Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Tak Mau Berpangku Tangan, Suroto Sulap Kompor Bekas Jadi Penghasilan

by eko
Agustus 11, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on Facebook
Share on Twitter
Suroto, 68 tahun, tetap bekerja dengan memperbaiki kompor bekas. Ia mencari barang rongsokan, memperbaikinya, lalu menjualnya kembali. Ia berjualan di Jalan Brigjend Katamso, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, tepatnya di samping Masjid Baitul Muttaqin, Mojosongo.

Tabooo.id – Usia 68 tahun tidak membuat Suroto berhenti mencari penghasilan. Di tengah usia lanjut, ia masih menyusuri tempat rongsokan untuk mencari kompor bekas. Ia kemudian memilih kompor yang masih memiliki kualitas bagus dan memperbaikinya agar kembali berfungsi.

Suroto tidak ingin hanya menunggu bantuan. Ia memilih mengandalkan keterampilan dan tenaganya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Mencari Kompor Bekas yang Masih Bagus

Suroto tidak mengambil semua kompor yang ia temukan di tempat rongsokan. Ia memilih barang yang menurutnya masih memiliki nilai.

Kualitas menjadi pertimbangan utama. Ia lebih menyukai kompor dengan material dan komponen yang masih kuat.

Salah satu merek yang ia cari yakni Rinnai. Menurut Suroto, kompor dengan kualitas baik bisa bertahan lebih lama setelah ia perbaiki.

Ini Belum Selesai

Americano: Sehat atau Cuma Gaya?

Kebijakan Pemerintah Berubah, Kehidupan Warga Ikut Berubah?

“Saya pergi ke rongsok untuk mencari kompor bekas. Saya mencari kompor yang kualitasnya bagus seperti kompor Rinnai. Yang utama kualitasnya tahan lama,” ujar Suroto.

Setelah menemukan kompor yang sesuai, Suroto mulai memeriksa bagian-bagiannya. Ia memperbaiki komponen yang bermasalah, membersihkan bagian yang kotor, lalu memastikan kompor kembali berfungsi.

Dari proses itu, barang yang sebelumnya masuk kategori rongsokan kembali memiliki nilai ekonomi.

Satu Kompor Bisa Terjual Rp200 Ribu-Rp250 Ribu

Suroto menentukan harga berdasarkan kondisi kompor.

Ia biasanya menjual kompor hasil perbaikannya dengan harga Rp200 ribu hingga Rp250 ribu. Kondisi barang menentukan harga akhir.

“Harga jual tergantung kondisi dan kelayakan kompor. Biasanya Rp200 ribu sampai Rp250 ribu per kompor,” terangnya.

Bagi Suroto, harga tersebut tidak datang begitu saja. Ia harus mencari kompor, memilih bagian yang masih bagus, melakukan perbaikan, dan memastikan kompor bisa kembali digunakan.

Setiap kompor juga membutuhkan waktu dan tenaga.

Pelanggan Tak Selalu Ramai

Usaha Suroto tidak selalu menghasilkan pemasukan yang sama setiap hari.

Pelanggan yang datang untuk servis terkadang sedikit. Pembeli kompor hasil perbaikan juga tidak selalu muncul setiap waktu.

Namun, kondisi itu tidak membuatnya menyerah.

Suroto tetap mencari kompor bekas dan mengerjakan servis ketika ada pelanggan. Ia memilih terus bergerak daripada hanya menunggu penghasilan datang.

Cara itu menjadi bagian dari perjuangannya menjaga kebutuhan sehari-hari.

Tak Mengejar Banyak, yang Penting Tetap Berusaha

Suroto sadar penghasilannya tidak selalu besar. Karena itu, ia menjalani kehidupan dengan sederhana dan menyesuaikan kebutuhan dengan pemasukan.

Ia tidak memasang target muluk. Baginya, bisa mendapatkan penghasilan dari kemampuan sendiri sudah cukup untuk terus melangkah.

“Kalau untuk kebutuhan sehari-hari ya kita cukup-cukupkan. Yang penting terus berusaha, untuk hasil kita serahkan Allah,” ucapnya.

Kisah Suroto menunjukkan satu hal sederhana: usia tidak selalu menentukan seseorang berhenti bekerja.

Di tangannya, kompor bekas bukan sekadar barang rongsokan. Ia melihat peluang di balik barang yang orang lain mungkin anggap tidak berguna.

Ia memperbaikinya, memberinya fungsi kembali, lalu menjadikannya sumber penghasilan.

Suroto mungkin tidak mengejar keuntungan besar.

Ia hanya ingin tetap bekerja, tetap mandiri, dan tetap punya alasan untuk bangun setiap hari.

Selama masih mampu berusaha, ia memilih tidak menyerah pada keadaan.@eko

Tags: Kompor bekasMojosongoServis KomporSurakarta

Kamu Melewatkan Ini

Sudah Dibasahi, Api TPA Putri Cempo Muncul Lagi

Sudah Dibasahi, Api TPA Putri Cempo Muncul Lagi

by teguh
September 24, 2026

Api kembali muncul di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Putri Cempo, Solo, Kamis 24/09/2026. Padahal, petugas sebelumnya sudah melakukan pembasahan dan...

KY Gelar Diskusi Publik di Solo Bahas Penguatan Kewenangan

KY Gelar Diskusi Publik di Solo Bahas Penguatan Kewenangan

by eko
September 24, 2026

KY gelar diskusi publik di Solo untuk membahas penguatan kewenangan, kelembagaan, dan pengawasan hakim dalam sistem kekuasaan kehakiman. Tabooo.id: Surakarta...

Surakarta Dipelajari FAO-ICLEI, Sampah Makanan Naik Kelas Jadi Isu Kota

Surakarta Dipelajari FAO-ICLEI, Sampah Makanan Naik Kelas Jadi Isu Kota

by teguh
September 22, 2026

Sisa dan sampah makanan biasanya berakhir di tempat sampah. Namun, bagi FAO dan ICLEI, persoalannya tidak berhenti pada aktivitas membuang....

Next Post
TPA Putri Cempo Berbenah, Mata Pencaharian Pemulung Terancam

TPA Putri Cempo Berbenah, Mata Pencaharian Pemulung Terancam

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id