Tabooo.id: Vibes – Ada sesuatu yang istimewa saat bulan Ramadan tiba aroma manis menguar dari gelas es buah dan takjil di meja berbuka. Di balik manis itu, tersimpan sejarah yang lebih panjang dari sekadar rasa. Sirup atau dulu disebut strup bukan sekadar pelengkap minuman ia menjadi saksi perjalanan Surabaya dari zaman kolonial hingga kini. Jika Anda berjalan di Jalan Mliwis Nomor 5, Krembangan Selatan, Anda akan melihat bangunan tua yang masih tegak, seolah menunggu cerita baru untuk dihidupkan.
Bangunan itu menampung sejarah Pabrik Sirup Siropen, kini dikenal sebagai Siropen Telasih. Pilar depannya menampilkan tulisan asli “Pabrik Limoen J.C. van DRONGELEN & HELLFACH.” Banyak orang tidak menyadari bahwa pabrik ini lahir pada 1923 oleh J.C. van Drongelen dan menjadi pabrik sirup pertama di Indonesia. Kini, bangunan itu tercatat sebagai Cagar Budaya lewat SK Walikota Surabaya 2015. Lebih dari sekadar bangunan tua, ia menyimpan kisah adaptasi, kolonialisme, dan keteguhan tradisi yang terus hidup.
Dari Eksklusif ke Publik
Dulu, sirup bukan minuman sembarangan. Strup hanya bisa dinikmati bangsawan, saudagar, dan mereka yang memiliki koneksi dengan Belanda. Setiap tetes manis bukan hanya karena gula, tapi juga karena status sosial. Sirup selalu menyambut tamu kehormatan Belanda, sementara warga Surabaya yang ingin membelinya akan berkata, “Mau beli strup.” Warna merahnya yang khas menjadi simbol kemewahan sederhana.
Seiring waktu, pabrik berganti pemilik beberapa kali. Jepang mengambil alih pada 1942, lalu Belanda kembali menguasai, hingga Indonesia menerima pabrik lewat program nasionalisasi 1958. Pada 1962, pemerintah menyerahkan pengelolaan kepada Perusahaan Industri Daerah Makanan dan Minuman, yang kemudian menjadi P.D Aneka Pangan pada 1985. Tahun 2002, pabrik bergabung dengan PT. Pabrik Es Wira Jatim, bagian dari PT. Panca Wira Usaha Jawa Timur, dan tetap memproduksi sirup secara tradisional hingga kini.
Sirup yang Tak Lekang Waktu
Yang menakjubkan, para pengrajin tetap membuat sirup dengan cara yang sama seperti 100 tahun lalu. Mereka mengolah setiap tetes dengan tangan berpengalaman, memperhatikan rasa, warna, dan aroma. Di tengah gempuran minuman kekinian yang berganti tiap musim, Siropen bertahan. Kini, siapa pun bisa membeli Sirup Siropen di supermarket, toko kelontong, marketplace, atau langsung di pabriknya. Pilihan rasa sudah bervariasi, namun esensi manis autentik tetap terjaga.
Surabaya dalam Setiap Tetes
Sirup ini lebih dari minuman ia adalah petualangan rasa dan sejarah dalam gelas. Saat menuangkan sirup ke es buah, kita meneguk lebih dari gula: kita meneguk cerita Surabaya, kota yang menyaksikan kolonialisme, perjuangan, dan peralihan kekuasaan. Sirup menjadi metafora keteguhan: meski zaman berubah, tradisi yang dijaga tetap bisa dinikmati generasi demi generasi.
Di tengah modernisasi dan digitalisasi, banyak orang lupa asal-usul sesuatu yang mereka konsumsi. Sirup Siropen mengingatkan bahwa kenikmatan hari ini lahir dari perjalanan panjang lebih dari seabad. Nilai tradisi dan kerja keras turun-temurun menjadikannya lebih dari sekadar minuman ia warisan budaya yang manis, literal dan metaforis.
Refleksi
Fenomena Sirup Siropen menunjukkan ketahanan budaya di tengah tren yang cepat berganti. Ia membuktikan bahwa tidak semua yang modern lebih baik, dan tidak semua yang tradisional ketinggalan zaman. Selain itu, menjaga cara lama memiliki nilai tersendiri rasa autentik muncul dari proses yang dihargai, bukan sekadar kecepatan produksi. Sirup ini juga menjadi simbol identitas dan nostalgia kolektif, menyatukan masa lalu dan masa kini dalam satu gelas manis.
Jadi, saat Ramadan ini Anda menuang sirup ke es buah, pikirkan sejenak Anda memegang seabad sejarah, berinteraksi dengan warisan yang tetap hidup di tengah gempuran modernitas. Sirup Siropen mengajarkan bahwa manis hidup bukan hanya soal lidah, tapi soal kisah di balik setiap tetesnya kisah yang tetap mengalir meski zaman bergerak. Di dunia serba cepat ini, ada kebahagiaan sederhana dalam menikmati yang lama, yang nyata, dan yang tak lekang oleh waktu. @Sabrina Fidhi – Surabaya




