Senin, April 20, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Tirto Bukan Nama Jalan, Tapi Alarm Demokrasi yang Masih Berbunyi

April 18, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Di banyak kota, nama Tirto Adhi Soerjo hanya terpampang di papan jalan. Banyak orang melintas tanpa menoleh. Padahal di balik nama itu, berdiri sosok yang pernah membuat pemerintah kolonial gelisah hanya lewat tulisan.

Ia bukan jenderal. Bukan pemilik pabrik. Juga bukan bangsawan yang hidup nyaman di dekat kekuasaan. Ia wartawan. Justru karena itu, penjajah menganggapnya berbahaya.

Saat Tinta Lebih Menakutkan daripada Senjata

Pada awal abad ke-20, Hindia Belanda tidak hanya menguasai tanah. Mereka juga menguasai cerita. Selain itu, mereka menentukan siapa yang boleh bicara dan siapa yang harus diam. Namun Tirto datang membawa gangguan.

Pada 1907, ia mendirikan Medan Prijaji, media yang banyak orang sebut sebagai surat kabar pribumi modern pertama. Koran ini bukan sekadar tempat memuat berita. Sebaliknya, koran ini berubah menjadi ruang perlawanan.

Rakyat kecil datang membawa keluhan tentang pungutan liar, ketidakadilan hukum, dan arogansi pejabat kolonial.

BacaJuga

Soeara Boeroeh 1947: Mimpi Buruh yang Masih Relevan di 2026

Kebaya Kartini: Warisan Kain atau Warisan Keberanian?

Sejarawan Taufik Abdullah menjelaskan bahwa awal abad ke-20 menjadi masa tumbuhnya kesadaran modern bumiputra lewat organisasi dan pers. Karena itu, Tirto hadir sebagai pemantik perubahan.

Ia paham satu hal penjajahan selalu bermula dari penguasaan narasi. Maka, ia merebut ruang bicara.

Tirto Menulis Saat Menulis Mengandung Risiko

Hari ini banyak orang menulis demi angka tayangan. Sementara itu, Tirto dulu menulis sambil menanggung ancaman pengasingan.

Melalui Medan Prijaji, ia menyerang feodalisme lokal dan kolonialisme Belanda sekaligus. Ia juga membela pedagang kecil, pegawai rendahan, dan warga desa yang tak punya akses kuasa.

Budayawan Goenawan Mohamad pernah menulis bahwa pers modern lahir dari keberanian mengganggu kekuasaan. Kalimat itu terasa melekat pada Tirto.

Selain itu, sosiolog Ignas Kleden menilai media dalam masyarakat kolonial membuka ruang publik baru. Di sana, orang sadar bahwa nasib mereka sama-sama tertindas.

Dengan kata lain, Tirto membantu rakyat mengenali luka bersama.

Kekuasaan Menyerang Suara yang Jujur

Kekuasaan jarang suka kritik. Dulu begitu. Bahkan sekarang pun sering tetap sama.

Tirto menghadapi sensor, perkara hukum, intimidasi, dan pengasingan ke Ambon. Penguasa menghukumnya bukan karena kejahatan, melainkan karena keberanian berpikir dan menulis.

Sejarawan Sartono Kartodirdjo menjelaskan bahwa kolonialisme bekerja bukan hanya lewat senjata, tetapi juga lewat aturan dan tekanan hukum.

Artinya sederhana penguasa kadang memukul pena memakai pasal. Karena itulah, kisah Tirto terasa dekat dengan zaman ini.

Mati Miskin, Menang di Sejarah

Pada 07/121918, Tirto wafat di Batavia dalam kondisi miskin dan nyaris terlupakan, Ironis.

Ia memperjuangkan martabat publik, tetapi zamannya tak memberi penghormatan layak. Meski begitu, sejarah punya ingatan panjang.

Sastrawan Pramoedya Ananta Toer menghidupkan kembali sosok Tirto lewat buku Sang Pemula pada 1985. Dari riset itu, publik mengetahui bahwa tokoh Minke dalam tetralogi Bumi Manusia terinspirasi dari Tirto.

Pramoedya menyebut Tirto sebagai perintis pers nasional dan perintis kesadaran modern bumiputra.

Kemudian negara memberi pengakuan. Melalui Keputusan Presiden RI Nomor 85/TK/2006 tanggal 03/11/2006, pemerintah menetapkan Tirto Adhi Soerjo sebagai Pahlawan Nasional. Mungkin terlambat Namun tetap penting.

Kenapa Generasi Sekarang Harus Kenal Tirto?

Karena kita hidup di zaman banjir informasi, tetapi kekurangan keberanian.

Semua orang bisa bicara. Banyak orang mengunggah opini. Namun hanya sedikit yang mau membela yang lemah atau menanggung risiko kebenaran.

Akademisi komunikasi Ashadi Siregar menegaskan bahwa pers sehat harus berpihak pada warga, bukan tunduk pada modal dan kekuasaan.

Nilai itu sudah Tirto jalankan lebih dari seabad lalu. Ia mengingatkan bahwa jurnalisme bukan panggung narsisme. Bukan pabrik sensasi. Juga bukan lomba viral.

Sebaliknya, jurnalisme adalah keberanian berdiri di sisi yang tak punya suara.

Tirto Bukan Masa Lalu

Ia alarm. Saat pers dijual, rakyat kehilangan telinga. Ketika kritik dibungkam, kekuasaan bicara sendirian. Jika publik berhenti peduli, demokrasi mulai sekarat.

Nama Tirto mungkin ada di jalan. Namun semangatnya seharusnya hidup di kepala. @teguh

Tags: akademisiAmbonBukuBumi ManusiaDemokrasiFeodalismeInformasiJurnalisJurnalismeKeppres RI Nomor 85/TK/2006KolonialismeKomunikasiKritikMedan PrijajiNarsismepahlawan nasionalpemerintahPengakuanPengasinganPerlawananPers NasioanlRuang PublikSang PemulaSastrawansejarawanSensorSosiologTetralogiTirto Adhi Soerjo

REKOMENDASI TABOOO

Perempuan Bicara, Sistem Menekan: Siapa Takut Suara Mereka?

Patriarki Masih Dominan: Perempuan Harus Diam atau Melawan?

by dimas
April 19, 2026

Tabooo.id: Deep - Ruang publik terlihat terbuka, tetapi tidak semua suara benar-benar bebas.Perempuan yang berani bicara sering menghadapi tekanan, ancaman,...

Anggaran Rakyat, Tapi Rakyat Tak Punya Kuasa: Apa yang Salah?

Anggaran Rakyat, Tapi Rakyat Tak Punya Kuasa: Apa yang Salah?

by Jery
April 19, 2026

Tabooo.id: Deep - Di sebuah ruang rapat pemerintah daerah, warga duduk rapi dan menyampaikan usulan. Mereka bicara soal jalan rusak,...

Kuota Tidak Hangus, Katanya Yang Hangus Perasaan Pelanggan

Kuota Tidak Hangus, Katanya Yang Hangus Perasaan Pelanggan

by teguh
April 18, 2026

Tabooo.id: Edge - Pernah beli paket data 50 GB, lalu sibuk beberapa hari, kemudian masa aktif habis dan kuota ikut...

Next Post
KPK Bongkar Celah KIP Kuliah: Beasiswa untuk Rakyat, atau Jalur Titipan Elite?

KPK Bongkar Celah KIP Kuliah: Beasiswa untuk Rakyat, atau Jalur Titipan Elite?

Recommended

Cepuri Parangkusumo: Mitos, Perjanjian, atau Strategi Kekuasaan Mataram?

Cepuri Parangkusumo: Mitos, Perjanjian, atau Strategi Kekuasaan Mataram?

April 19, 2026
Huawei Mate 80 Pro: Ponsel Bukan Sekadar Gadget, Tapi Status Comeback

Huawei Mate 80 Pro: Ponsel Bukan Sekadar Gadget, Tapi Status Comeback

April 17, 2026

Popular

Daftar Kekayaan Maidi: Ini Peta Aset Seorang Wali Kota Madiun

Daftar Kekayaan Maidi: Ini Peta Aset Seorang Wali Kota Madiun

April 14, 2026

Cepuri Parangkusumo: Mitos, Perjanjian, atau Strategi Kekuasaan Mataram?

April 19, 2026

Labuhan Parangkusumo: Ritual Sakral atau Tradisi yang Mulai Kehilangan Makna?

April 19, 2026

Go Tik Swan: Dia Tionghoa, Tapi Jadi Jawa Sejati

April 19, 2026

Perempuan Indonesia Sudah Maju, Masih Diragukan?

April 19, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id