Tabooo.id: Teknologi – Pernah nggak sih kamu cuma niat “scroll bentar” di Shopee, tapi tiba-tiba paket datang tiga hari kemudian dan saldo tinggal sisa kenangan? Sekarang coba bayangkan situasi yang lebih ekstrem kamu bahkan tak perlu scroll. Sistem AI yang akan berpikir, memilih, lalu membelanjakan barang untukmu.
Ini bukan adegan film sci-fi. Induk Shopee, Sea Ltd., resmi menggandeng Google untuk mengembangkan teknologi kecerdasan buatan di ekosistem ecommerce dan game. Fokus utamanya adalah membangun prototipe agentic AI untuk pengalaman belanja di Shopee. Teknologi ini jelas berbeda dari AI biasa.
Dari Chatbot ke “Asisten Belanja Otonom”
Google menyebut agentic AI sebagai sistem otonom yang mampu menetapkan tujuan, menyusun rencana, lalu mengeksekusi langkah tanpa banyak campur tangan manusia. Jika generative AI mahir membuat teks atau gambar, agentic AI unggul dalam berpikir strategis dan mengambil keputusan dalam situasi dinamis.
Dengan kemampuan itu, sistem dapat mencari barang termurah, membandingkan promo lintas toko, mengatur waktu checkout agar cashback maksimal, bahkan menyusun daftar belanja berdasarkan kebiasaan pengguna. Lalu, mengapa langkah ini terasa besar?
Shopee bukan pemain kecil. Laporan Momentum Works mencatat Shopee menguasai 52% pasar ecommerce Asia Tenggara. Di Indonesia, data Sensor Tower menunjukkan 181 juta unduhan aplikasi retail sepanjang 2025. Pengguna juga menghabiskan 8,68 miliar jam di aplikasi retail.
Angka itu bukan sekadar statistik. Itu mencerminkan perhatian, kebiasaan, dan pola konsumsi.
Kenapa Tren Ini Menguat?
Persaingan ecommerce makin panas. Untuk mempertahankan dominasi, Shopee perlu melompat lebih jauh dibanding kompetitor seperti Lazada, yang mendapat dukungan teknologi dari Alibaba. Bahkan Alibaba baru merilis model AI yang mereka sebut sebagai era baru agentic AI.
Di sisi lain, Google ingin membuktikan bahwa AI mereka bukan sekadar chatbot. Raksasa teknologi itu berupaya memonetisasi model AI dengan masuk ke aktivitas harian belanja, bermain game, hingga mengelola alur kerja kompleks.
Perubahan gaya hidup juga mendorong tren ini. Generasi muda terbiasa dengan rekomendasi personal, layanan instan, dan sistem yang serba cepat. Kepraktisan menjadi standar baru. Algoritma membaca pola tersebut, lalu mengoptimalkannya.
Shopee sendiri sudah agresif mengembangkan video commerce dan sebelumnya menggandeng YouTube untuk memperkuat ekosistem belanja berbasis konten. Kini levelnya naikLazada bukan hanya konten yang pintar, sistemnya pun ikut “berpikir”.
Ini Tentang Kenyamanan atau Kendali?
Di satu sisi, agentic AI menawarkan efisiensi. Waktu lebih hemat. Proses lebih ringkas. Aktivitas belanja terasa ringan.
Namun muncul pertanyaan yang lebih dalam ketika sistem mulai mengambil keputusan konsumsi, apakah pengguna masih sepenuhnya memegang kendali?
Belanja sering dipicu emosi. Stres bisa mendorong checkout. FOMO memicu pembelian impulsif. Diskon besar menggoda tanpa ampun. Jika AI memahami pola itu, sistem dapat mengoptimalkan momen terbaik untuk mendorong transaksi.
Teknologi tidak mengenal rasa bersalah. Ia hanya mengejar target yang ditetapkan.
Apabila tujuannya meningkatkan konversi, algoritma akan belajar membuat pengguna lebih sering bertransaksi.
Dampaknya Buat Kamu?
Kita sedang memasuki fase baru dari manusia yang mengoperasikan aplikasi menjadi pengguna yang diarahkan sistem.
Bagi mereka yang sibuk, inovasi ini terasa seperti solusi. Untuk pribadi yang impulsif, fitur semacam ini bisa menjadi jebakan halus.
Agentic AI memang berpotensi membuat pengalaman belanja lebih efisien. Namun otomatisasi juga dapat mengurangi ruang refleksi sebelum membeli sesuatu.
Sebelum menyerahkan keranjang belanja pada algoritma, ada satu pertanyaan sederhana yang layak dipikirkan apakah kamu siap berbagi kendali dengan mesin?
Di era AI otonom, isu terbesarnya mungkin bukan lagi soal apa yang kamu beli melainkan siapa yang sebenarnya mengambil keputusan. @teguh




