Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

HUT RI di Papua Berdarah, Pratu Rizki Gugur Diserang OPM

by dimas
Agustus 18, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on Facebook
Share on Twitter
HUT RI ke-81 di Papua diwarnai serangan OPM di Mimika. Pratu Rizki Kurniawan gugur, sementara dua prajurit TNI lainnya terluka dalam kontak tembak.

Tabooo.id – Indonesia merayakan HUT ke-81 Kemerdekaan RI pada Senin (17/8/2026). Namun, suasana berbeda terjadi di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah.

Sekitar pukul 08.12 WIT, kelompok yang disebut aparat sebagai OPM menyerang Pos Yonif 133/Yudha Sakti (YS) dan Koramil Jila. Mereka melepaskan tembakan dari tiga arah.

Prajurit TNI membalas serangan tersebut. Kontak tembak pun pecah.

Dalam insiden itu, Pratu Rizki Kurniawan terkena tembakan di bagian kepala. Prajurit Yonif 133/YS tersebut gugur dalam menjalankan tugas.

Dua prajurit lainnya, Pratu Y. Pasaribu dan Pratu Kiki Febrio, juga mengalami luka tembak. Pasaribu terkena tembakan di bagian pinggang, sedangkan Kiki mengalami luka pada lengan.

Ini Belum Selesai

Americano: Sehat atau Cuma Gaya?

Kebijakan Pemerintah Berubah, Kehidupan Warga Ikut Berubah?

Satu pagi di hari kemerdekaan berubah menjadi kabar duka.

Serangan datang ketika Indonesia merayakan kemerdekaan

Serangan berlangsung mendadak.

Kelompok bersenjata menembaki posisi TNI dari tiga arah. Personel yang berjaga kemudian memberikan tembakan balasan.

Kapendam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Tri Purwanto membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan aparat gabungan TNI-Polri langsung mengejar kelompok yang melakukan serangan.

Tri juga menyebut situasi Jila masih kondusif. Meski demikian, aparat meningkatkan pengamanan di sejumlah titik.

Kondisi geografis Jila membuat operasi pengejaran tidak sederhana. Wilayah pegunungan memberi tantangan besar bagi aparat yang bergerak mencari kelompok bersenjata.

Di medan seperti itu, kontak senjata bisa berlangsung singkat. Namun, dampaknya dapat bertahan jauh lebih lama.

Satu prajurit gugur, dua lainnya terluka

Pratu Rizki menjadi korban paling fatal dalam serangan tersebut.

Ia gugur setelah terkena tembakan di bagian kepala. Sementara itu, dua rekannya mendapat perawatan medis akibat luka tembak.

Korban luka terdiri atas Pratu Y. Pasaribu dan Pratu Kiki Febrio.

Pasaribu mengalami luka di bagian pinggang. Kiki mengalami luka pada bagian lengan.

Aparat kemudian melakukan evakuasi terhadap korban dan memperketat pengamanan di sekitar lokasi.

Peristiwa itu kembali menunjukkan risiko yang harus dihadapi prajurit yang bertugas di wilayah konflik Papua.

Rizki dan penugasan yang berujung maut

Pratu Rizki merupakan personel Yonif 133/Yudha Sakti.

Satuan tersebut bermarkas di Air Tawar, Kota Padang, Sumatera Barat. Yonif 133/YS berada di bawah Korem 032/Wirabraja.

Satuan ini juga pernah menjalankan tugas operasi di wilayah Papua Barat Daya pada 2024. Dalam penugasan tersebut, personel menjalankan pembinaan teritorial dan membantu masyarakat.

Kini, penugasan di Papua Tengah membawa nama Rizki ke dalam daftar prajurit TNI yang gugur dalam konflik bersenjata.

Kematiannya juga menghadirkan ironi.

Rizki gugur pada hari ketika seluruh Indonesia merayakan kemerdekaan.

Di banyak daerah, warga mengikuti upacara dan mengibarkan Merah Putih. Di Jila, prajurit justru menghadapi suara tembakan.

Dua gambaran itu muncul pada hari yang sama.

Jila bukan satu-satunya titik panas

Serangan di Jila muncul di tengah rangkaian gangguan keamanan di sejumlah wilayah Papua.

Sehari sebelumnya, Minggu (16/8/2026), kelompok yang disebut aparat sebagai OPM menembak seorang warga sipil berinisial AS di Distrik Wenam, Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan.

AS mengalami luka tembak pada betis kiri. Personel Satgas Pamtas RI-PNG Yonif 511/DY kemudian mengevakuasinya.

Situasi kembali memanas pada 17 Agustus di kawasan Kimbim, Kabupaten Jayawijaya.

Kontak tembak terjadi di sekitar Polsek Kimbim. Rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan petugas berlindung ketika suara tembakan terdengar.

Rangkaian kejadian itu menunjukkan satu persoalan penting.

Konflik bersenjata di Papua belum berhenti.

Serangan dapat muncul di lokasi berbeda. Korbannya pun tidak hanya berasal dari aparat.

Warga sipil juga berada dalam ruang risiko yang sama.

Ketika konflik masuk ke ruang kehidupan warga

Persoalan Papua karena itu tidak cukup dibaca sebagai persoalan operasi keamanan.

Setiap kontak senjata membawa dampak yang lebih luas.

Warga harus menghadapi ketidakpastian. Pekerja menghadapi risiko ketika menjalankan aktivitas. Aparat harus menjaga pos sekaligus mengantisipasi serangan berikutnya.

Dalam situasi seperti ini, rasa aman menjadi sesuatu yang mahal.

Negara memang memiliki tanggung jawab untuk menjaga keamanan dan menghadapi kelompok bersenjata. Namun, keberhasilan tidak cukup diukur dari jumlah operasi atau pengejaran yang dilakukan.

Pertanyaan yang lebih besar adalah apakah siklus kekerasan benar-benar berkurang.

Jika serangan berhenti sementara lalu muncul kembali di lokasi lain, negara menghadapi persoalan yang lebih dalam.

Di situlah konflik Papua menuntut pendekatan yang tidak hanya berbicara tentang senjata.

Ini bukan sekadar penembakan. Ini pola.

Pratu Rizki gugur pada 17 Agustus.

Namun, persoalannya tidak berhenti pada siapa yang menembak dan siapa yang menjadi korban.

Rangkaian serangan menunjukkan pola yang lebih panjang. Kelompok bersenjata masih mampu melakukan serangan di sejumlah wilayah. Aparat kemudian merespons dengan pengejaran dan peningkatan pengamanan.

Siklus itu terus berulang.

Karena itu, kematian Rizki perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas.

Papua menghadapi persoalan keamanan, medan geografis, ketegangan sosial, dan persoalan kepercayaan yang tidak dapat selesai hanya dengan satu operasi.

Negara membutuhkan keamanan yang nyata. Masyarakat juga membutuhkan rasa aman yang nyata.

Keduanya harus berjalan bersama.

Sebab, kemerdekaan bukan hanya tentang bendera yang berkibar.

Kemerdekaan juga berarti warga dapat bekerja tanpa rasa takut. Prajurit dapat menjalankan tugas tanpa terus masuk ke dalam siklus kekerasan. Negara mampu hadir sampai ke wilayah yang paling sulit dijangkau.

Pratu Rizki telah gugur.

Kini, tugas negara bukan hanya mengejar pelaku.

Tugas yang lebih besar adalah memutus siklus yang membuat kematian seperti ini terus berulang.

Karena jika setiap peringatan kemerdekaan masih menyisakan suara tembakan di sebagian wilayah negeri, pertanyaan tentang makna kemerdekaan belum benar-benar selesai. @dimas

Tags: keamanan PapuaKonflik PapuaOPMPratu Rizki KurniawanTNI

Kamu Melewatkan Ini

HUT TNI: Batalyon Bertambah, Apakah Jaminan Pertahanan Menguat?

HUT TNI: Batalyon Bertambah, Apakah Jaminan Pertahanan Menguat?

by dimas
Oktober 5, 2026

HUT TNI 2026 ditandai penambahan batalyon. Namun, apakah ekspansi kekuatan itu benar-benar memperkuat pertahanan Indonesia menghadapi ancaman perang modern? Tabooo.id...

HUT ke-81 TNI Tak Lagi di Monas, Upacara Dipindah ke Cilangkap

HUT ke-81 TNI Tak Lagi di Monas, Upacara Dipindah ke Cilangkap

by dimas
Oktober 5, 2026

HUT ke-81 TNI digelar sederhana di Cilangkap setelah rencana puncak peringatan di Monas dibatalkan karena banyak prajurit bertugas menangani bencana....

Perwira TNI Tewas dengan Luka Tembak di Kuala Kencana, TNI-Polri Selidiki Penyebabnya

Perwira TNI Tewas dengan Luka Tembak di Kuala Kencana, TNI-Polri Selidiki Penyebabnya

by teguh
Oktober 4, 2026

Seorang perwira TNI berinisial Letda Cba R tewas di dalam sebuah mobil di kawasan Alun-alun Kuala Kencana, Distrik Kuala Kencana,...

Next Post
Saat Jalan Raya Jadi Tempat Mengingat Jasa Pahlawan

Saat Jalan Raya Jadi Tempat Mengingat Jasa Pahlawan

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id