Hari kedua TABOOO Cinema Lab membawa peserta menyusun cerita, observasi, pitching, dan syuting di lima lokasi untuk merekam realitas Winongo.
Tabooo.id – Film dokumenter tidak lahir ketika kamera mulai merekam. Film dokumenter lahir ketika seseorang berani mendengar, mengamati, lalu memahami kehidupan di sekitarnya. Kamera hanya menjadi alat untuk menerjemahkan pengalaman itu menjadi sebuah cerita.
Semangat tersebut mewarnai hari kedua TABOOO Cinema Lab dalam rangkaian TABOOO Cultural Production bertema From Reality to Narrative di Kelurahan Winongo, Kota Madiun, Selasa (7/7/2026).
Hari pertama membekali peserta dengan cara berpikir seorang dokumenteris. Hari kedua membawa mereka keluar dari ruang kelas menuju ruang kehidupan. Mereka mulai menyusun cerita, melakukan observasi, mempresentasikan hasil temuan, lalu memproduksi film di tengah aktivitas masyarakat.

Menyusun Cerita Sebelum Menekan Tombol Rekam
Peserta membuka kegiatan dengan diskusi kelompok untuk merumuskan ide film dokumenter.
Setiap kelompok menentukan tema, memilih sudut pandang, menyusun alur cerita, sekaligus menetapkan tokoh yang akan menjadi pusat narasi.
Mereka juga mendiskusikan alasan mengapa cerita tersebut penting untuk diangkat.
Proses itu mengajarkan bahwa dokumenter selalu berawal dari cerita, bukan dari kamera.
Para mentor terus mendorong peserta agar tidak hanya mencari gambar yang menarik. Mereka juga meminta setiap kelompok menemukan makna di balik kehidupan yang mereka amati.
Observasi Menjadi Langkah Pertama Membaca Realitas
Usai menyusun konsep, seluruh kelompok langsung turun ke lapangan.
Peserta mengunjungi lokasi yang telah mereka pilih. Mereka berbincang dengan pelaku usaha, mengamati aktivitas sehari-hari, serta mencatat detail yang berpotensi memperkuat cerita.
Tidak satu pun kelompok terburu-buru menyalakan kamera.
Sebaliknya, mereka memilih mendengar lebih dulu, mengenal narasumber, lalu memahami konteks sebelum mengambil gambar.
Cara kerja tersebut menjadi prinsip dasar film dokumenter. Dokumenteris harus mengenali realitas terlebih dahulu agar setiap gambar memiliki makna.
Pitching Menguji Kekuatan Cerita
Seluruh peserta kemudian kembali berkumpul mengikuti sesi pitching.
Setiap kelompok mempresentasikan hasil observasi di hadapan mentor dan peserta lain.
Mereka menjelaskan tokoh utama, konflik, pesan, serta arah cerita yang akan dibangun.
Para mentor memberi masukan secara langsung.
Mereka mempertanyakan alasan pemilihan tokoh, kekuatan konflik, hingga relevansi cerita dengan kehidupan masyarakat.
Diskusi berlangsung aktif.
Peserta saling bertukar sudut pandang dan belajar melihat satu peristiwa melalui berbagai perspektif.
Lima Lokasi, Lima Cerita tentang Winongo
Sore harinya, seluruh kelompok mulai menjalankan proses syuting.
Kelompok pertama memulai pengambilan gambar di Batik WMH.
Di lokasi lain, tim kedua menelusuri proses produksi Batik Tembo dari dekat.
Bank Sampah Matahari kemudian menjadi ruang observasi bagi tim ketiga yang mengangkat isu pemberdayaan lingkungan.
Sementara itu, kelompok berikutnya merekam kisah Tempe Bungkus Daun Bu Ani yang tetap setia mempertahankan cara produksi tradisional.
Tim terakhir memilih Batik Atanisa milik Pak Joko sebagai panggung untuk bercerita tentang ketekunan, warisan budaya, dan semangat pelaku usaha lokal.
Sementara kelompok terakhir mengeksplorasi perjalanan Batik Atanisa milik Pak Joko.
Kelima lokasi tersebut memperlihatkan wajah Winongo dari sudut yang berbeda.
Peserta menemukan cerita tentang ketekunan, inovasi, pelestarian budaya, ekonomi kreatif, hingga semangat masyarakat mempertahankan usaha lokal.
Pengalaman itu mengubah cara pandang peserta terhadap lingkungan di sekitarnya.
Mereka tidak lagi melihat lokasi sebagai objek pengambilan gambar.
Mereka melihat manusia, nilai, dan pengalaman yang layak menjadi narasi dokumenter.
Dokumenter Selalu Berawal dari Cara Melihat
“Saya sangat mengapresiasi Tabooo Network Indonesia yang telah menghadirkan Workshop Pembuatan Film Dokumenter melalui TABOOO Cinema Lab di Kelurahan Winongo. Kegiatan ini menjadi ruang belajar yang sangat penting karena peserta tidak hanya mempelajari teknik membuat film, tetapi juga belajar membaca kehidupan, memahami manusia, dan menemukan cerita dari lingkungan di sekitarnya,” ujar Wahyu.
Menurutnya, seorang dokumenteris tidak cukup menguasai teknik kamera.
Ia juga harus memiliki rasa ingin tahu, kemampuan mengamati, dan keberanian memahami kehidupan masyarakat.
“Saya berharap dari TABOOO Cinema Lab ini akan lahir pembuat-pembuat film dokumenter dari berbagai daerah di Indonesia. Saya percaya masih banyak cerita, tradisi, dan kehidupan masyarakat yang perlu terus kita rekam lalu kita bagikan kepada publik. Setiap daerah memiliki pengalaman, pengetahuan, dan nilai yang layak kita dokumentasikan agar generasi berikutnya tetap dapat mempelajarinya,” katanya.
Peserta Pulang Membawa Cara Pandang Baru
Pengalaman tersebut juga dirasakan Yogo Prasetyo, mahasiswa Politeknik Negeri Madiun.
Ia mengaku memperoleh pengalaman baru selama mengikuti TABOOO Cinema Lab.
“Kegiatan ini sangat seru karena kami tidak hanya belajar teori, tetapi juga langsung mempraktikkan proses membuat film dokumenter mulai dari observasi, menyusun cerita, sampai pengambilan gambar di lapangan. Saya mendapatkan banyak ilmu baru tentang dokumenter. Saya juga bertemu banyak teman dan mentor dari berbagai latar belakang sehingga memperoleh relasi baru,” ujarnya.
Yogo berharap Tabooo Network Indonesia terus membuka ruang belajar serupa bagi generasi muda.
“Saya berharap Tabooo Network Indonesia bisa terus mengadakan kegiatan seperti ini. Program seperti TABOOO Cinema Lab sangat bermanfaat karena memberikan kesempatan kepada anak muda untuk belajar, berkarya, sekaligus mengenal potensi budaya di daerahnya melalui film dokumenter. Semoga ke depan pesertanya semakin banyak dan menjangkau lebih banyak daerah,” tuturnya.
Dari Kampung Lahir Narasi
Hari kedua TABOOO Cinema Lab memperlihatkan bahwa dokumenter bukan sekadar proses produksi film.
Peserta belajar membaca kehidupan sebelum merekamnya.
Observasi membantu mereka memahami manusia.
Pitching melatih mereka mempertajam sudut pandang.
Syuting mengubah hasil pengamatan menjadi bahasa visual.
Kampung menyimpan pengetahuan.
Pelaku usaha menghadirkan pengalaman.
Tradisi membangun identitas.
Seluruh unsur itu membentuk cerita yang layak dikenalkan kepada publik.
Di situlah TABOOO Cinema Lab menghadirkan makna yang lebih besar.
Program ini tidak hanya melatih peserta mengoperasikan kamera. Program ini membentuk dokumenteris muda yang mampu membaca realitas, menemukan nilai di balik kehidupan sehari-hari, lalu mengubahnya menjadi narasi yang menjaga ingatan kolektif masyarakat.
Bagi TABOOO, dokumenter bukan sekadar karya audiovisual. Dokumenter merupakan cara masyarakat menjaga identitas, merawat pengetahuan, dan memastikan cerita-cerita lokal terus hidup melampaui zamannya. @dimas







