Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Tanah Bergeser, Cerita Taufiq LIDA Aceh yang Terkepung Bencana

by teguh
Desember 6, 2025
in Life
A A
Home Life
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Life – Di sebuah sore Jakarta yang terlihat biasa deru motor, hujan tipis, langit yang merunduk Taufiq LIDA muncul dengan wajah yang menyimpan kabar lain. Matanya membawa bayangan lumpur dari Aceh, seolah kampung halaman itu masih menempel di dirinya. Ia baru kembali dari tempat yang tumbuh bersamanya, namun kini berubah menjadi lanskap luka.

“Sulit sekali,” katanya dengan nada rendah. “Sulit percaya kalau itu kampung sendiri.”

Aceh daerah yang berulang kali menantang bencana kini kembali menanggung beban berat. Banjir besar dan rangkaian longsor runtuh bersamaan, memaksa rumah tertelan tanah, jalan terputus, dan ribuan orang kehilangan kendali atas hidup mereka. Sumatra basah oleh duka, dan Aceh berdiri di titik paling rapuh.

Taufiq tidak melihat bencana ini dari jauh. Ia melihatnya dari tanah tempat ia dilahirkan.

Jalan yang Tak Lagi Menunjukkan Pulang

Ia menyaksikan jalan yang hilang seperti garis pensil yang terhapus. Tanah menutup jalur utama. Jembatan retak dan melengkung sebelum akhirnya ambruk. Banyak wilayah mendadak terpisah dan mengambang seperti pulau kecil.

Ini Belum Selesai

Krisis Identitas Gen Z di Tengah Ambisi Indonesia Emas 2045

Berani Speak Up di Depan Juri: Sikap Kritis atau Tanda Mental Anak Makin Sehat?

“Logistik yang masuk sedikit sekali,” kata Taufiq. “Jalan putus, Jembatan ambruk ditambah Jalur Banda Aceh enggak bisa ditembus.”

Keterbatasan akses memukul keras. Relawan harus berjalan kaki membawa makanan. Beberapa tim memakai motor trail, sementara helikopter menunggu cuaca yang terus berubah. Di wilayah yang jauh dari kota, warga menunggu sambil menahan lapar.

Lansia mulai kelelahan. Para ibu menggenggam anak mereka lebih erat. Anak-anak makan apa pun yang tersisa. Desa yang paling terpencil bahkan belum melihat satu pun bantuan.

“Kondisi anak-anak parah sekali,” ujar Taufiq. “Mereka makan seadanya. Banyak rumah tertimbun tanah sampai hilang bentuknya.”

Kerusakan itu menciptakan daratan baru istilah yang ia pakai untuk menggambarkan betapa ekstremnya perubahan di kampungnya.

Ketika Pemimpin Kewalahan dan Tenaga Habis

Skala bencana ini membuat banyak pemimpin daerah tidak sanggup bertahan.

“Saya enggak kaget kalau banyak bupati menyerah,” kata Taufiq. “Bukan karena mereka enggak peduli, tetapi bencananya terlalu besar.”

Ia mencoba memilih kata-kata yang tidak memperkeruh suasana. Namun realitas tidak bisa ia tutupi kerusakan terlalu luas, kebutuhan warga terus bertambah, dan tenaga pemerintah menipis. Banyak pejabat bekerja siang-malam tetapi tetap kewalahan.

Tidak ada yang siap menghadapi bencana sebesar ini. Kekuatan manusia terasa kecil.

Ketika Suara Terkunci di Balik Sinyal yang Hilang

Masalah lain muncul dari langit jaringan hilang. Sinyal melemah hingga akhirnya mati total. Orang-orang ingin memanggil bantuan, tetapi ponsel mereka seperti benda tak berguna.

“Sinyal susah sekali. Jaringan hampir enggak ada,” Taufiq mengeluh.

Kehilangan komunikasi membuat panik meningkat. Kabar hilang. Foto bencana tertahan berjam-jam. Video longsor berhenti di memori ponsel. Banyak keluarga tidak bisa memastikan keadaan kerabatnya. Dunia luar mengira semua terkendali, padahal banyak desa masih berjuang sendiri.

Kerusakan fisik merusak hidup. Tetapi hilangnya komunikasi merusak harapan.

Longsor yang Mengubah Liburan Menjadi Pelarian

Taufiq ikut terseret ke dalam kekacauan itu ketika ia berlibur ke Takengon. Longsor datang tiba-tiba dan memutus akses. Tanah jatuh seperti ombak cokelat. Mobil-mobil berhenti. Orang-orang keluar dan menatap tebing yang terus runtuh.

“Butuh berhari-hari untuk sampai ke bandara,” ujarnya.

Ketika ia tiba di Bandara Bandar Meriah, antrean panjang sudah menunggu. Ratusan orang berebut harapan untuk keluar dari zona bencana. Dua hari penuh ia bertahan bersama pengungsi lain anak-anak menangis, orang tua pucat, tubuh-tubuh kelelahan yang ingin hidup normal kembali.

Saat pesawat Hercules tiba, semua langsung bergerak. Mereka naik tanpa banyak bicara. Tidak ada kenyamanan, hanya kelegaan karena akhirnya bisa pergi dari pusat kehancuran.

“Rasanya seperti mimpi buruk,” ucapnya.

Belajar Melihat Bencana dengan Mata yang Lebih Jujur

Cerita Taufiq bukan hanya tentang Aceh yang runtuh. Ini juga tentang kita tentang cara kita memandang bencana. Kita sering menyebut banjir sebagai langganan, longsor sebagai musim biasa, padahal setiap kejadian merenggut rumah, mematahkan masa depan, dan mengoyak hidup banyak keluarga.

“Yang paling dibutuhkan sekarang makanan, logistik, bahan bakar, tempat tinggal,” kata Taufiq tanpa ragu.

Doa boleh mengiringi, tetapi bantuan nyata jauh lebih berarti. Perhatian publik jangan padam setelah trending turun. Aceh selalu bangkit, tetapi kebangkitan tidak datang dari keajaiban. Ia tumbuh dari tangan-tangan yang bersedia membantu.

Ketika Air Surut, Harapan Harus Bertahan

Feature ini tidak menutup cerita bencana masih berlangsung. Namun apa yang dibawa Taufiq dari Aceh memberi kita jendela untuk melihat lebih dalam tentang tanah yang bergerak, rumah yang hilang, dan orang-orang yang tetap bertahan meski dunia mereka berubah dalam hitungan jam.

Kali ini Taufiq tidak berbicara dengan panggung atau sorotan. Ia membawa suara tanah, suara kampung, suara warga yang masih mencoba hidup di tengah reruntuhan.

Semua orang di Aceh ingin satu hal menemukan jalan pulang. Dan jalan itu perlu kita bangun bersama. @teguh

Tags: AksesbencanaKomunikasilongsor

Kamu Melewatkan Ini

Kuota Tak Pernah Habis? Atau Akses Yang Memang Dibatasi?

Kuota Tak Pernah Habis? Atau Akses Yang Memang Dibatasi?

by teguh
Mei 6, 2026

Kamu membeli kuota, lalu mengira itu sepenuhnya milikmu. Namun waktu diam-diam menentukan batasnya. Di titik ini, persoalannya tidak lagi sekadar...

Beli Paket Data, Kenapa Rasanya Tetap Tidak Memiliki Apa-Apa?

Beli Paket Data, Kenapa Rasanya Tetap Tidak Memiliki Apa-Apa?

by teguh
April 18, 2026

Tabooo.id: Deep - Kamu pernah beli kuota 50 GB, lalu sisa 18 GB lenyap saat masa aktif habis? Banyak orang...

Tirto Bukan Nama Jalan, Tapi Alarm Demokrasi yang Masih Berbunyi

Tirto Bukan Nama Jalan, Tapi Alarm Demokrasi yang Masih Berbunyi

by teguh
April 18, 2026

Tabooo.id: Vibes - Di banyak kota, nama Tirto Adhi Soerjo hanya terpampang di papan jalan. Banyak orang melintas tanpa menoleh....

Next Post
Banjir Sumatera: Jejak Kayu, Air, dan Kekuasaan yang Tersisa

Banjir Sumatra: Jejak Kayu, Air, dan Kekuasaan yang Tersisa

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id