TABOOO Cinema Lab menggaungkan Merdeka 100 Persen melalui keberanian membaca, merekam, dan mengubah realitas menjadi narasi budaya yang bermakna.
Tabooo.id: Madiun – Setiap kali sebuah panggung budaya selesai, tepuk tangan mereda dan penonton pulang. Namun cerita yang lahir dari peristiwa itu sering ikut menghilang. Kelurahan Winongo memilih jalan berbeda. Warganya tidak hanya merayakan budaya, tetapi juga merekam, membaca, lalu mengolahnya menjadi narasi visual yang mampu hidup jauh setelah seremoni berakhir.
Semangat itulah yang menggerakkan Tabooo Cinema Lab Workshop Pembuatan Film Dokumenter dalam rangkaian Tabooo Cultural Production bertema “From Reality to Narrative” pada Bersih Desa Kelurahan Winongo 2026, Senin (6/7/2026). Melalui kegiatan tersebut, Tabooo mendorong generasi muda agar tidak sekadar menikmati tradisi, tetapi juga menjaga, mengembangkan, dan menceritakannya kembali melalui film dokumenter.
Pertanyaan sederhana pun mengiringi seluruh kegiatan siapa yang akan menjaga cerita sebuah kampung jika bukan masyarakatnya sendiri?
Banyak tradisi lokal perlahan menghilang bukan karena kehilangan nilai, melainkan karena masyarakat belum sempat merekam dan menceritakannya kepada generasi berikutnya.
Saat Budaya Tidak Lagi Berhenti di Panggung
Sejak sore hari, pelajar, mahasiswa, pegiat budaya, hingga komunitas kreatif memenuhi lokasi kegiatan. Mereka datang bukan untuk menyaksikan hiburan semata. Mereka ingin belajar melihat kampungnya sendiri melalui sudut pandang seorang dokumenteris.
Acara dihadiri langsung oleh COO PT Tabooo Network Indonesia Jery Satria Bagas Putra, Kepala Bidang Pariwisata Disbudparpora Kota Madiun Yoga Pratama, Camat Manguharjo Lita Febriana Hapsari, Kasi SMA/PKPLK Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Madiun Changgih Swantaka Yoga Nendi, serta di tengah kegiatan turut hadir Komisaris PT Tabooo Network Indonesia Wartonagoro dan CEO PT Tabooo Network Indonesia Jeje.
Panitia membuka kegiatan pukul 14.30 WIB melalui registrasi peserta. Selanjutnya peserta mengenal konsep Tabooo Cultural Production, mendalami tema From Reality to Narrative, memahami visi Tabooo Network Indonesia, kemudian mengikuti pembukaan resmi yang dipandu Kepala Bidang Pariwisata Disbudparpora Kota Madiun. Pendekatan tersebut sejalan dengan filosofi Tabooo yang memandang budaya sebagai realitas yang harus dibaca, dipahami, lalu diolah menjadi pengetahuan bersama.
Dari Seremoni Menuju Ruang Belajar
Workshop ini tidak berhenti pada agenda seremonial. Seluruh rangkaian kegiatan mengajak peserta memandang budaya sebagai sumber pengetahuan yang dapat menghasilkan karya, memperkuat identitas, sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif.
Membaca Realitas Sebelum Mengangkat Kamera
COO Taboooo Network Indonesia Jery Satria Bagas Putra menegaskan bahwa Tabooo Cinema Lab tidak sekadar mengajarkan teknik membuat film dokumenter.
Menurut Jery, kegiatan tersebut membangun ruang produksi budaya yang mengajak generasi muda membaca kehidupan sebelum menekan tombol rekam.
“Hari ini kita tidak hanya hadir dalam sebuah acara. Kita hadir dalam sebuah ruang produksi budaya. Ruang untuk membaca realitas, mencatat kehidupan masyarakat, mendokumentasikan tradisi, lalu mengubahnya menjadi narasi, karya visual, pengetahuan, dan nilai yang bisa hidup lebih panjang dari acaranya.” ujarnya.
Di hadapan peserta, Jery memperkenalkan gagasan “Merdeka 100%” sebagai fondasi berpikir dalam Tabooo Cultural Production.
Baginya, masyarakat harus memaknai kemerdekaan sebagai keberanian berpikir mandiri sekaligus menghasilkan karya berdasarkan pengalaman sendiri.
“Merdeka 100% hari ini bisa dimulai dari satu hal sederhana: berani berpikir sendiri dan berani berkarya dari realitas sendiri.” tambahnya.
Jery juga mengingatkan bahwa masyarakat yang tidak pernah menceritakan realitasnya sendiri akan terus hidup melalui cerita yang dibuat orang lain.
Karena itu, Tabooo mengajak generasi muda menjadi pembaca realitas, pencatat zaman, sekaligus kreator yang mampu menemukan makna dari lingkungan terdekatnya.
“Bagi Tabooo, budaya bukan sekadar sesuatu yang dilestarikan. Budaya harus dibaca. Budaya harus ditafsirkan. Budaya harus menerjemahkan dirinya menjadi karya. Kalau tidak, budaya hanya akan menjadi seremoni yang datang, ramai sebentar, lalu hilang.” pungkasnya.
Bersih Desa Memilih Jalan Baru
Kasi SMA/PKPLK Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Madiun Changgih Swantaka Yoga Nendi melihat pendekatan Winongo sebagai langkah baru dalam merawat budaya.
Menurut Changgih, kegiatan tersebut memberi bekal nyata kepada generasi muda untuk menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan.
“Kegiatan seperti ini bisa menjadi bekal survival adik-adik setelah lulus nanti.” ujarnya.
Ia juga melihat perubahan menarik dalam pelaksanaan Bersih Desa Winongo.
Selama bertahun-tahun masyarakat mengisi bersih desa dengan pertunjukan wayang atau ketoprak. Kini Winongo menghadirkan workshop film dokumenter yang menghubungkan tradisi dengan kreativitas generasi muda.
“Biasanya bersih desa diisi wayangan atau ketoprak. Kali ini berbeda. Bersih Desa Winongo menghadirkan workshop pembuatan film dokumenter. Ini menjadi pendekatan baru dalam merawat budaya.” tambahnya.
Budaya Bertemu Ekonomi Kreatif
Kepala Bidang Pariwisata Disbudparpora Kota Madiun Yoga Pratama mengapresiasi penyelenggaraan Tabooo Cinema Lab.
Yoga melihat antusiasme peserta sebagai sinyal positif bagi perkembangan ekonomi kreatif di Kota Madiun.
Ia meyakini kemampuan memproduksi film dokumenter tidak hanya membantu pelestarian budaya lokal. Kemampuan tersebut juga membuka peluang baru bagi pengembangan pariwisata berbasis komunitas dan industri kreatif daerah.
Dokumenter Dimulai dari Cara Melihat
Filmmaker sekaligus dosen Jogja Film Academy Wahyu Utami. memandu peserta selama dua hari pelatihan.
Wahyu mengajak peserta menemukan ide, melakukan riset lapangan, menyusun struktur cerita, membangun visual storytelling, hingga merancang strategi distribusi karya.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa dokumenter lahir jauh sebelum kamera menyala.
Seorang dokumenteris terlebih dahulu belajar membaca manusia, memahami persoalan sosial, kemudian menyusun pengalaman menjadi cerita yang mampu mengubah cara pandang penontonnya.
Oleh sebab itu, Tabooo tidak menjadikan pengalaman membuat film sebagai syarat utama mengikuti Cinema Lab.
Sebaliknya, rasa ingin tahu, keberanian membaca kenyataan, dan kemauan belajar menjadi modal utama bagi setiap peserta.
Menjaga Ingatan Sebelum Waktu Menghapusnya
Melalui tema “From Reality to Narrative”, Tabooo Cultural Production membawa misi yang melampaui pelatihan teknis.
Program tersebut menargetkan lahirnya dokumenteris muda yang mampu menjaga ingatan kolektif masyarakat melalui karya visual.
Perubahan zaman bergerak sangat cepat. Akibatnya, banyak tradisi lokal, cerita kampung, dan pengalaman masyarakat berpotensi hilang sebelum generasi berikutnya mengenalnya.
Kampung menyimpan pengetahuan. Tradisi membentuk identitas. Manusia menghadirkan pengalaman yang layak diwariskan.
Karena itulah dokumenter hadir bukan hanya untuk merekam gambar, melainkan menjaga ingatan agar waktu tidak menghapusnya.
Pada akhirnya, Tabooo Cinema Lab tidak sekadar mengajarkan peserta mengoperasikan kamera. Program ini melatih mereka membaca kenyataan, memahami manusia, lalu mengolah pengalaman menjadi narasi yang mampu hidup jauh melampaui peristiwa yang mereka rekam.
Bagi Tabooo, dokumenter bukan sekadar produk audiovisual. Dokumenter merupakan cara sebuah masyarakat mempertahankan identitas, merawat ingatan kolektif, sekaligus memastikan setiap kampung tetap memiliki suara di tengah perubahan zaman. Dari ruang belajar sederhana di Winongo lahirlah pesan yang jauh lebih besar: budaya tidak cukup hadir sebagai seremoni. Budaya harus melahirkan pengetahuan, menguatkan identitas, dan menghubungkan masa lalu dengan masa depan. @dimas







