Tabooo.id: Deep – Hari ini, Surakarta menutup satu bab dan membuka lembar baru: KGPAA Hamangkunagoro lebih dikenal publik sebagai KGPH Purbaya akan sah dinobatkan sebagai Paku Buwono XIV. Dengan restu mayoritas keluarga mendiang PB XIII, prosesi Jumenengan Dalem siang ini bukan sekadar seremoni adat, tetapi momen historis bagi kelangsungan salah satu kerajaan tertua di Nusantara.
KGPAA Hamangkunagoro bukan nama asing di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta. Putra bungsu mendiang PB XIII ini sejak lama berdiri di garis terdepan dalam urusan adat, tata kelola internal, hingga penjaga paugeran ketika kraton menghadapi dinamika internal beberapa tahun silam. Reputasinya sebagai sosok telaten, rapi dalam menjalankan tradisi, serta dekat dengan para sesepuh membuatnya dipandang sebagai figur yang “paling siap” melanjutkan takhta.
Sejumlah sumber internal kraton menyebut Hamangkunagoro kerap menjadi penengah ketika terjadi silang pendapat di internal keluarga. Ia dikenal sebagai pangeran yang lebih banyak bekerja dalam diam mengurus arsip, memastikan prosesi adat berjalan sesuai pakem, dan aktif memulihkan relasi antar-keluarga yang sempat mengeras.
“Beliau itu tipe yang manut paugeran tapi tetap bisa fleksibel. Sesepuh banyak cocok,” ujar salah satu abdi dalem senior saat di temui Tabooo.id.
Dukungan keluarga PB XIII menguat beberapa hari lalu ketika Hamangkunagoro menyampaikan ikrar kesetiaan dalam prosesi pemberangkatan jenazah ayahnya ke Imogiri momen yang dianggap sebagai titik penegasan garis suksesi. Langkah itu diamini sebagian besar kerabat, termasuk para gusti sepuh, yang memandang penobatan PB XIV sebagai kelanjutan wajar dari sistem adat keraton.
Siang ini, setelah mengucapkan Sabda Dalem sumpah raja yang menandai dirinya resmi menjadi PB XIV beliau akan memimpin Kirab Agung mengelilingi benteng Keraton Surakarta. Dengan menaiki kereta kencana, kirab ini menjadi simbol keterikatan raja dengan wilayahnya, sekaligus deklarasi kepada masyarakat bahwa Surakarta kembali memiliki pemimpin adat yang sah.
Karena penobatan raja bukan hanya urusan lingkar dalam keraton. Tradisi ini adalah payung besar identitas budaya Jawa penanda bahwa nilai yang kita warisi masih hidup, bergerak, dan punya tempat di dunia yang makin serbacepat. Naiknya PB XIV berarti kelanjutan tata adat, perawatan warisan budaya, dan kepastian bahwa Surakarta tetap punya poros simbolik yang dijaga dengan penuh hormat.
Dan ketika PB XIV duduk di singgasana siang ini, mungkin kita perlu bertanya: apa arti sebuah takhta di zaman ketika hampir semua hal bisa berubah dalam semalam? (sig)







