Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Sirup Siropen, Pabrik Pertama yang Masih Beroperasi di Surabaya

by dimas
Februari 17, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Ada sesuatu yang istimewa saat bulan Ramadan tiba aroma manis menguar dari gelas es buah dan takjil di meja berbuka. Di balik manis itu, tersimpan sejarah yang lebih panjang dari sekadar rasa. Sirup atau dulu disebut strup bukan sekadar pelengkap minuman ia menjadi saksi perjalanan Surabaya dari zaman kolonial hingga kini. Jika Anda berjalan di Jalan Mliwis Nomor 5, Krembangan Selatan, Anda akan melihat bangunan tua yang masih tegak, seolah menunggu cerita baru untuk dihidupkan.

Bangunan itu menampung sejarah Pabrik Sirup Siropen, kini dikenal sebagai Siropen Telasih. Pilar depannya menampilkan tulisan asli “Pabrik Limoen J.C. van DRONGELEN & HELLFACH.” Banyak orang tidak menyadari bahwa pabrik ini lahir pada 1923 oleh J.C. van Drongelen dan menjadi pabrik sirup pertama di Indonesia. Kini, bangunan itu tercatat sebagai Cagar Budaya lewat SK Walikota Surabaya 2015. Lebih dari sekadar bangunan tua, ia menyimpan kisah adaptasi, kolonialisme, dan keteguhan tradisi yang terus hidup.

Dari Eksklusif ke Publik

Dulu, sirup bukan minuman sembarangan. Strup hanya bisa dinikmati bangsawan, saudagar, dan mereka yang memiliki koneksi dengan Belanda. Setiap tetes manis bukan hanya karena gula, tapi juga karena status sosial. Sirup selalu menyambut tamu kehormatan Belanda, sementara warga Surabaya yang ingin membelinya akan berkata, “Mau beli strup.” Warna merahnya yang khas menjadi simbol kemewahan sederhana.

Seiring waktu, pabrik berganti pemilik beberapa kali. Jepang mengambil alih pada 1942, lalu Belanda kembali menguasai, hingga Indonesia menerima pabrik lewat program nasionalisasi 1958. Pada 1962, pemerintah menyerahkan pengelolaan kepada Perusahaan Industri Daerah Makanan dan Minuman, yang kemudian menjadi P.D Aneka Pangan pada 1985. Tahun 2002, pabrik bergabung dengan PT. Pabrik Es Wira Jatim, bagian dari PT. Panca Wira Usaha Jawa Timur, dan tetap memproduksi sirup secara tradisional hingga kini.

Sirup yang Tak Lekang Waktu

Yang menakjubkan, para pengrajin tetap membuat sirup dengan cara yang sama seperti 100 tahun lalu. Mereka mengolah setiap tetes dengan tangan berpengalaman, memperhatikan rasa, warna, dan aroma. Di tengah gempuran minuman kekinian yang berganti tiap musim, Siropen bertahan. Kini, siapa pun bisa membeli Sirup Siropen di supermarket, toko kelontong, marketplace, atau langsung di pabriknya. Pilihan rasa sudah bervariasi, namun esensi manis autentik tetap terjaga.

Ini Belum Selesai

VOC Runtuh karena Korupsi, Kenapa Indonesia Mengulang Pola yang Sama?

Dari Ujung Timur ke Dunia: Papua Tak Lagi Sekadar Pinggiran

Surabaya dalam Setiap Tetes

Sirup ini lebih dari minuman ia adalah petualangan rasa dan sejarah dalam gelas. Saat menuangkan sirup ke es buah, kita meneguk lebih dari gula: kita meneguk cerita Surabaya, kota yang menyaksikan kolonialisme, perjuangan, dan peralihan kekuasaan. Sirup menjadi metafora keteguhan: meski zaman berubah, tradisi yang dijaga tetap bisa dinikmati generasi demi generasi.

Di tengah modernisasi dan digitalisasi, banyak orang lupa asal-usul sesuatu yang mereka konsumsi. Sirup Siropen mengingatkan bahwa kenikmatan hari ini lahir dari perjalanan panjang lebih dari seabad. Nilai tradisi dan kerja keras turun-temurun menjadikannya lebih dari sekadar minuman ia warisan budaya yang manis, literal dan metaforis.

Refleksi

Fenomena Sirup Siropen menunjukkan ketahanan budaya di tengah tren yang cepat berganti. Ia membuktikan bahwa tidak semua yang modern lebih baik, dan tidak semua yang tradisional ketinggalan zaman. Selain itu, menjaga cara lama memiliki nilai tersendiri rasa autentik muncul dari proses yang dihargai, bukan sekadar kecepatan produksi. Sirup ini juga menjadi simbol identitas dan nostalgia kolektif, menyatukan masa lalu dan masa kini dalam satu gelas manis.

Jadi, saat Ramadan ini Anda menuang sirup ke es buah, pikirkan sejenak Anda memegang seabad sejarah, berinteraksi dengan warisan yang tetap hidup di tengah gempuran modernitas. Sirup Siropen mengajarkan bahwa manis hidup bukan hanya soal lidah, tapi soal kisah di balik setiap tetesnya kisah yang tetap mengalir meski zaman bergerak. Di dunia serba cepat ini, ada kebahagiaan sederhana dalam menikmati yang lama, yang nyata, dan yang tak lekang oleh waktu. @Sabrina Fidhi – Surabaya

Tags: BudayaHeritageKlasikKulinerLegendarisModernitasRamadansurabayatakjil

Kamu Melewatkan Ini

Seblak Pedas Ternyata Membungkam Overthinking

Seblak Pedas Ternyata Membungkam Overthinking

by Anisa
Mei 11, 2026

Seblak pedas kini bukan lagi sekadar tren jajanan kaki lima. Di tengah ledakan budaya kuliner pedas Indonesia, ia perlahan berubah...

Fashion 2026: Ini Bukan Lagi Soal Gaya, Tapi Cara Kamu Bertahan

Fashion 2026: Ini Bukan Lagi Soal Gaya, Tapi Cara Kamu Bertahan

by Naysa
Mei 8, 2026

Dulu, fashion cuma soal terlihat keren. Sekarang, itu sudah tidak cukup. Tahun 2026 mengubah semuanya, baju bukan lagi sekadar gaya,...

Ayam Goreng Akur, Rasa Lama yang Tak Bisa Diganti

Ayam Goreng Akur, Rasa Lama yang Tak Bisa Diganti

by Anisa
Mei 8, 2026

Madiun selama ini dibaca lewat pecel. Padahal ada sistem rasa yang lebih dalam berupa memori, budaya, dan strategi bertahan yang...

Next Post
Pemerintah Tetapkan Awal Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

Pemerintah Tetapkan Awal Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026

Film Pesta Babi Kembali Dibubarkan, Kini Terjadi di Ternate

Mei 10, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id