Tabooo: Global – Sejumlah pemimpin dunia menandatangani kesepakatan perdamaian di Gaza. Namun, di tengah sorotan media dan sambutan positif, muncul kritik tajam dari berbagai pihak. Pakar hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Teuku Rezasyah, menilai perjanjian tersebut justru menjadi jebakan diplomatik yang mengaburkan tujuan utama perjuangan rakyat Palestina.
Fokus yang Bergeser dari Tujuan Utama
Menurut Teuku, kesepakatan damai itu tidak membawa solusi nyata untuk kemerdekaan Palestina. Isinya lebih banyak membahas detail teknis seperti pembebasan sandera, bantuan kemanusiaan, dan gencatan senjata. Ia menilai, hal itu mengalihkan perhatian dunia dari hal yang lebih penting: pengakuan Palestina sebagai negara berdaulat dengan wilayah yang jelas dan hak untuk hidup berdampingan dengan Israel.
“Kesepakatan itu menggeser fokus dari perjuangan utama menuju hal-hal yang bersifat sementara,” ujar Teuku. Ia menegaskan, tanpa penegasan kedaulatan, perdamaian hanya akan menjadi jeda, bukan solusi.
Kesepakatan yang Rentan dan Penuh Risiko
Teuku menilai isi perjanjian tersebut sangat rapuh karena perilaku Israel yang kerap ingkar janji. Dalam berbagai kesempatan sebelumnya, Israel sering melanggar kesepakatan, bahkan dengan PBB dan sekutunya sendiri. Ia menilai kebiasaan itu bisa terulang kembali, sehingga kesepakatan ini tidak bisa dijadikan jaminan perdamaian jangka panjang.
“Israel bisa saja membuat klaim bahwa Palestina melanggar perjanjian, meski buktinya kecil. Situasi itu bisa dijadikan alasan untuk menyerang kembali,” kata Teuku. Ia menambahkan, Amerika Serikat kemungkinan hanya akan memberi kritik tanpa tindakan tegas jika hal itu terjadi.
Diplomasi di Sharm El-Sheikh
KTT Perdamaian Gaza berlangsung di Sharm El-Sheikh, Mesir. Pertemuan tersebut dihadiri Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad Al Thani. Presiden Prabowo Subianto hadir sebagai saksi penandatanganan.
Para pemimpin dunia yang hadir menandatangani dokumen gencatan senjata, disaksikan juga oleh Sekretaris Jenderal PBB António Guterres. Meski suasananya penuh optimisme, banyak pihak meragukan bahwa pertemuan itu benar-benar akan membawa perdamaian yang berkelanjutan.
Antara Harapan dan Kenyataan
Masyarakat internasional tentu berharap konflik panjang di Gaza segera berakhir. Namun, tanpa komitmen dan kejujuran dari semua pihak, kesepakatan ini berpotensi menjadi catatan diplomatik tanpa makna. Perdamaian sejati tidak lahir dari tanda tangan di atas kertas, melainkan dari kesediaan untuk menegakkan keadilan dan menghormati kedaulatan.
Palestina membutuhkan dukungan dunia untuk berdiri sebagai negara yang merdeka, bukan sekadar menjadi subjek perjanjian yang rapuh. Selama kepentingan politik lebih diutamakan daripada kemanusiaan, perdamaian di Gaza akan tetap menjadi mimpi yang tertunda. @jeje





