Tabooo.id: Regional – Hujan deras kembali mengguncang perbukitan Gedangsari dan memicu longsor di Tanjakan Clongop, Gunungkidul, Rabu (4/3/2026). Tebing setinggi sekitar 25 meter runtuh dan menjatuhkan batu besar serta tanah ke badan jalan provinsi yang menghubungkan Klaten, Jawa Tengah, dengan Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Material longsoran menutup hampir seluruh tanjakan dan menghentikan arus lalu lintas sejak Selasa (3/3/2026) malam.
Petugas langsung menutup jalur tersebut demi keselamatan pengendara. Polisi kemudian mengalihkan arus ke rute alternatif agar mobilitas warga tetap berjalan.
Kapolsek Gedangsari AKP Tri Hartanto meminta pengendara dari Klaten menuju Gunungkidul melewati jalur Sampang. Sebaliknya, warga dari arah Gunungkidul bisa masuk melalui Jelok. Meski kendaraan roda empat masih bisa melintas, Tri mengingatkan medan alternatif cukup ekstrem.
“Tanjakan dari Klaten tinggi, sedangkan dari Gunungkidul turunannya curam. Pengendara harus lebih berhati-hati,” ujarnya.
Jalur Ekonomi Tersendat
Tanjakan Clongop memegang peran penting bagi aktivitas ekonomi lintas kabupaten. Setiap hari, pedagang, petani, dan pekerja melintasi jalur ini untuk mengirim hasil panen dan menjalankan usaha. Ketika longsor menutup akses utama, mereka harus memutar lebih jauh dan mengeluarkan biaya tambahan untuk bahan bakar serta waktu tempuh.
Kondisi ini paling terasa bagi pelaku usaha kecil dan pekerja harian. Mereka tidak memiliki banyak pilihan selain mengikuti jalur memutar yang lebih berat. Jika situasi berlarut, distribusi barang bisa melambat dan harga kebutuhan pokok berpotensi naik di tingkat lokal.
Petugas Berpacu dengan Waktu
Di lokasi kejadian, personel TNI, Polri, BPBD, dan Bina Marga Dinas PUPESDM DIY langsung membersihkan material dengan peralatan manual. Mereka memecah batu besar, memindahkan tanah, dan membuka akses sedikit demi sedikit. Hingga Rabu siang, tim terus bekerja agar kendaraan bisa kembali melintas secepat mungkin.
Namun pekerjaan tidak ringan. Batu berukuran besar dan volume tanah yang tebal memperlambat proses pembersihan. Karena itu, aparat belum bisa memastikan kapan jalur kembali normal.
Titik Rawan yang Berulang
Longsor di Clongop bukan kejadian baru. Pada Maret 2025, tebing di lokasi yang sama juga runtuh dalam skala besar. Artinya, kawasan ini menyimpan risiko geologis yang serius. Meski pemerintah membangun ulang tanjakan tersebut pada akhir 2024, kontur tanah perbukitan tetap menuntut penguatan struktur dan sistem drainase yang lebih maksimal.
Peristiwa ini menegaskan satu hal membangun jalan di wilayah rawan tidak cukup hanya mengaspal dan memperlebar tanjakan. Pemerintah harus memperkuat tebing, mengontrol aliran air, dan memetakan risiko secara berkala. Jika tidak, hujan deras berikutnya bisa kembali melumpuhkan akses vital.
Untuk saat ini, warga hanya bisa bersabar dan menyesuaikan rute perjalanan. Sementara itu, longsor Clongop kembali mengingatkan bahwa infrastruktur di daerah rawan bencana memerlukan perhatian berkelanjutan bukan sekadar proyek selesai lalu dianggap tuntas. @dimas





