Tabooo.id: Regional – Banjir besar menerjang Kabupaten Demak pada Jumat (3/4/2026) pagi. Air bergerak cepat dan langsung merendam permukiman warga hingga memaksa ratusan orang meninggalkan rumah. Hingga kini satu orang masih dilaporkan hilang, sementara proses evakuasi terus berlangsung.
Hujan deras di wilayah hulu memicu lonjakan debit air secara drastis. Tekanan air yang terus meningkat akhirnya merobek tanggul di Dukuh Solowere dan Dukuh Selodoko. Dalam hitungan menit, luapan air menyebar dan menggenangi kawasan permukiman.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Abdul Muhari, menjelaskan penyebab utama kejadian ini.
“Banjir dipicu hujan berintensitas tinggi di wilayah hulu yang menyebabkan peningkatan debit air hingga mengakibatkan tanggul di Dukuh Solowere dan Dukuh Selodoko jebol. Air kemudian meluap dan merendam permukiman warga,” ujarnya.
Air Meluas, Warga Kehilangan Ruang Aman
Genangan tidak membutuhkan waktu lama untuk meluas. Air akhirnya menjangkau empat kecamatan dan delapan desa. Wilayah terdampak berada di Kecamatan Guntur, Karangtengah, Wonosalam, hingga Kebonagung.
Rincian wilayah terdampak juga disampaikan Abdul Muhari.
“Empat kecamatan terdampak dengan total delapan desa. Di Kecamatan Guntur meliputi Desa Trimulyo, Sidoharjo, Turirejo, dan Sumberejo. Kecamatan Karangtengah mencakup Desa Ploso. Kecamatan Wonosalam meliputi Desa Lempuyang, sedangkan Kecamatan Kebonagung mencakup Desa Solowire dan Desa Sarimulyo,” jelasnya.
Secara keseluruhan, banjir mempengaruhi 1.070 kepala keluarga atau sekitar 4.280 jiwa. Dari jumlah tersebut, 583 warga terpaksa mengungsi ke berbagai titik darurat seperti masjid, mushola, balai desa, hingga kantor kecamatan.
Di lokasi pengungsian, petugas segera membuka layanan kesehatan. Tim medis langsung menangani warga yang kelelahan serta mulai menunjukkan gejala gangguan kesehatan.
Kerusakan Meluas, Ekonomi Ikut Terhenti
Dampak banjir tidak hanya memaksa warga meninggalkan rumah. Infrastruktur permukiman juga ikut terpukul. Sebanyak 1.230 rumah terdampak, sementara empat unit mengalami kerusakan berat.
Kerusakan kemudian merambat ke fasilitas umum dan aktivitas ekonomi masyarakat.
“Sepuluh fasilitas pendidikan dan lima belas tempat ibadah turut terdampak. Selain itu, sekitar 194 hektare lahan sawah juga terendam,” kata Abdul Muhari.
Bagi petani dan pekerja harian, kondisi ini langsung menghentikan sumber penghasilan. Aktivitas ekonomi berhenti seketika, sementara kebutuhan hidup tetap berjalan.
Alam Memicu, Manusia Memperparah
Curah hujan tinggi memang menjadi pemicu awal. Namun jebolnya tanggul juga menunjukkan adanya kerentanan infrastruktur yang belum sepenuhnya teratasi.
Kapasitas sungai yang menurun mempercepat limpasan air. Pada saat yang sama, kesiapan tanggul dan sistem pengendalian banjir belum cukup kuat menahan tekanan ekstrem.
Kombinasi faktor alam dan kelemahan infrastruktur ini menunjukkan bahwa bencana tidak selalu murni datang dari alam. Dalam banyak kasus, kelalaian manusia ikut memperbesar dampaknya.
Penanganan Berpacu dengan Risiko Baru
Sejak awal kejadian, tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah bersama berbagai instansi langsung turun ke lapangan. Petugas mengevakuasi warga, menyalurkan bantuan, dan memperkuat tanggul darurat menggunakan karung pasir.
Pencarian terhadap warga yang hilang masih terus berlangsung. Posko utama kini beroperasi di Desa Bumiharjo sebagai pusat koordinasi penanganan bencana.
Di tengah situasi tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana mengingatkan potensi banjir susulan masih cukup tinggi. Debit air belum stabil dan kondisi tanggul tetap rentan.
Berbagai kebutuhan mendesak juga terus dipenuhi, mulai dari logistik, air bersih, obat-obatan, hingga perlengkapan bayi bagi pengungsi.
Air memang belum sepenuhnya surut. Ancaman pun belum benar-benar pergi. Pada akhirnya, banjir ini bukan hanya tentang hujan yang turun deras melainkan juga tentang seberapa sering manusia mengabaikan peringatan yang sebenarnya sudah datang lebih dulu. @dimas






