Tabooo.id: Life – Di sebuah sore Jakarta yang terlihat biasa deru motor, hujan tipis, langit yang merunduk Taufiq LIDA muncul dengan wajah yang menyimpan kabar lain. Matanya membawa bayangan lumpur dari Aceh, seolah kampung halaman itu masih menempel di dirinya. Ia baru kembali dari tempat yang tumbuh bersamanya, namun kini berubah menjadi lanskap luka.
“Sulit sekali,” katanya dengan nada rendah. “Sulit percaya kalau itu kampung sendiri.”
Aceh daerah yang berulang kali menantang bencana kini kembali menanggung beban berat. Banjir besar dan rangkaian longsor runtuh bersamaan, memaksa rumah tertelan tanah, jalan terputus, dan ribuan orang kehilangan kendali atas hidup mereka. Sumatra basah oleh duka, dan Aceh berdiri di titik paling rapuh.
Taufiq tidak melihat bencana ini dari jauh. Ia melihatnya dari tanah tempat ia dilahirkan.
Jalan yang Tak Lagi Menunjukkan Pulang
Ia menyaksikan jalan yang hilang seperti garis pensil yang terhapus. Tanah menutup jalur utama. Jembatan retak dan melengkung sebelum akhirnya ambruk. Banyak wilayah mendadak terpisah dan mengambang seperti pulau kecil.
“Logistik yang masuk sedikit sekali,” kata Taufiq. “Jalan putus, Jembatan ambruk ditambah Jalur Banda Aceh enggak bisa ditembus.”
Keterbatasan akses memukul keras. Relawan harus berjalan kaki membawa makanan. Beberapa tim memakai motor trail, sementara helikopter menunggu cuaca yang terus berubah. Di wilayah yang jauh dari kota, warga menunggu sambil menahan lapar.
Lansia mulai kelelahan. Para ibu menggenggam anak mereka lebih erat. Anak-anak makan apa pun yang tersisa. Desa yang paling terpencil bahkan belum melihat satu pun bantuan.
“Kondisi anak-anak parah sekali,” ujar Taufiq. “Mereka makan seadanya. Banyak rumah tertimbun tanah sampai hilang bentuknya.”
Kerusakan itu menciptakan daratan baru istilah yang ia pakai untuk menggambarkan betapa ekstremnya perubahan di kampungnya.
Ketika Pemimpin Kewalahan dan Tenaga Habis
Skala bencana ini membuat banyak pemimpin daerah tidak sanggup bertahan.
“Saya enggak kaget kalau banyak bupati menyerah,” kata Taufiq. “Bukan karena mereka enggak peduli, tetapi bencananya terlalu besar.”
Ia mencoba memilih kata-kata yang tidak memperkeruh suasana. Namun realitas tidak bisa ia tutupi kerusakan terlalu luas, kebutuhan warga terus bertambah, dan tenaga pemerintah menipis. Banyak pejabat bekerja siang-malam tetapi tetap kewalahan.
Tidak ada yang siap menghadapi bencana sebesar ini. Kekuatan manusia terasa kecil.
Ketika Suara Terkunci di Balik Sinyal yang Hilang
Masalah lain muncul dari langit jaringan hilang. Sinyal melemah hingga akhirnya mati total. Orang-orang ingin memanggil bantuan, tetapi ponsel mereka seperti benda tak berguna.
“Sinyal susah sekali. Jaringan hampir enggak ada,” Taufiq mengeluh.
Kehilangan komunikasi membuat panik meningkat. Kabar hilang. Foto bencana tertahan berjam-jam. Video longsor berhenti di memori ponsel. Banyak keluarga tidak bisa memastikan keadaan kerabatnya. Dunia luar mengira semua terkendali, padahal banyak desa masih berjuang sendiri.
Kerusakan fisik merusak hidup. Tetapi hilangnya komunikasi merusak harapan.
Longsor yang Mengubah Liburan Menjadi Pelarian
Taufiq ikut terseret ke dalam kekacauan itu ketika ia berlibur ke Takengon. Longsor datang tiba-tiba dan memutus akses. Tanah jatuh seperti ombak cokelat. Mobil-mobil berhenti. Orang-orang keluar dan menatap tebing yang terus runtuh.
“Butuh berhari-hari untuk sampai ke bandara,” ujarnya.
Ketika ia tiba di Bandara Bandar Meriah, antrean panjang sudah menunggu. Ratusan orang berebut harapan untuk keluar dari zona bencana. Dua hari penuh ia bertahan bersama pengungsi lain anak-anak menangis, orang tua pucat, tubuh-tubuh kelelahan yang ingin hidup normal kembali.
Saat pesawat Hercules tiba, semua langsung bergerak. Mereka naik tanpa banyak bicara. Tidak ada kenyamanan, hanya kelegaan karena akhirnya bisa pergi dari pusat kehancuran.
“Rasanya seperti mimpi buruk,” ucapnya.
Belajar Melihat Bencana dengan Mata yang Lebih Jujur
Cerita Taufiq bukan hanya tentang Aceh yang runtuh. Ini juga tentang kita tentang cara kita memandang bencana. Kita sering menyebut banjir sebagai langganan, longsor sebagai musim biasa, padahal setiap kejadian merenggut rumah, mematahkan masa depan, dan mengoyak hidup banyak keluarga.
“Yang paling dibutuhkan sekarang makanan, logistik, bahan bakar, tempat tinggal,” kata Taufiq tanpa ragu.
Doa boleh mengiringi, tetapi bantuan nyata jauh lebih berarti. Perhatian publik jangan padam setelah trending turun. Aceh selalu bangkit, tetapi kebangkitan tidak datang dari keajaiban. Ia tumbuh dari tangan-tangan yang bersedia membantu.
Ketika Air Surut, Harapan Harus Bertahan
Feature ini tidak menutup cerita bencana masih berlangsung. Namun apa yang dibawa Taufiq dari Aceh memberi kita jendela untuk melihat lebih dalam tentang tanah yang bergerak, rumah yang hilang, dan orang-orang yang tetap bertahan meski dunia mereka berubah dalam hitungan jam.
Kali ini Taufiq tidak berbicara dengan panggung atau sorotan. Ia membawa suara tanah, suara kampung, suara warga yang masih mencoba hidup di tengah reruntuhan.
Semua orang di Aceh ingin satu hal menemukan jalan pulang. Dan jalan itu perlu kita bangun bersama. @teguh





