Sabtu, Mei 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Iran Tolak Gencatan Senjata: Ini Soal Damai atau Permainan Narasi Kekuatan?

by dimas
April 7, 2026
in Global, Reality
A A
Home Reality Global
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Global – Saat dunia berharap jeda, Iran malah menekan gas. Alih-alih meredakan konflik, Teheran memilih menolak gencatan senjata dan berdiri lebih keras.

Jadi, ini masih soal perang atau tentang kepercayaan yang sudah benar-benar habis?

Iran Menolak, Tekanan Langsung Naik

Pemerintah Iran menolak langsung proposal gencatan senjata dari Amerika Serikat dalam konflik yang juga menyeret Israel.

Menurut IRNA, Teheran menyampaikan respons itu melalui Pakistan sebagai mediator. Namun, hingga kini, publik tidak melihat isi detail tawaran dari Washington.

Selain itu, Iran merumuskan sikapnya dalam 10 poin. Dalam dokumen itu, mereka menolak gencatan sementara dan langsung menuntut akhir perang secara total.

Ini Belum Selesai

Yovie: AI Bisa Bikin Lagu, Tapi Tak Punya Hati

Jogja Financial Festival Dibuka: Literasi Keuangan atau Bahaya Utang Digital?

“Iran menolak gencatan senjata dan menegaskan perlunya mengakhiri konflik secara definitif,” tulis IRNA.

Kemudian, diplomat Iran, Mojtaba Ferdousi Pour, mempertegas posisi tersebut.

“Kami tidak akan hanya menerima gencatan senjata. Kami hanya menerima akhir perang dengan jaminan tidak akan diserang lagi,” tegasnya.

Di sisi lain, Donald Trump justru meningkatkan tekanan. Ia memberi ultimatum keras: jika Iran tidak membuka akses pelayaran di Selat Hormuz, maka AS akan menyerang infrastruktur vital.

Artinya, situasi tidak mereda justru semakin panas.

Sejauh ini, konflik sudah berjalan 38 hari. Awalnya, AS dan Israel melancarkan serangan. Setelah itu, Iran langsung membalas dengan rudal ke berbagai target di Timur Tengah.

Akibatnya, siklus serangan terus berulang tanpa jeda yang jelas.

Bukan Soal Damai, Tapi Soal Rasa Aman

Ini bukan sekadar penolakan diplomatik.
Sebaliknya, ini menunjukkan satu hal Iran tidak lagi percaya pada konsep “damai sementara”.

Sebab, bagi Teheran, gencatan senjata hanya memberi jeda bukan kepastian.
Dan tanpa jaminan keamanan, jeda justru terasa seperti jebakan.

Karena itu, Iran memilih jalan yang lebih ekstrem: lanjut konflik, daripada berhenti tanpa kepastian.

Perang Jauh, Dampaknya Dekat

Sekilas, konflik ini terasa jauh. Namun, dampaknya bisa sangat dekat.

Jika ketegangan di Selat Hormuz meningkat, maka distribusi minyak global akan terganggu.
Akibatnya, harga minyak dunia naik.

Dan pada akhirnya, harga BBM di Indonesia ikut terdorong naik.

Jadi, meski perang terjadi ribuan kilometer dari sini, efeknya tetap masuk ke pengeluaran harian.

Dunia Bicara Damai, Tapi Minim Jaminan

Di satu sisi, dunia terus mendorong damai.
Namun di sisi lain, tidak ada jaminan konkret yang benar-benar melindungi pihak yang berhenti.

Karena itu, Iran melihat gencatan senjata sebagai taktik, bukan solusi.
Lalu, mereka memilih keluar dari pola lama itu.

Namun, keputusan ini juga membawa risiko besar.
Semakin lama konflik berlangsung, semakin banyak pihak yang bermain di dalamnya.

Dan biasanya, dalam situasi seperti ini, ada pihak yang justru diuntungkan dari kekacauan.

Masalahnya Bukan Perang, Tapi Kepercayaan

Ketika satu pihak menolak berhenti, kita perlu bertanya ulang: apa yang sebenarnya rusak?

Mungkin bukan sekadar situasi perang.
Melainkan kepercayaan yang sudah terlalu sering dikhianati.

Sebab pada akhirnya, damai tanpa jaminan hanya terdengar indah di atas kertas. @dimas

Tags: Donald TrumpDuniaGeopolitikGlobalHargaInternasionalIsraelKonflik DuniaKrisis GlobalminyakperangPerang IranSelat HormuzTimur Tengah

Kamu Melewatkan Ini

“Jangan Kau Minta Saja Terus”: Pesan Prabowo ke Buruh Bikin Publik Terbelah

“Jangan Kau Minta Saja Terus”: Pesan Prabowo ke Buruh Bikin Publik Terbelah

by jeje
Mei 20, 2026

Buruh diminta jangan terlalu banyak menuntut. Pengusaha jangan diperas. Itulah pesan blak-blakan Presiden Prabowo Subianto saat berbicara di Rapat Paripurna...

Rupiah Hampir Tembus 18.000 per Dolar AS : Kita disuruh Hemat atau Donasi?

Rupiah Hampir Tembus 18.000 per Dolar AS : Kita disuruh Hemat atau Donasi?

by jeje
Mei 20, 2026

Rupiah turun lagi. Kali ini ke Rp17.807 per dolar AS. Bagi sebagian ekonom, angka ini mungkin terdengar teknis. Namun, buat...

Papua 65 Tahun Konflik: Kenapa Luka Ini Tak Pernah Selesai?

Papua 65 Tahun Konflik: Kenapa Luka Ini Tak Pernah Selesai?

by jeje
Mei 18, 2026

“Papua bukan soal keamanan semata. Papua adalah soal keadilan, sejarah, dan rasa dipercaya.” Kalimat itu terus muncul dalam diskusi para...

Next Post
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan: Seberapa Kuat Kita Bertahan?

Harga Minyak Naik, APBN Tertekan: Seberapa Kuat Kita Bertahan?

Pilihan Tabooo

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Mei 11, 2026

Realita Hari Ini

Perlawanan Titik Nol: Reformasi Dipidatokan, Ketidakadilan Dilestarikan

Perlawanan Dari Titik Nol: Reformasi Dipidatokan, Ketidakadilan Dilestarikan

Mei 21, 2026

Pemkab Lombok Tengah Tutup 25 Minimarket: Menjaga Pasar, Mengorbankan Pekerja?

Mei 22, 2026

Bundaran UGM Jadi Sorotan, Spanduk Permintaan Maaf Terbentang

Mei 21, 2026

Jogja Financial Festival Dibuka: Literasi Keuangan atau Bahaya Utang Digital?

Mei 22, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id