Tabooo.id: Entertainment – Pernah nggak sih kamu curiga ketika musisi yang identik dengan lagu galau tiba-tiba terdengar… bahagia? Bukan bahagia yang lompat-lompat pakai confetti, tapi bahagia yang senyumnya pelan, agak ragu, tapi nyata. Kesan itulah yang muncul saat Bernadya membuka tahun 2026 dengan warna musik baru. Lebih terang. Lebih hangat. Dan jujur saja agak mencurigakan.
Selama ini, publik mengenal Bernadya sebagai suara setia patah hati. Lagu-lagunya menemani malam sunyi seperti teman ngobrol jam dua pagi: jujur, pelan, dan sedikit menyakitkan. Namun awal tahun ini, Bernadya mengirim satu sinyal penting hidup tidak harus selalu bercerita lewat air mata.
“Kita Buat Menyenangkan” dan Awal Sebuah Pergeseran
Lewat single terbaru berjudul “Kita Buat Menyenangkan”, Bernadya membuka pintu perubahan. Lagu ini terasa seperti kode rahasia tentang fase hidup yang sedang bergerak. Dalam pernyataannya, Bernadya menyebut lagu ini sebagai upaya sadar untuk menghargai setiap momen dan mempergunakan waktu sebaik mungkin. Ia sadar segalanya mungkin tidak berlangsung lama.
Pernyataan itu terdengar sederhana, tapi justru di sanalah kedewasaannya muncul. Lagu ini tidak menjual kebahagiaan kosong. Lagu ini lahir dari kesadaran akan keterbatasan waktu dan keberanian untuk menikmati hidup tanpa rasa bersalah.
Warna Oranye Kekuningan dan Nostalgia yang Hangat
Bernadya menggambarkan lagu ini dengan warna oranye kekuningan. Ia menyebut nuansanya nostalgic, mellow, dan lebih terang dari karya-karya sebelumnya. Ia membandingkannya dengan foto lama yang tersorot cahaya matahari sore tidak silau, tapi hangat.
Aransemen musiknya pun berjalan seirama dengan deskripsi itu. Lagu ini mengalir tanpa tergesa-gesa. Nada-nadanya memberi ruang bernapas. Pendengar tidak perlu terguncang; cukup duduk dan ikut merasakan.
Petra Sihombing dan Benang Merah yang Disengaja
Untuk memastikan pergeseran ini tetap utuh, Bernadya kembali menggandeng Petra Sihombing sebagai produser musik. Petra bukan sosok asing dalam perjalanan Bernadya. Ia juga mengerjakan track penutup album pertama Bernadya, sehingga kolaborasi ini terasa seperti lingkaran yang kembali bertemu.
Petra mengakui sejak awal pengerjaan bahwa arah musik Bernadya kali ini terdengar lebih ceria. Namun ia tetap melihat pesan gelap di dalamnya. Bernadya tidak menghilangkan kegelapan itu; ia hanya menyampaikannya dengan cara yang lebih halus dan dewasa.
Menariknya, Petra menegaskan bahwa ia tidak mengejar tren apa pun saat mengerjakan lagu ini. Ia fokus pada rasa suka dan kesamaan visi dengan Bernadya. Ia berharap musik yang jujur justru menemukan pendengarnya sendiri.
Musik sebagai Cermin Generasi yang Mulai Berdamai
Di titik ini, “Kita Buat Menyenangkan” hadir lebih dari sekadar single baru. Lagu ini memantulkan wajah generasi yang mulai lelah menjadikan luka sebagai identitas. Banyak orang kini mengakui kesedihan, tapi juga mulai memberi ruang bagi kebahagiaan.
Bernadya tidak menyangkal masa lalunya. Ia memakainya sebagai pijakan. Lagu ini tidak menghapus kegelapan, tetapi mengajak kita berjalan menuju ruang yang lebih terang tanpa rasa bersalah.
Jadi, Ini Akhir dari Era Gelap Bernadya?
Kini, pendengar bisa menikmati “Kita Buat Menyenangkan” di berbagai platform streaming digital. Bernadya juga merilis video liriknya di kanal YouTube, yang Seven Creative garap sebagai production house asal Jepang.
Apakah ini tanda berakhirnya era gelap Bernadya? Atau justru awal fase baru yang lebih seimbang antara terang dan gelap? Jawabannya mungkin belum muncul sekarang. Namun satu hal terasa jelas: Bernadya sedang mengajak kita berhenti sejenak, lalu berkata, hidup boleh dinikmati—walau tidak selamanya. @eko




