Minggu, Agustus 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Neeltje Werimon: Putri Papua di Balik Baki Penurunan Merah Putih

by dimas
Agustus 17, 2026
in Figures
A A
Home Figures
Share on Facebook
Share on Twitter
Neeltje Werimon, pelajar Papua yang dipercaya membawa baki dalam prosesi penurunan Merah Putih pada HUT ke-81 RI di Istana Negara.

Tabooo.id – Senja di Istana Negara, Senin (17/8/2026), perlahan berubah ketika Merah Putih turun dari tiang bendera. Di bawahnya, barisan Paskibraka Indonesia Adil Makmur bergerak dalam satu komando.

Momen itu terlihat singkat. Namun, setiap langkah membawa nama daerah, sekolah, dan generasi muda Indonesia ke tengah peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Tim Paskibraka Indonesia Adil Makmur mendapat tugas dalam Upacara Penurunan Bendera Merah Putih. Mereka menjalankan prosesi dengan disiplin, kehormatan, dan tanggung jawab.

Neeltje Membawa Baki, Papua Hadir di Tengah Istana

Sorotan utama tertuju kepada Neeltje Deliana Insjowi Werimon. Pelajar SMA Negeri 8 Jayapura itu mewakili Provinsi Papua sebagai pembawa baki bendera Merah Putih.

Tugas tersebut menuntut konsentrasi dan ketepatan gerak. Sebab, pembawa baki berada dalam salah satu posisi paling simbolik selama prosesi.

Ini Belum Selesai

Teuku Markam: Dekat dengan Kekuasaan, Jatuh Bersama Rezim

Celine Olivia: Dari Pontianak ke Istana, Pembawa Baki Merah Putih

Sementara itu, Ismi Ulfaidah mengisi posisi pembawa baki cadangan. Siswi Sekolah Rakyat tersebut mewakili Provinsi Sulawesi Barat.

Kehadiran keduanya memperlihatkan bahwa panggung upacara tidak hanya berisi simbol negara. Pada saat yang sama, panggung itu juga mempertemukan anak-anak muda dari berbagai penjuru Indonesia.

Dari NTT hingga Kalimantan Barat

Di barisan lain, Atanasius Meyllano Frans Yogar menjalankan tugas sebagai Komandan Kelompok 8. Siswa SMA Katolik Giovanni Kupang itu mewakili Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Kemudian, Maharazthu Rizqhy Ramadhana Chubuyana mendapat tugas sebagai pengerek bendera. Pelajar SMAN 1 Taliwang tersebut membawa nama Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Berikutnya, Mirza Rafi Navazani bertugas sebagai pembentang bendera. Pelajar SMAN 1 Sintang itu mewakili Provinsi Kalimantan Barat.

Di sisi lain, Baruno Wicaksono menjalankan tugas sebagai Komandan Kelompok 17. Ia merupakan pelajar SMA Taruna Nusantara Cimahi.

Sementara itu, Kapten Pnb Bagus Setianto memimpin sebagai Komandan Kompi Paskibraka. Ia menjabat sebagai Kapokops Flight FGS Skadud 5 Wingud 5 Lanud Sultan Hasanuddin.

Seragamnya Sama, Asalnya Berbeda

Dari kejauhan, seluruh anggota Paskibraka tampak seperti satu kesatuan. Gerakan mereka seragam, komando mereka sama, dan tujuan mereka pun satu.

Namun, di balik seragam tersebut terdapat asal daerah yang berbeda.

Papua bertemu Sulawesi Barat. Nusa Tenggara Timur berdampingan dengan Nusa Tenggara Barat. Kalimantan Barat dan Jawa Barat ikut masuk dalam satu formasi.

Karena itu, Paskibraka tidak hanya menghadirkan ketepatan gerak. Lebih jauh, barisan tersebut memperlihatkan wajah Indonesia yang beragam.

Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden menyebut penetapan Tim Paskibraka Indonesia Adil Makmur sebagai bagian penting dalam rangkaian HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Menurut keterangan tersebut, para anggota Paskibraka mengemban amanah sebagai representasi generasi muda Indonesia. Mereka membawa nilai kebangsaan dan semangat kemerdekaan dalam prosesi penurunan Sang Merah Putih.

Ketika Simbol Bertemu Realitas

Di sinilah cerita Paskibraka menjadi lebih menarik.

Negara menempatkan anak-anak muda dari berbagai daerah dalam satu panggung. Mereka menunjukkan bahwa keberagaman bisa bergerak dalam satu irama.

Namun, simbol persatuan selalu menghadirkan pertanyaan yang lebih besar.

Apakah persatuan hanya terlihat ketika semua orang memakai seragam yang sama? Atau, bisakah semangat itu tetap hidup ketika mereka kembali menghadapi perbedaan di luar Istana?

Pertanyaan itu penting karena kemerdekaan tidak berhenti pada upacara. Kemerdekaan juga menyangkut bagaimana setiap generasi mendapat ruang yang setara untuk tumbuh dan menentukan masa depannya.

Ini Bukan Sekadar Penurunan Bendera

Prosesi penurunan Merah Putih mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Bagi para Paskibraka, momen itu menjadi puncak dari tanggung jawab yang mereka jalankan.

Lebih dari itu, mereka membawa nama daerah masing-masing ke hadapan negara.

Ini bukan sekadar bendera yang turun. Ini tentang wajah Indonesia muda yang berdiri di bawahnya.

Merah Putih akhirnya kembali ke tempatnya.

Namun, pertanyaan tentang kemerdekaan tidak ikut turun bersama bendera.

Jika persatuan bisa terlihat begitu rapi di Istana, mengapa menjaganya di kehidupan sehari-hari masih menjadi pekerjaan yang begitu sulit? @dimas

Tags: Baki Merah PutihNeeltje WerimonpapuaPaskibraka IndonesiaPenurunan Merah Putih

Kamu Melewatkan Ini

Papua Terus Berdarah: Saat Senjata Mengalahkan Perdamaian

Papua Terus Berdarah: Saat Senjata Mengalahkan Perdamaian

by dimas
Agustus 3, 2026

Konflik Papua terus memakan korban. Pendekatan militer dinilai memperpanjang kekerasan, sementara jalan damai kian menjauh. Tabooo.id - Malam kembali turun...

Yahukimo Berdarah, Tiga Warga Sipil Tewas di Tengah Konflik

Yahukimo Berdarah, Tiga Warga Sipil Tewas di Tengah Konflik

by dimas
Juli 23, 2026

Tiga warga sipil tewas di Yahukimo setelah TPNPB menuduh mereka sebagai intelijen. Komnas HAM mengecam pembunuhan dan mendesak pengusutan transparan...

Papua Terus Berdarah: Saat Dialog Kalah oleh Senjata

Papua Terus Berdarah: Saat Dialog Kalah oleh Senjata

by dimas
Juli 21, 2026

Konflik Papua kembali memakan korban. Ketika pendekatan keamanan terus mendominasi, ruang dialog semakin menyempit. Benarkah perdamaian hanya bisa lahir melalui...

Next Post
Ova Emilia Ditangkap karena Ijazah Jokowi? Cek Faktanya

Ova Emilia Ditangkap karena Ijazah Jokowi? Cek Faktanya

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id