesimpulan Reflektif

Pada akhirnya, film ini tidak mengandalkan monster untuk menakuti. Ia justru mengguncang lewat kenyataan sederhana: pulang sering menjadi keputusan tersulit. Di era hustle dan migrasi mimpi, The Odyssey terasa relevan. Sejauh apa pun manusia melangkah, emosi yang tertinggal akan tetap menagih. Lewat perjalanan ini, Nolan mengajukan satu pertanyaan: apa arti kemenangan jika rumah tak lagi mengenali kita?

4. Penilaian Akhir

Tabooo banget.
Ambisius, reflektif, dan penting dibicarakan sekarang bahkan sebelum perjalanannya benar-benar tiba di layar. (red)

Tags: Filmmitosperang

Kamu Melewatkan Ini

Salridan-gil: Budaya Uji Nyali Baru di Korea

Salridan-gil: Budaya Uji Nyali Baru di Korea

by Naysa
Mei 12, 2026

Salridan-gil memperlihatkan bagaimana rasa takut bisa berubah menjadi budaya uji nyali baru di Korea. Setelah Salmokji: Whispering Water viral, anak...

Kritikus dan Fans Mortal Kombat II Bisa Sebegitu Beda? Film Harus Pintar atau Seru?

Kritikus dan Fans Mortal Kombat II Bisa Sebegitu Beda? Film Harus Pintar atau Seru?

by teguh
Mei 11, 2026

Kalau sebuah film dapat nilai “lumayan” dari kritikus tapi dipuja fans sampai susah move on, siapa yang sebenarnya benar? Pertanyaan...

Mortal Kombat II Dipuji Fans, Dihajar Kritikus: Film Buruk atau Fan yang Jujur?

Mortal Kombat II Dipuji Fans, Dihajar Kritikus: Film Buruk atau Fan yang Jujur?

by teguh
Mei 11, 2026

Kalau satu film seperti Mortal Kombat II bikin kritikus mengeluh tapi fans malah tepuk tangan, siapa yang sebenarnya paling benar...

Next Post
Zach Yadegari: Dari Coding Usia 7 ke CEO Startup Rp 23 M

Zach Yadegari: Dari Coding Usia 7 ke CEO Startup Rp 23 M

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id