Minggu, Agustus 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kekuasaan: Candu yang Tak Pernah Masuk Daftar BNN

by dimas
Agustus 10, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on Facebook
Share on Twitter
Kekuasaan bisa menjadi candu. Saat kritik dianggap ancaman, demokrasi diuji dan kewarasan publik menjadi benteng terakhir.

Tabooo.id – Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat berbagai zat yang mampu membuat manusia kehilangan kendali. Heroin, sabu, ganja, hingga ekstasi masuk dalam daftar karena efek candunya merusak tubuh dan pikiran. Namun, ada satu candu yang tidak pernah tercantum di sana, padahal dampaknya sering meluas ke kehidupan jutaan orang. Candu itu bernama kekuasaan.

Bukankah kekuasaan bekerja dengan cara yang hampir sama?

Seseorang biasanya memulai dengan sedikit kewenangan. Setelah merasakan manfaatnya, ia ingin memperoleh lebih banyak. Jabatan menghadirkan akses, penghormatan, dan kemampuan menentukan nasib orang lain. Rasa nikmat itu kemudian berubah menjadi ketergantungan. Pada titik itu, seseorang tidak lagi menggunakan kekuasaan sebagai alat, tetapi menjadikan kekuasaan sebagai tujuan.

Di sanalah candu mulai mengambil alih.

Ketika Jabatan Mengalahkan Akal Sehat

Candu kekuasaan tidak mengubah kondisi fisik. Ia justru mengubah cara seseorang berpikir.

Ini Belum Selesai

Karhutla Terus Berulang, Mengapa Negara Tak Belajar?

Tradisi Tidak Cukup Dikenang, Siapa yang Akan Menjaganya?

Orang yang larut dalam kekuasaan sulit menerima kritik. Ia menolak pendapat yang berbeda. Ia bahkan menganggap setiap masukan sebagai ancaman terhadap wibawanya.

Lama-kelamaan, ia hanya mengelilingi dirinya dengan orang-orang yang selalu mengiyakan. Mereka yang berani mengoreksi perlahan menjauh atau sengaja disingkirkan.

Akibatnya, ia berhenti melihat kenyataan secara utuh. Ia memilih kenyataan yang membuat dirinya tetap merasa benar.

Sejarah berkali-kali memperlihatkan pola serupa. Banyak pemimpin kehilangan kemampuan mendengar justru ketika mereka memiliki kekuasaan paling besar. Karena itu, persoalan utama bukan terletak pada besarnya kekuasaan, melainkan pada hilangnya kemampuan mengendalikan diri.

Kritik Tidak Pernah Menjadi Musuh

Gejala candu kekuasaan terlihat jelas dari cara seseorang merespons kritik.

Misalnya, ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat, muncul pernyataan bahwa masyarakat desa tidak memakai dolar sehingga tidak perlu khawatir. Pernyataan itu mungkin terdengar sederhana. Namun, pelemahan rupiah tetap menaikkan biaya impor, harga bahan baku, biaya produksi, hingga harga kebutuhan pokok yang akhirnya ditanggung masyarakat.

Contoh lain muncul saat publik mengkritik pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebagian pihak tidak menjawab substansi kritik mengenai transparansi, kualitas pelaksanaan, atau efektivitas program. Sebaliknya, mereka menggiring opini bahwa para pengkritik tidak ingin rakyat miskin memperoleh makanan gratis.

Logika seperti itu mengaburkan persoalan yang sebenarnya.

Publik dapat mendukung tujuan sebuah program sekaligus mengkritik pelaksanaannya. Kritik tidak pernah menghalangi kebijakan yang baik. Sebaliknya, kritik membantu pemerintah memperbaiki kebijakan sebelum masalah membesar.

Sayangnya, orang yang kecanduan kekuasaan sering kehilangan kemampuan membedakan kritik dengan permusuhan.

Legal Belum Tentu Demokratis

Pemerintah dapat mengesahkan undang-undang sesuai prosedur. Lembaga negara dapat menerbitkan regulasi melalui mekanisme resmi. Pejabat juga dapat mengambil keputusan berdasarkan kewenangan yang dimiliki.

Namun, demokrasi tidak hanya menilai hasil akhirnya.

Demokrasi juga menuntut proses yang terbuka, partisipasi publik yang bermakna, dan kesediaan mendengarkan suara yang berbeda. Tanpa ketiga unsur itu, legalitas hanya menjadi formalitas administratif.

Sebuah negara tidak kehilangan demokrasi karena pemerintah menerima kritik. Sebaliknya, demokrasi mulai melemah ketika penguasa memandang kritik sebagai ancaman yang harus dibungkam.

Kewarasan Adalah Bentuk Perlawanan

Candu kekuasaan bukan hanya mengubah pemimpin. Candu itu juga menguji keberanian masyarakat.

Banyak orang memilih diam karena merasa suaranya tidak lagi berpengaruh. Sebagian lagi memilih mengalah agar tidak berhadapan dengan kekuasaan. Pilihan itu memang terasa aman, tetapi sejarah menunjukkan bahwa banyak kemunduran demokrasi berawal dari diamnya warga.

Karena itulah, kewarasan menjadi sikap politik yang penting.

Orang yang tetap waras mampu membedakan kritik dari kebencian. Mereka juga mampu membedakan loyalitas kepada negara dari kepatuhan tanpa batas kepada penguasa. Selain itu, mereka tetap menempatkan fakta di atas kepentingan politik.

Pada akhirnya, jabatan selalu memiliki batas waktu. Kekuasaan selalu berpindah tangan. Tidak ada pengaruh yang bertahan selamanya.

Sejarah tidak mengingat siapa yang paling lama berkuasa. Sejarah justru mengingat siapa yang tetap rendah hati ketika memegang kekuasaan dan siapa yang masih bersedia mendengar ketika rakyat mulai bersuara.

Lalu pertanyaannya sederhana.

Jika kekuasaan benar-benar mampu membuat seseorang kehilangan kewarasan, siapa yang akan berani mengingatkan bahwa jabatan seharusnya melayani rakyat, bukan meminta rakyat terus melayani kekuasaan? @dimas

Tags: CanduDemokrasikekuasaanKekuasaan PolitikKritikRuang Sipil

Kamu Melewatkan Ini

Teuku Markam: Dekat dengan Kekuasaan, Jatuh Bersama Rezim

Teuku Markam: Dekat dengan Kekuasaan, Jatuh Bersama Rezim

by Waras
Agustus 23, 2026

Teuku Markam pernah berada di dekat pusat kekuasaan, mengelola bisnis besar, dan ikut membiayai proyek negara. Namun ketika rezim berganti,...

BEM UI Siapkan Aksi Lebih Besar, Kritik Menyasar Kekuasaan

BEM UI Siapkan Aksi Lebih Besar, Kritik Menyasar Kekuasaan

by dimas
Agustus 18, 2026

BEM UI menyiapkan aksi lebih besar jika pemerintah tak merespons tuntutan mahasiswa soal kekuasaan, MBG, ekonomi, hingga ruang sipil. Tabooo.id...

Ketika Daerah Mulai Bertanya: Apakah Republik Masih Mendengar?

Ketika Daerah Mulai Bertanya: Apakah Republik Masih Mendengar?

by dimas
Agustus 18, 2026

Gejolak Aceh, Papua, dan Kalimantan Barat tak otomatis berarti separatisme. Ada luka sejarah, ketimpangan, dan krisis kepercayaan yang perlu dibaca...

Next Post
Saat Air Harus Ditunggu dari Tangki: Wajah Hidup di Tengah Kekeringan Air Cilacap

Saat Air Harus Ditunggu dari Tangki: Wajah Hidup di Tengah Kekeringan Air Cilacap

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id