Tabooo.id: Global – Ketegangan di perbatasan Thailand–Kamboja kembali meledak. Suara dentuman terdengar hingga ke kompleks kuil berusia ratusan tahun. Batas negara yang dulu hanya garis tipis di peta berubah menjadi arena perang terbuka jet, tank, hingga drone melintas tanpa henti.
Korban Tewas Bertambah, Warga Lari Tanpa Arah
Otoritas kedua negara melaporkan 20 orang tewas sejak baku tembak kembali muncul pekan lalu. Sementara itu, sekitar 600.000 warga terpaksa meninggalkan rumah, sebagian besar berasal dari Thailand. Mereka berbondong-bondong menuju barak darurat demi mencari perlindungan.
Kamboja mengumumkan bahwa lebih dari 192.000 orang telah mereka evakuasi. Thailand mencatat jumlah lebih besar 400.000 warga kabur dari zona berbahaya sebelum suara tembakan semakin dekat dengan permukiman.
Dua negara tetangga dekat Indonesia itu kembali terjebak konflik lama sengketa perbatasan sepanjang 800 kilometer, lengkap dengan klaim kuil-kuil kuno yang tak pernah selesai sejak era kolonial.
Konflik Terburuk Setelah Gencatan Senjata Buyar
Bentrokan kali ini menjadi yang paling mematikan sejak perang lima hari pada Juli lalu. Padahal, Oktober kemarin kedua negara sempat menyetujui gencatan senjata setelah dorongan kuat dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Namun kesepakatan itu runtuh sebelum benar-benar mengering.
“Saya hanya ingin pulang dan bertani lagi,” ujar Rat, pria 61 tahun yang melarikan diri bersama delapan anggota keluarganya.
Chae Yeang, perempuan 88 tahun, menyuarakan hal yang sama. “Saya ingin perang berhenti besok. Itu saja.”
Suara warga ini menggambarkan satu hal: perang perbatasan tidak hanya soal klaim sejarah, tetapi soal hidup yang tercerabut tanpa pilihan.
Trump Kembali Ikut Campur, Tapi Belum Bergerak
Trump kembali membuka suara. Ia menyatakan siap berbicara dengan kedua pemimpin untuk menghentikan eskalasi, bahkan mengklaim pernah “menyelesaikan konflik ini sekali.”
“Saya bisa membuat mereka berhenti bertempur,” ucapnya penuh percaya diri.
Namun Gedung Putih segera mengoreksi. Juru bicara Karoline Leavitt menegaskan bahwa Trump belum melakukan panggilan apa pun, meski pemerintah AS terus memantau krisis di level tertinggi.
Siapa Untung, Siapa Rugi?
Di balik drama politik, siapa yang untung? Industri pertahanan mendapat permintaan tinggi. Pihak militer kedua negara memperkuat posisi politiknya.
Dan siapa yang rugi? Rakyat, yang meninggalkan rumah, ladang, dan masa depannya.
Ekonomi kawasan, yang kembali goyah akibat instabilitas di dua negara kunci Indochina.
Pada akhirnya, perbatasan hanyalah garis buatan manusia. Tapi ketika garis itu berubah menjadi medan tempur, justru manusia yang paling cepat menghilang di balik debu perang. @teguh




