Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Atlet Diminta Berprestasi, Tapi Harus Bayar Dulu: Sistem atau Ironi?

by dimas
April 7, 2026
in Reality, Sports
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Sport – Ironi ini terus berulang di olahraga Indonesia.
Kita menuntut atlet berprestasi, tapi mereka harus bayar dulu untuk berangkat.
Jadi, ini seleksi atlet atau seleksi dompet?

Gagal Tanding Bukan Karena Kalah

Nama I Gede Wahyu Surya Wiguna langsung viral. Atlet angkat berat asal Buleleng, Bali ini batal tampil di kejuaraan dunia di Druskininkai, Lithuania.

Ia tidak cedera.
Ia tidak kalah seleksi.
Ia terhenti karena uang.

Lewat media sosial, Wahyu mengaku belum mengantongi rekomendasi dan tidak sanggup memenuhi dana jaminan sebesar 20.000 dolar AS atau sekitar Rp339 juta.

“Pengurus meminta dana jaminan $20.000, Itu jadi syarat utama. Uang sebanyak itu dari mana?” tulisnya.

Ini Belum Selesai

Tragedi Sibolangit: Empat Nyawa Melayang di Jalur Medan-Berastagi

Vivo T5 Lite Resmi Meluncur, Bawa Baterai 6.500 mAh dan Fast Charging 44W

Ia menjelaskan, pengurus menggunakan dana itu sebagai jaminan jika terjadi pelanggaran atau denda selama kompetisi. Jika tidak ada masalah, mereka akan mengembalikan uang tersebut.

Masalahnya jelas tidak semua atlet punya Rp339 juta untuk sekadar berangkat.

Pengurus Perkumpulan Angkat Berat Seluruh Indonesia (Pabersi) Buleleng membenarkan bahwa Wahyu menerima undangan dari International Powerlifting Federation (IPF).

Namun hingga batas akhir pendaftaran, pihak terkait tidak juga menerbitkan rekomendasi.

Sekretaris Pabersi Buleleng, Ketut Widi Sandiada, menyebut situasi ini juga menimpa atlet lain.
Artinya, masalah ini tidak berhenti di satu nama.

Ia juga menegaskan, pengurus tidak melakukan pungutan liar. Mereka menerapkan dana jaminan sesuai aturan tes doping dari World Anti-Doping Agency (WADA).

Aturan di Atas, Realita di Bawah

Di atas kertas, semua terlihat rapi.

Namun di lapangan, sistem memaksa atlet siap finansial sebelum bertanding.

Masalah ini bukan sekadar prosedur.
Sistem ini diam-diam menyaring atlet berdasarkan kemampuan ekonomi.

Di titik ini, olahraga bergeser arah dari adu kekuatan jadi adu akses.

Yang Hilang Sebelum Terlihat

Dampaknya terasa, bahkan buat kamu yang bukan atlet.

Banyak talenta terbaik gagal muncul bukan karena mereka lemah,
tapi karena mereka tidak punya biaya.

Akibatnya, panggung internasional tidak selalu menampilkan yang terbaik.
Panggung itu hanya menampilkan yang mampu bertahan secara finansial.

Berapa banyak “Wahyu” lain yang hilang sebelum sempat terlihat?

Prestasi Butuh Uang Dulu?

Sistem olahraga seharusnya membuka jalan, bukan menutup pintu.

Kita butuh aturan doping.
Kita butuh prosedur.

Tapi ketika biaya jadi syarat utama, kita harus jujur ini bukan meritokrasi.

Ini seleksi diam-diam.

Yang lebih pahit, kita baru mengakui atlet saat mereka menang.
Padahal, sebelum itu, mereka berjuang sendirian.

Mimpi yang Harus Dibayar di Awal

Kita selalu bangga saat atlet mengibarkan bendera di luar negeri.

Tapi kita jarang bertanya, berapa banyak yang gagal berangkat?

Kalau mimpi saja harus dibayar di awal, apakah kita benar-benar membangun prestasi atau hanya menjaga ilusi? @dimas

Tags: AtletbiayaIronikoniKrisis GlobalMimpiNasionalolahragaPerjuanganPrestasiRealitaSeleksiSistem

Kamu Melewatkan Ini

Nama Jampidsus Disebut, Febrie Pertanyakan Kaitannya dengan Blackout PLN

Nama Jampidsus Disebut, Febrie Pertanyakan Kaitannya dengan Blackout PLN

by Tabooo
Juli 11, 2026

Nama Jampidsus Febrie Adriansyah ikut disebut dalam pusaran pengusutan dugaan korupsi BUMN. Ia mempertanyakan kaitannya dengan kasus blackout PLN yang...

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

by teguh
Juni 9, 2026

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian membuka kembali perdebatan lama tentang hubungan politik dan birokrasi daerah. Dalam rapat bersama Komisi II...

Dua Musuh, Satu Kepentingan

Dua Musuh, Satu Kepentingan

by dimas
Juni 7, 2026

Di balik ancaman dan negosiasi yang tak berujung, AS dan Iran ternyata terjebak dalam kepentingan yang sama: sama-sama membutuhkan lawannya...

Next Post
Satu Penolakan, Satu Kematian: Jejak TNI dalam Skema Gelap Bankir

Satu Penolakan, Satu Kematian: Jejak TNI dalam Skema Gelap Bankir

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id