Tabooo.id: Teknologi – Pernah nggak sih kamu bertanya, “Kok Sony masih bikin HP, ya?”
Di tengah dominasi iPhone, Samsung, dan brand China yang rajin banting harga, Sony tetap berdiri. Diam-diam. Nggak ribut. Nggak pamer angka. Tapi juga nggak pamit.
Padahal, 2025 bukan tahun yang ramah buat bisnis ponsel Sony. Penjualan melempem, flagship-nya kena kritik, dan banyak orang mulai mengira Sony akan angkat tangan. Tapi bocoran terbaru justru bilang sebaliknya Sony lanjut jalan.
Bocoran Baru, Sinyal Lama yang Hidup Lagi
Basis data IMEI GSMA kembali “menyala”. Dua nama muncul Xperia 1 VIII dan Xperia 10 VIII. Blog teknologi Jepang, S-Max, mencatat setidaknya enam kode model terdaftar. Kode XQ-GE merujuk ke flagship Xperia 1 VIII, sementara XQ-GH mengarah ke kelas menengah Xperia 10 VIII.
Detail kecil ini penting. Akhiran kode menunjukkan target pasar: “44” untuk Jepang, “54” untuk Eropa, dan “74” untuk Asia di luar Jepang. Artinya, Sony masih melihat Asia sebagai medan penting meski Amerika Serikat sudah mereka tinggalkan sejak peluncuran Xperia 1 V pada 2023.
Di dunia teknologi, kemunculan di IMEI bukan sekadar formalitas. Itu tanda serius produk siap lahir.
Spesifikasi Boleh Biasa, Tapi Identitas Tetap Keras
Dari sisi dapur pacu, Sony tidak main-main. Xperia 1 VIII diprediksi memakai Snapdragon 8 Elite Gen 5, chipset yang juga menggerakkan banyak flagship terbaru. Sementara Xperia 10 VIII kemungkinan tetap bertahan dengan Snapdragon seri 6, formula aman untuk kelas menengah.
Namun, Sony tidak pernah menjual angka semata. Mereka menjual rasa. Kamera dengan DNA Alpha, layar OLED dengan sentuhan Bravia, dan pendekatan “pro” yang terasa beda dari HP lain.
Masalahnya, pendekatan ini sering terasa terlalu serius untuk pasar yang sekarang suka praktis dan murah. Di sinilah Sony kerap terpeleset.
Kenapa Sony Tetap Bertahan?
Secara bisnis, keputusan Sony terlihat nekat. Tapi secara psikologis, langkah ini masuk akal.
Sony bukan brand baru yang mencari identitas. Mereka brand lama yang menjaga gengsi. Mundur dari pasar HP berarti mengakui satu hal Sony kalah di ranah paling personal dalam hidup digital manusia modern.
Ponsel bukan cuma alat komunikasi. Ia identitas, kamera kenangan, dompet digital, bahkan teman tidur. Dengan tetap memproduksi HP, Sony menjaga eksistensi di ruang paling intim itu.
Di era Gen Z dan Milenial, konsistensi juga punya nilai emosional. Banyak orang mungkin tidak membeli Xperia, tapi mereka menghormati Sony karena tidak ikut-ikutan.
Bangkit atau Sekadar Bertahan?
Pertanyaannya sekarang bukan lagi “Sony masih bikin HP atau tidak,” tapi apakah Sony mau berubah?
Harga mahal, distribusi terbatas, dan minim promosi global jadi PR lama. Jika Xperia 1 VIII dan 10 VIII hanya mengulang pola lama, Sony akan tetap hidup tapi di pinggir percakapan.
Sebaliknya, jika Sony berani menurunkan harga, memperbaiki isu teknis, dan bicara dengan bahasa pasar hari ini, peluang bangkit masih terbuka. Apalagi, kejenuhan publik pada desain dan pengalaman yang itu-itu saja mulai terasa.
Sony dan Kita yang Tak Suka Menyerah
Cerita Sony sebenarnya dekat dengan banyak orang. Brand ini seperti pekerja senior yang tak lagi viral, tapi tetap datang tepat waktu. Ia tidak trending, tapi juga tidak menghilang.
Di tengah budaya cepat sukses atau cepat tutup, Sony memilih jalur lambat. Pilihan ini mungkin tidak seksi, tapi jujur.
Lalu, Apa Dampaknya Buat Kamu?
Kehadiran Xperia 1 VIII dan 10 VIII mengingatkan satu hal tidak semua yang bertahan itu ketinggalan zaman. Kadang, bertahan berarti menunggu momentum yang tepat.
Buat kamu yang lelah dengan tren serba instan, Sony mungkin bukan pilihan paling populer. Tapi ia bisa jadi simbol kecil bahwa konsistensi, meski sunyi, tetap punya tempat.
Dan siapa tahu di tengah pasar yang seragam, yang beda justru terasa paling relevan. @teguh




