Tabooo.id: Talk – Bayangin kita nongkrong di kafe. Kopi baru gue seruput, terus seseorang nyeletuk,
“Eh, lu dengar gedung Terra Drone kebakaran? 22 orang meninggal. Dan… ada yang bilang itu sengaja.”
Refleks lu pasti mikir,
“Hah? Sengaja gimana maksudnya?”
Topik “kebakaran yang mungkin bukan sekadar kebakaran” memang otomatis bikin alis naik. Tapi sebelum kita ngebut ke teori yang kelewat liar, yuk kita bedah pelan-pelan santai, tapi tetap tajam.
Kebakaran yang Penuh Cerita
Di Indonesia, tragedi sering jalan bareng isu politik, konflik lahan, atau kepentingan ekonomi yang ukurannya jauh lebih besar daripada keberanian para pemainnya.
Kebakaran gedung Terra Drone di Kemayoran perusahaan yang bukan cuma nerbangin drone, tapi juga memetakan lahan sawit dan proyek infrastruktur strategis langsung memancing pertanyaan nakal:
“Ini benar kecelakaan… atau ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar api?”
Retoris? Jelas.
Ngeri? Iya.
Dan wajar pertanyaan itu muncul, karena konteksnya memang berlapis.
Versi Resmi vs Rasa Gatal Publik
Versi resmi sementara menyebut baterai drone meledak sebagai sumber api. Masuk akal baterai LiPo memang bisa jadi “bom mini” kalau rusak.
Tapi kalau kita lihat jejak kerja Terra Drone, wajar publik merasa ada yang perlu ditanya.
Terra Drone Indonesia bukan pemain kecil. Mereka:
- memetakan lahan sawit skala besar lewat Terra Agri,
- bekerja sama dengan IFC memantau petani sawit swadaya,
- menyelesaikan pemetaan udara untuk proyek Tol Cisumdawu, yang kebetulan pernah terseret kasus korupsi pembebasan lahan.
Dengan data sebesar itu, kita bisa membayangkan sensitivitas informasinya:
siapa pemilik lahan sebenarnya, berapa luas perkebunan, mana yang dibuka ilegal, dan ekspansi siapa yang ditutup-tutupi.
Data seperti ini jelas bisa bikin panik berbagai pihak kalau bocor.
Makanya muncul pertanyaan wajar:
“Apa mungkin ada pihak yang lebih takut data kebuka daripada gedung kebakar?”
Ini bukan tuduhan. Ini cuma logika warung kopi: kalau kepentingannya besar, motif biasanya ikut membesar.
Jangan Asal Ngegas: Kadang Kebakaran Ya Cuma Kebakaran
Di sisi lain, ada juga yang bilang:
“Bro, jangan lebay. Baterai drone meledak itu hal random. Jangan semua hal ditarik ke konspirasi lahan.”
Dan itu valid.
Gedung teknologi yang menyimpan banyak baterai memang punya risiko kebakaran. Ledakan bisa aja terjadi tanpa skenario thriller apa pun.
Selain itu, perusahaan internasional seperti Terra Drone hampir pasti punya:
- backup cloud,
- server luar negeri,
- sistem redundansi data.
Membakar gedung bukan cara logis buat menghapus jejak digital.
Menuding sabotase tanpa bukti justru bikin kita mirip penganut teori konspirasi, bukan analis yang waras.
Fair point:
Kadang kebakaran ya cuma kebakaran. Dan tragedi sebesar ini terlalu menyakitkan untuk dipelintir sembarangan.
Refleksi: Kritis, Tapi Tetap Waras
Tabooo bukan tim “percaya semua teori”, bukan juga tim “telan mentah versi resmi.” Kita cuma percaya satu hal:
Setiap kejadian besar punya konteks dan konteks itu pantas dibahas.
Pengalaman sosial kita menunjukkan pola:
isu lahan, terutama sawit dan infrastruktur, sering membuat informasi hilang “secara misterius.”
Dokumen lenyap, data rusak, arsip berubah, catatan audit raib.
Cerita seperti itu bukan hal baru.
Jadi ketika sebuah perusahaan pemetaan terbakar, publik otomatis bertanya:
“Ada yang ditutupin nggak, sih?”
Bukan karena kita sok jadi detektif.
Tapi karena sejarah negara ini bikin kita susah percaya kebetulan beruntun.
Tetap saja, kita nggak boleh menuduh tanpa bukti. Sikap paling sehat adalah menuntut:
- penyelidikan transparan,
- audit forensik digital,
- penjelasan jelas soal data yang hilang (kalau ada).
Satu hal pasti: kalau sampai ada pihak yang mengorbankan nyawa demi nutupin kebusukan, itu bukan “kesalahan baru.” Itu kejahatan moral.
Penutup: Ayo Ngobrol
Jadi menurut lo gimana?
Kebakaran Terra Drone ini cuma tragedi teknis yang sial banget?
Atau “kebetulan”-nya terlalu banyak buat dianggap biasa?
Lo ada di kubu yang mana? (red)




