Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Tradisi Tidak Cukup Dikenang, Siapa yang Akan Menjaganya?

by eko
Agustus 22, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on Facebook
Share on Twitter
Tradisi tidak cukup hanya dikenang. Regenerasi menjadi kunci agar budaya tetap hidup dan selalu memiliki generasi yang siap menjaganya.

Tabooo.id – Tradisi bisa bertahan ratusan tahun. Namun, waktu tidak pernah memberi jaminan bahwa generasi berikutnya akan terus menjaganya.

Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali menggelar Jamasan Pusaka Nyai Setomi, Rabu (22/9/2026). Ritual itu memperlihatkan satu hal penting: budaya tidak hidup sendiri.

Manusia yang membuat tradisi tetap bernapas.

Sekitar 50 abdi dalem mengikuti prosesi di Bangsal Witono, Sitinggil Lor. Mereka menjalankan peran sesuai tata cara dan pakem yang diwariskan Kraton dari generasi ke generasi.

Namun, di balik ritual yang berlangsung khidmat itu, muncul pertanyaan yang lebih besar.

Ini Belum Selesai

Langit Oranye, Napas Terancam: Kabut Asap Uji Tanggung Jawab Negara

Mengapa Publik Makin Skeptis terhadap Janji Pejabat?

Ketika generasi penjaga tradisi berganti, siapa yang akan meneruskan tugas mereka?

Budaya Tidak Bisa Hidup dari Kenangan

Banyak orang bangga menyebut budaya sebagai warisan leluhur. Kita mengenalnya melalui buku, museum, media sosial, atau perayaan tahunan.

Namun, mengenal tidak selalu berarti menjaga.

Seseorang bisa mengetahui nama sebuah tradisi tanpa memahami maknanya. Seseorang juga bisa datang ke sebuah ritual tanpa ingin meneruskan pengetahuan di baliknya.

Di situlah persoalannya.

Budaya membutuhkan lebih dari sekadar pengakuan. Budaya membutuhkan manusia yang mau mempelajari, menjalankan, dan meneruskannya.

Jamasan Nyai Setomi memberi gambaran nyata tentang proses tersebut. Kraton tidak hanya menjaga sebuah meriam pusaka, tetapi juga menjaga pengetahuan tentang tata cara merawatnya.

Pengetahuan itu hidup melalui manusia.

Tidak Semua Hal Bisa Berlangsung Instan

Dalam Jamasan Nyai Setomi, setiap orang menjalankan tugas sesuai perannya. Kraton memberikan tugas inti kepada abdi dalem yang memenuhi syarat dan mendapat wewenang sesuai tata aturan yang berlaku.

Proses itu menunjukkan bahwa tradisi memiliki sistem.

Ada tata cara, ada tanggung jawab dan ada pengetahuan yang harus dipahami sebelum seseorang menjalankan sebuah peran.

Di era serba cepat, proses seperti ini mungkin terasa panjang. Namun, budaya memang tidak selalu menawarkan jalan instan.

Seseorang tidak bisa memahami seluruh makna tradisi hanya dengan melihat satu prosesi. Pengetahuan membutuhkan waktu, pengalaman, dan kesediaan untuk belajar.

Tradisi tidak sekadar meminta penonton. Tradisi membutuhkan penerus.

Ketika Generasi Lama Membawa Ingatan

Para penjaga tradisi membawa sesuatu yang tidak selalu tertulis dalam buku. Mereka membawa pengalaman,

mereka memahami urutan prosesi, mereka mengenal tata cara dan mereka juga memahami batas yang harus dijaga.

Ingatan seperti itu tumbuh dari keterlibatan panjang.

Karena itu, regenerasi menjadi persoalan penting. Setiap generasi perlu membuka ruang bagi generasi berikutnya untuk belajar.

Tanpa proses itu, budaya berisiko kehilangan orang-orang yang memahami cara menjalankannya.

Pusaka mungkin tetap berada di tempatnya. Bangunan bersejarah mungkin tetap berdiri. Namun, makna di balik semuanya bisa perlahan memudar jika tidak ada yang meneruskan pengetahuan.

Menjaga Bukan Berarti Tinggal di Masa Lalu

Menjaga tradisi bukan berarti menolak perubahan.

Justru, setiap generasi perlu menemukan cara agar warisan budaya tetap memiliki hubungan dengan kehidupan hari ini.

Generasi muda tidak harus menjadi salinan generasi sebelumnya. Mereka bisa belajar, memahami, lalu membawa nilai budaya ke ruang baru.

Cerita bisa hidup melalui tulisan. Sejarah bisa menjangkau lebih banyak orang melalui video. Ritual bisa membuka ruang pembelajaran tanpa kehilangan tata nilai dan kesakralannya.

Tantangannya terletak pada keseimbangan.

Bagaimana budaya tetap terbuka untuk generasi baru tanpa kehilangan makna yang menjaganya selama ini?

Pertanyaan itu tidak memiliki jawaban sederhana. Namun, setiap tradisi membutuhkan orang yang mau ikut mencari jawabannya.

Siapa yang Akan Menjaga Setelah Mereka?

Jamasan Nyai Setomi berakhir ketika para abdi dalem menyelesaikan seluruh rangkaian prosesi. Pintu krobongan pun kembali tertutup.

Namun, pertanyaan tentang masa depan tradisi tidak ikut berhenti di sana.

Generasi hari ini mewarisi banyak hal dari masa lalu. Kita mewarisi bahasa, cerita, ritual, bangunan, pusaka, dan nilai-nilai yang membentuk identitas.

Warisan itu tidak otomatis sampai kepada generasi berikutnya.

Seseorang harus menceritakannya, seseorang harus mengajarkannya.

Seseorang harus menjaganya.

Ini bukan sekadar soal Nyai Setomi atau satu ritual di Kraton Solo. Ini soal masa depan semua tradisi: mengenang memang penting, tetapi budaya hanya akan tetap hidup jika selalu ada orang yang memilih untuk menjaganya.@eko

Tags: JamasanKraton SurakartaMeriam SetomiVibes

Kamu Melewatkan Ini

KY Gelar Diskusi Publik di Solo Bahas Penguatan Kewenangan

Kraton Surakarta Angkat Sejarah Peradilan di Forum KY

by eko
September 24, 2026

Kraton Surakarta membawa sejarah Peradilan Pradoto dan Pengadilan Serambi dalam diskusi penguatan kewenangan Komisi Yudisial di Solo. Tabooo.id: Surakarta -...

Tengkleng Solo: Rasa yang Lahir dari Kesulitan

Tengkleng Solo: Rasa yang Lahir dari Kesulitan

by eko
September 8, 2026

Tengkleng Solo lahir dari kesulitan pangan dan kreativitas wong cilik. Di balik rasanya, tersimpan jejak sejarah dan perjuangan masyarakat Solo....

Es Kapal Solo: Segelas Dingin di Tengah Panas Kota

Es Kapal Solo: Segelas Dingin di Tengah Panas Kota

by eko
Agustus 29, 2026

Es Kapal Solo menemani panas kota. Penjualan Nining tembus 500 gelas sehari, dengan rasa coklat dan original paling banyak diminati....

Next Post
Masuk Kampus, Membayar Kuasa?

Masuk Kampus, Membayar Kuasa?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id