Sabtu, Juni 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Shopee Gandeng Google, AI Siap Belanja Tanpa Banyak Tanya

by teguh
Mei 8, 2026
in Reality, Teknologi
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Teknologi – Pernah nggak sih kamu cuma niat “scroll bentar” di Shopee, tapi tiba-tiba paket datang tiga hari kemudian dan saldo tinggal sisa kenangan? Sekarang coba bayangkan situasi yang lebih ekstrem kamu bahkan tak perlu scroll. Sistem AI yang akan berpikir, memilih, lalu membelanjakan barang untukmu.

Ini bukan adegan film sci-fi. Induk Shopee, Sea Ltd., resmi menggandeng Google untuk mengembangkan teknologi kecerdasan buatan di ekosistem ecommerce dan game. Fokus utamanya adalah membangun prototipe agentic AI untuk pengalaman belanja di Shopee. Teknologi ini jelas berbeda dari AI biasa.

Dari Chatbot ke “Asisten Belanja Otonom”

Google menyebut agentic AI sebagai sistem otonom yang mampu menetapkan tujuan, menyusun rencana, lalu mengeksekusi langkah tanpa banyak campur tangan manusia. Jika generative AI mahir membuat teks atau gambar, agentic AI unggul dalam berpikir strategis dan mengambil keputusan dalam situasi dinamis.

Dengan kemampuan itu, sistem dapat mencari barang termurah, membandingkan promo lintas toko, mengatur waktu checkout agar cashback maksimal, bahkan menyusun daftar belanja berdasarkan kebiasaan pengguna. Lalu, mengapa langkah ini terasa besar?

Shopee bukan pemain kecil. Laporan Momentum Works mencatat Shopee menguasai 52% pasar ecommerce Asia Tenggara. Di Indonesia, data Sensor Tower menunjukkan 181 juta unduhan aplikasi retail sepanjang 2025. Pengguna juga menghabiskan 8,68 miliar jam di aplikasi retail.

Ini Belum Selesai

Kirab Pusaka di Tengah Dualisme: Tradisi atau Legitimasi?

Bank Dunia: Orang Kaya Nikmati Mayoritas Subsidi BBM

Angka itu bukan sekadar statistik. Itu mencerminkan perhatian, kebiasaan, dan pola konsumsi.

Kenapa Tren Ini Menguat?

Persaingan ecommerce makin panas. Untuk mempertahankan dominasi, Shopee perlu melompat lebih jauh dibanding kompetitor seperti Lazada, yang mendapat dukungan teknologi dari Alibaba. Bahkan Alibaba baru merilis model AI yang mereka sebut sebagai era baru agentic AI.

Di sisi lain, Google ingin membuktikan bahwa AI mereka bukan sekadar chatbot. Raksasa teknologi itu berupaya memonetisasi model AI dengan masuk ke aktivitas harian belanja, bermain game, hingga mengelola alur kerja kompleks.

Perubahan gaya hidup juga mendorong tren ini. Generasi muda terbiasa dengan rekomendasi personal, layanan instan, dan sistem yang serba cepat. Kepraktisan menjadi standar baru. Algoritma membaca pola tersebut, lalu mengoptimalkannya.

Shopee sendiri sudah agresif mengembangkan video commerce dan sebelumnya menggandeng YouTube untuk memperkuat ekosistem belanja berbasis konten. Kini levelnya naikLazada bukan hanya konten yang pintar, sistemnya pun ikut “berpikir”.

Ini Tentang Kenyamanan atau Kendali?

Di satu sisi, agentic AI menawarkan efisiensi. Waktu lebih hemat. Proses lebih ringkas. Aktivitas belanja terasa ringan.

Namun muncul pertanyaan yang lebih dalam ketika sistem mulai mengambil keputusan konsumsi, apakah pengguna masih sepenuhnya memegang kendali?

Belanja sering dipicu emosi. Stres bisa mendorong checkout. FOMO memicu pembelian impulsif. Diskon besar menggoda tanpa ampun. Jika AI memahami pola itu, sistem dapat mengoptimalkan momen terbaik untuk mendorong transaksi.

Teknologi tidak mengenal rasa bersalah. Ia hanya mengejar target yang ditetapkan.

Apabila tujuannya meningkatkan konversi, algoritma akan belajar membuat pengguna lebih sering bertransaksi.

Dampaknya Buat Kamu?

Kita sedang memasuki fase baru dari manusia yang mengoperasikan aplikasi menjadi pengguna yang diarahkan sistem.

Bagi mereka yang sibuk, inovasi ini terasa seperti solusi. Untuk pribadi yang impulsif, fitur semacam ini bisa menjadi jebakan halus.

Agentic AI memang berpotensi membuat pengalaman belanja lebih efisien. Namun otomatisasi juga dapat mengurangi ruang refleksi sebelum membeli sesuatu.

Sebelum menyerahkan keranjang belanja pada algoritma, ada satu pertanyaan sederhana yang layak dipikirkan apakah kamu siap berbagi kendali dengan mesin?

Di era AI otonom, isu terbesarnya mungkin bukan lagi soal apa yang kamu beli melainkan siapa yang sebenarnya mengambil keputusan. @teguh

Tags: algoritmaAplikasiBelanjaChatbotFomoGoogleImpulsifInstan

Kamu Melewatkan Ini

Tren Fashion 2026: Gaya Baru atau Sekadar Copy-Paste Algoritma?

Tren Fashion 2026: Gaya Baru atau Sekadar Copy-Paste Algoritma?

by Naysa
Mei 6, 2026

Tren Fashion 2026 terlihat semakin rapi, estetik, dan “niat” di permukaan. Tapi saat kamu melihatnya berulang kali, kamu mulai sadar...

Pintar Itu Banyak. Etis? Kok Jadi Minoritas?

Pintar Itu Banyak. Etis? Kok Jadi Minoritas?

by teguh
Mei 4, 2026

Di dunia digital yang penuh kebocoran data, ransomware, dan hacker kriminal, kabar ini terasa agak “nggak biasa”.Sementara itu, seorang siswa...

Bocah 14 Tahun, NASA, dan Negara yang Selalu Datang Terlambat

Bocah 14 Tahun, NASA, dan Negara yang Selalu Datang Terlambat

by teguh
Mei 4, 2026

Halaman sekolah di Subang tampak tenang seragam rapi, suara siswa, dan rutinitas yang terasa familiar. Namun siang itu, satu fakta...

Next Post
Sirkuit Phillip Island Terancam Hilang dari Kalender MotoGP

Sirkuit Phillip Island Terancam Hilang dari Kalender MotoGP

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id