Minggu, Agustus 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Teuku Markam: Dekat dengan Kekuasaan, Jatuh Bersama Rezim

by Waras
Agustus 23, 2026
in Figures
A A
Home Figures
Share on Facebook
Share on Twitter
Teuku Markam pernah berada di dekat pusat kekuasaan, mengelola bisnis besar, dan ikut membiayai proyek negara. Namun ketika rezim berganti, kedekatan itu berubah menjadi penjara, penyitaan aset, dan kejatuhan. Kisahnya bukan cuma tentang seorang taipan yang tumbang, tetapi tentang betapa rapuhnya kekayaan ketika terlalu dekat dengan kekuasaan.

Tabooo.id: Ada masa ketika nama Teuku Markam begitu dekat dengan pusat kekuasaan Indonesia.

Ia bukan sekadar pengusaha kaya. Markam pernah menjadi perwira TNI, orang dekat Presiden Soekarno, dan salah satu pengusaha pribumi paling kuat pada era Demokrasi Terpimpin.

Lalu rezim berganti.

Nama yang dulu berada di lingkar kekuasaan berubah menjadi nama yang dicurigai. Bisnisnya disita. Kekayaannya diambil. Ia ditahan selama delapan tahun tujuh bulan tanpa pernah menjalani persidangan yang menguji tuduhan terhadap dirinya.

Di titik itu, kisah Teuku Markam berhenti menjadi sekadar biografi seorang konglomerat.

Ini Belum Selesai

Neeltje Werimon: Putri Papua di Balik Baki Penurunan Merah Putih

Celine Olivia: Dari Pontianak ke Istana, Pembawa Baki Merah Putih

Kisahnya berubah menjadi cerita tentang satu hal yang lebih besar yaitu apa yang terjadi ketika kekuasaan politik berubah, tetapi hubungan antara negara dan pemilik modal ikut berubah bersamanya?

Dari Aceh, Militer, lalu Jakarta

Teuku Nyak Markam lahir di Aceh dari keluarga bangsawan Uleebalang.

Masa kecilnya jauh dari gambaran taipan yang kelak melekat pada namanya. Ia kehilangan kedua orang tuanya ketika masih kecil dan kemudian diasuh kakaknya, Cut Nyak Putroe. Pendidikan formalnya juga hanya sampai Sekolah Rakyat kelas empat atau lima.

Namun, hidupnya bergerak melalui jalur yang berbeda.

Pada masa pendudukan Jepang, Markam masuk Heiho. Setelah Indonesia merdeka, ia ikut dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Ia terlibat dalam pengiriman senjata dan logistik dari Singapura menuju Pekanbaru. Setelah itu, ia diakui sebagai perwira TNI dan mencapai pangkat kapten.

Kemampuan Markam bernegosiasi kemudian membawanya ke lingkungan elite militer. Ia menjadi ajudan Jenderal Gatot Soebroto. Relasi tersebut membuka jalan bagi Markam untuk masuk ke lingkaran elite politik Jakarta, termasuk bertemu dengan Soekarno.

Di sinilah babak kedua hidupnya dimulai.

Soekarno Membutuhkan Pengusaha Pribumi

Pada 1950-an, Soekarno mendorong penguatan pengusaha pribumi sebagai bagian dari agenda nasionalisme ekonomi.

Markam masuk ke ruang itu.

Pada 1957, ia mendirikan PT Kulit Aceh Raya Kapten Markam atau PT Karkam. Perusahaan tersebut berkembang jauh melampaui bisnis perdagangan kulit.

PT Karkam kemudian bergerak dalam ekspor karet, logistik maritim, impor barang modal, hingga persenjataan.

Markam mengelola jaringan kapal niaga dan fasilitas dok di sejumlah pelabuhan penting. Perusahaannya juga memperoleh hak impor berbagai barang vital.

Posisinya semakin kuat karena bisnis dan agenda negara bertemu di satu titik.

Markam bukan hanya mencari keuntungan. Ia juga menggelontorkan kekayaannya untuk sejumlah proyek dan agenda nasional era Soekarno.

Yang paling terkenal tentu Monumen Nasional.

28 Kilogram Emas di Puncak Monas

Monas menyimpan satu detail yang membuat nama Teuku Markam bertahan dalam ingatan publik.

Dari kebutuhan awal sekitar 38 kilogram emas untuk melapisi bagian api di puncak Monas, Markam disebut menyumbangkan 28 kilogram dari kekayaannya sendiri.

Angka itu besar.

Tetapi menariknya, 28 kilogram emas bukan inti terbesar dari kisah Markam. Emas hanya menunjukkan seberapa jauh kekayaannya pernah digunakan untuk proyek negara.

Markam juga membantu pembebasan lahan kawasan Senayan untuk kompleks olahraga yang dipersiapkan bagi GANEFO. Ia turut memberikan dukungan dana untuk KTT Asia-Afrika, operasi pembebasan Irian Barat, dan program pemberantasan buta huruf.

Pada satu periode, kepentingan negara dan kepentingan bisnis Markam berjalan beriringan.

Masalahnya, hubungan seperti itu sangat bergantung pada politik. Dan politik Indonesia segera berubah.

Ketika Soekarno Jatuh, Markam Ikut Jatuh

Peristiwa Gerakan 30 September 1965 mengubah peta kekuasaan Indonesia.

Soekarno kehilangan pengaruh. Soeharto naik. Bersamaan dengan itu, orang-orang yang dianggap dekat dengan Soekarno menghadapi tekanan politik. Markam menjadi salah satunya.

Pada 23 Maret 1966, tentara menangkapnya di kediamannya di Kebayoran Baru.

Penangkapan tersebut berlangsung tanpa surat perintah yang sah dan tanpa proses hukum formal yang jelas. Markam kemudian dituduh sebagai simpatisan PKI, pelaku korupsi, serta pengikut fanatik Soekarno.

Tetapi ada bagian yang lebih mengejutkan. Markam tidak pernah menjalani persidangan yang menguji tuduhan tersebut.

Ia berpindah dari tahanan militer Budi Utomo ke Guntur, Salemba, Cipinang, hingga fasilitas rehabilitasi Nirbaya.

Total masa penahanannya mencapai delapan tahun tujuh bulan.

Bayangkan hidup selama hampir satu dekade berada di balik jeruji tanpa putusan pengadilan yang menentukan apakah tuduhan terhadapmu terbukti atau tidak.

Di sini, kekuasaan tidak lagi terlihat seperti pelindung. Kekuasaan berubah menjadi sesuatu yang menentukan siapa boleh berada di luar dan siapa harus berada di dalam.

Penjara untuk Markam, Aset untuk Negara

Saat Markam kehilangan kebebasan, kerajaan bisnisnya juga ikut runtuh.

Pada 14 Agustus 1966, pemerintah menyita berbagai aset perusahaan yang terkait dengan Markam, termasuk gedung, tanah, kapal, dan rekening perusahaan.

Aset tersebut kemudian dikelola melalui PT Pilot Proyek Berdikari atau PT PP Berdikari.

Perkirakan nilai kekayaan PT Karkam yang disita mencapai sekitar US$460 juta, ditambah Rp20 miliar dan US$30 juta dalam bentuk uang tunai. Pengambilalihan itu kemudian memperoleh dasar hukum melalui Keppres No. 31 Tahun 1974.

Dengan kata lain, perubahan rezim tidak hanya mengubah siapa yang berkuasa. Ia juga mengubah siapa yang memiliki aset.

Di sinilah kisah Markam menjadi penting bagi sejarah politik-ekonomi Indonesia. Sebab negara tidak hanya memenjarakan seorang individu. Negara juga mengambil alih basis ekonominya.

Bebas, Tapi Tidak Benar-Benar Kembali

Markam akhirnya bebas pada akhir 1974. Namun, kebebasan tidak otomatis mengembalikan hidupnya ke titik semula.

Nama baiknya tidak pulih secara formal. Aset yang disita juga tidak kembali.

Ia kemudian mencoba membangun kembali bisnis melalui PT Marjaya.

Dengan dukungan Adam Malik, Markam kembali masuk ke sektor ekonomi dan mengerjakan berbagai proyek infrastruktur. Perusahaannya mengerjakan jalan Medan–Banda Aceh, Bireuen–Takengon, Meulaboh–Tapaktuan, hingga sejumlah proyek jalan di Jawa Barat.

Ironisnya, kapasitas bisnis itu tidak serta-merta mengembalikan posisi Markam.

Rezim Orde Baru tetap melakukan marginalisasi simbolis terhadap dirinya. Proyek besar yang dikerjakan PT Marjaya disebut tidak diresmikan secara seremonial oleh pemerintah.

Markam kembali bekerja.

Tetapi ia tidak pernah kembali menjadi Markam yang sama.

Ketika Rezim Berganti, Modal Ikut Bergeser

Mudah membaca cerita Teuku Markam sebagai kisah klasik tentang taipan yang bangkrut karena politik.

Tetapi itu terlalu sederhana.

Markam memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam.

Pada era Demokrasi Terpimpin, negara membutuhkan pengusaha pribumi untuk menjalankan agenda ekonomi dan pembangunan. Markam tumbuh bersama sistem tersebut.

Ketika rezim berubah, hubungan itu ikut pecah. Bisnis yang sebelumnya terintegrasi dengan proyek negara berhadapan dengan pengambilalihan aset dan pembentukan struktur ekonomi baru pada masa Orde Baru.

Ini bukan sekadar cerita tentang seorang pengusaha yang jatuh. Ini cerita tentang betapa rapuhnya kekayaan ketika terlalu dekat dengan kekuasaan.

Hari ini kita sering melihat kekayaan sebagai simbol kemandirian.

Markam menunjukkan paradoksnya.

Semakin dekat modal dengan pusat kekuasaan, semakin besar pula kemungkinan nasib modal ikut berubah ketika pusat kekuasaan berganti.

Monas Tetap Berdiri. Nama Markam?

Ada ironi besar di akhir kisah ini.

Emas yang pernah ia sumbangkan masih menjadi bagian dari simbol nasional yang berdiri di tengah Jakarta.

Tetapi orang yang menyumbangkannya pernah kehilangan hampir seluruh kekayaannya.

Ia pernah menjadi pengusaha yang membantu membiayai proyek-proyek negara. Ia kemudian menjadi tahanan politik tanpa persidangan. Setelah bebas, ia membangun bisnis lagi, tetapi tidak pernah memperoleh kembali posisi seperti sebelumnya.

Teuku Markam meninggal di Jakarta pada Desember 1985.

Ia dimakamkan dengan penghormatan militer sebagai mantan perwira TNI.

Ironinya tetap tinggal.

Monas berdiri sebagai simbol negara.

Sementara kisah Markam berdiri sebagai pengingat bahwa hubungan antara negara, kekuasaan, dan modal tidak pernah sesederhana angka di neraca.

Harga Kedekatan dengan Kekuasaan

Kisah ini bukan sekadar nostalgia Orde Lama atau Orde Baru.

Ia menyentuh persoalan yang tetap relevan yaitu seberapa aman kekayaan ketika keberlangsungannya bergantung pada hubungan dengan kekuasaan?

Pengusaha bisa naik karena negara membutuhkan mereka.

Pengusaha juga bisa jatuh ketika negara tidak lagi membutuhkan mereka.

Karena itu, kekayaan yang paling kuat bukan cuma yang besar.

Ia adalah kekayaan yang tidak kehilangan pijakan ketika orang yang berkuasa berganti.

Teuku Markam pernah memiliki emas.

Ia pernah memiliki kapal, perusahaan, dan akses ke pusat kekuasaan.

Tetapi sejarah akhirnya menunjukkan sesuatu yang jauh lebih mahal: kekuasaan politik bisa berubah dalam semalam, dan ketika itu terjadi, seluruh sistem di sekitarnya bisa ikut bergeser.

Markam bukan cuma cerita tentang 28 kilogram emas.

Ia adalah cerita tentang harga yang mungkin harus dibayar ketika kekayaan, negara, dan kekuasaan berdiri terlalu dekat satu sama lain.

Dan pertanyaannya tetap relevan sampai hari ini: kalau kekuasaan berganti, siapa yang sebenarnya masih memiliki kekayaan itu? @waras

Tags: ekonomi politik IndonesiaKekuasaan PolitikOrde Barupengusaha pribumiTeuku Markam

Kamu Melewatkan Ini

Kekuasaan: Candu yang Tak Pernah Masuk Daftar BNN

Kekuasaan: Candu yang Tak Pernah Masuk Daftar BNN

by dimas
Agustus 10, 2026

Kekuasaan bisa menjadi candu. Saat kritik dianggap ancaman, demokrasi diuji dan kewarasan publik menjadi benteng terakhir. Tabooo.id - Badan Narkotika...

Kudatuli: Ketika Jakarta Bangun dalam Kepungan

Kudatuli: Ketika Jakarta Bangun dalam Kepungan

by Tabooo
Juli 27, 2026

Peristiwa Kudatuli pada 27 Juli 1996 bukan sekadar konflik internal PDI. Penyerbuan di Jalan Diponegoro membuka kekerasan, perburuan aktivis, dan...

Supersemar: Ketika Selembar Surat Mengubah Arah Republik

Supersemar: Ketika Selembar Surat Mengubah Arah Republik

by dimas
Juli 17, 2026

Supersemar, selembar surat yang mengubah arah Republik Indonesia. Kisah di balik peralihan kekuasaan Soekarno-Soeharto dan kontroversi yang belum pernah benar-benar...

Next Post
Kraton Solo Gelar Jamasan Pusaka Nyai Setomi Jelang Garebeg Mulud

Kraton Solo Gelar Jamasan Pusaka Nyai Setomi Jelang Garebeg Mulud

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id