Minggu, Agustus 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Papua Terus Berdarah: Saat Senjata Mengalahkan Perdamaian

by dimas
Agustus 3, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Konflik Papua terus memakan korban. Pendekatan militer dinilai memperpanjang kekerasan, sementara jalan damai kian menjauh.

Tabooo.id – Malam kembali turun di pegunungan Papua. Namun, yang lebih dulu datang bukan ketenangan, melainkan suara tembakan. Di Kali Kabur, Distrik Woniki, Kabupaten Tolikara, empat pekerja proyek jalan kehilangan nyawa. Beberapa hari sebelumnya, tiga warga sipil asli Papua juga tewas di Yahukimo. Di balik setiap korban, selalu ada keluarga yang kehilangan, anak yang menunggu ayahnya pulang, dan masyarakat yang semakin akrab dengan rasa takut.

Papua kembali menjadi berita. Sayangnya, pertanyaan yang muncul tidak pernah berubah mengapa konflik ini terus berulang tanpa akhir?

Pemerintah memandang pengerahan aparat sebagai cara menjaga stabilitas keamanan. Di sisi lain, banyak organisasi masyarakat sipil menilai langkah itu justru memperpanjang siklus kekerasan. Di tengah baku tembak antara aparat keamanan dan kelompok bersenjata, warga sipil kembali menanggung beban paling besar.

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menegaskan bahwa konflik bersenjata di Papua telah menciptakan krisis kemanusiaan yang terus membesar.

Menurutnya, setiap eskalasi konflik menambah korban jiwa sekaligus memperpanjang daftar pelanggaran hak asasi manusia. Jumlah pengungsi pun terus meningkat, sementara negara belum menghadirkan penyelesaian yang menyentuh akar persoalan.

Ini Belum Selesai

81 Tahun Merdeka, Kenapa SDN 3 Kacamarga Masih Berdinding Papan?

Negara Menguasai Sumber Daya, Rakyat Dapat Apa?

“Konflik tersebut terus melahirkan pelanggaran HAM dan humaniter yang baru tanpa ada upaya dari negara untuk menyelesaikan pelanggaran HAM yang terjadi di masa lalu. Negara juga hingga hari ini belum menangani persoalan pengungsi yang jumlahnya terus bertambah,” ujar Usman.

Pernyataan itu tidak sekadar mengkritik operasi keamanan. Amnesty menilai negara terus mengedepankan pendekatan militer, sementara persoalan politik, sejarah, dan sosial yang membentuk konflik Papua belum pernah benar-benar diurai.

Akibatnya, setiap operasi keamanan hanya mengakhiri satu peristiwa, tetapi membuka ruang bagi konflik berikutnya.

Luka Lama yang Tidak Pernah Sembuh

Konflik Papua bukan kisah yang baru dimulai kemarin.

Selama puluhan tahun, laporan mengenai dugaan pelanggaran HAM, pengungsian warga, ketimpangan pembangunan, hingga krisis kepercayaan terhadap negara terus bermunculan. Meski demikian, penyelesaian yang menyeluruh belum juga hadir.

Pada saat yang sama, pemerintah terus mempercepat pembangunan infrastruktur. Jalan dibuka, jembatan dibangun, dan proyek strategis nasional terus berjalan. Sayangnya, pembangunan fisik belum otomatis menghadirkan rasa aman bagi masyarakat.

Ironisnya, proyek pembangunan justru beberapa kali berubah menjadi lokasi bentrokan.

Serangan terhadap pekerja PT Sutan Harauli Jaya (PT SHJ) di Tolikara menjadi contoh terbaru. Kodam XVII/Cenderawasih menyebut kelompok OPM pimpinan Botak Wanimbo dan Teranus Enumbi sebagai pelaku penyerangan terhadap pekerja proyek jalan nasional.

Sebaliknya, TPNPB-OPM melalui juru bicaranya, Sebby Sambom, mengklaim lima orang tewas dalam operasi tersebut. Kelompok itu menuduh para korban merupakan agen intelijen Indonesia yang menyamar sebagai pekerja bangunan.

Dua narasi yang saling bertentangan memperlihatkan satu kenyataan pahit. Di Papua, bukan hanya wilayah yang menjadi arena pertempuran, tetapi juga kebenaran.

Warga Sipil Selalu Berada di Tengah

Semua pihak memiliki versinya sendiri.

Pemerintah berbicara mengenai stabilitas nasional.

Kelompok bersenjata berbicara mengenai perjuangan politik.

Sementara itu, masyarakat sipil hanya berusaha bertahan hidup di antara dua kepentingan yang saling bertabrakan.

Sebagian warga kehilangan rumah karena harus mengungsi. Banyak keluarga kehilangan mata pencaharian ketika aktivitas ekonomi berhenti. Anak-anak kehilangan kesempatan belajar karena sekolah tidak lagi aman. Bahkan, rasa percaya terhadap masa depan ikut memudar.

Konflik yang berkepanjangan tidak hanya merenggut nyawa. Konflik juga membentuk generasi yang tumbuh bersama trauma.

Trauma itu tidak selalu hadir dalam tangisan. Kadang, trauma hidup dalam kebiasaan anak-anak yang terbiasa mendengar suara tembakan, ibu yang terus cemas menunggu suaminya pulang, atau guru yang memilih meninggalkan kampung demi menyelamatkan keluarganya.

Jalan Buntu Pendekatan Keamanan

Amnesty International meminta Presiden Prabowo Subianto mengevaluasi pendekatan keamanan di Papua dan menggantinya dengan langkah yang lebih dialogis.

Permintaan itu muncul karena pendekatan militer belum berhasil memutus siklus kekerasan.

Operasi keamanan mungkin mampu menekan satu kelompok bersenjata. Namun, operasi yang sama belum mampu menghilangkan rasa takut masyarakat. Sebaliknya, setiap korban sipil justru memperlebar jurang ketidakpercayaan antara warga Papua dan negara.

Di titik inilah efektivitas pendekatan keamanan layak dipertanyakan.

Keamanan memang penting. Akan tetapi, keamanan tanpa keadilan hanya menciptakan ketenangan yang rapuh.

Ini Bukan Sekadar Konflik Bersenjata

Selama ini, banyak orang memandang Papua semata sebagai persoalan keamanan.

Padahal, konflik tersebut menyangkut hubungan negara dengan warganya, kepercayaan yang terus terkikis, arah pembangunan, hingga ruang dialog yang semakin menyempit.

Selama pemerintah belum menyentuh akar persoalan, konflik akan selalu menemukan alasan untuk kembali.

Hari ini bentrokan terjadi di Tolikara.

Besok bisa bergeser ke Yahukimo.

Lusa mungkin muncul di wilayah lain.

Lokasinya berubah, tetapi polanya tetap sama.

Yang Dipertaruhkan Bukan Hanya Papua

Papua bukan sekadar wilayah paling timur Indonesia.

Wilayah ini menjadi ujian bagi kemampuan negara menjaga keadilan, menghormati hak asasi manusia, dan membangun kepercayaan masyarakat.

Ketika konflik terus berulang tanpa penyelesaian politik yang nyata, yang dipertaruhkan bukan hanya keamanan Papua, melainkan juga kualitas demokrasi Indonesia.

Perdamaian tidak lahir karena negara menambah pasukan.

Perdamaian tumbuh ketika negara menghadirkan keadilan, membuka ruang dialog, dan mendengarkan suara masyarakat.

Selama keadilan masih terasa lebih jauh daripada bunyi tembakan, Papua akan terus mengulang cerita yang sama. Yang berubah hanya nama korban dan lokasi peristiwanya. @dimas

Tags: Amnesty InternationalHak Asasi ManusiaKonflik PapuaKrisis KemanusiaanpapuaPerdamaian Papua

Kamu Melewatkan Ini

Satu Warga Tewas, Sembilan Diduga Disandera KKB di Mimika

Satu Warga Tewas, Sembilan Disandera KKB di Mimika

by dimas
Agustus 20, 2026

Satu warga tewas dan sembilan perempuan diduga disandera KKB di Jila, Mimika, Papua Tengah. Polisi masih memvalidasi laporan dan melakukan...

HUT RI di Papua Berdarah, Pratu Rizki Gugur Diserang OPM

HUT RI di Papua Berdarah, Pratu Rizki Gugur Diserang OPM

by dimas
Agustus 18, 2026

HUT RI ke-81 di Papua diwarnai serangan OPM di Mimika. Pratu Rizki Kurniawan gugur, sementara dua prajurit TNI lainnya terluka...

Neeltje Werimon: Putri Papua di Balik Baki Penurunan Merah Putih

Neeltje Werimon: Putri Papua di Balik Baki Penurunan Merah Putih

by dimas
Agustus 17, 2026

Neeltje Werimon, pelajar Papua yang dipercaya membawa baki dalam prosesi penurunan Merah Putih pada HUT ke-81 RI di Istana Negara....

Next Post
Kemerdekaan Dirayakan, Kemiskinan Bertahan

Kemerdekaan Dirayakan, Kemiskinan Bertahan

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id